
Aylin mengantar suaminya yang hendak berangkat ke kantor sampai dengan rumah.
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Aylin memastikan.
"Gimana nanti saja, sayang. Aku nanti pasti hubungi kau dulu. Kenapa memangnya?"
"Tidak, aku mau pamit ke rumah sakit sebentar buat jenguk teman. Dia mengalami kecelakaan kecil dan kakinya patah."
"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti di antar supir saja, ya. Jangan naik taksi online."
"Iya, nanti aku minta pak Juna buat antar aku. Kau tenang saja."
"Iya. Aku berangkat, ya."
"Iya." Aylin mencium punggung tangan Zico dan Zico membalasnya dengan mengusap puncak kepala istrinya.
"Hati-hati, ya."
"Iya, sayang."
Aylin melambaikan tangannya sementara Zico masuk ke dalam mobilnya. Sebelum mobil suaminya pergi, Aylin tetap berdiri di sana. Namun setelah mobil itu hilang dari jangkauan mata, barulah ia masuk ke rumah untuk bersiap-siap pergi ke rumah sakit.
***
Aylin tiba di rumah sakit. Sebelumnya ia sudah di beri tahu ruangan tempat teman nya itu di rawat. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan di bagian belokan ia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang dan nyaris membuat parsel buah yang ia bawa terjatuh.
"Ah ya ampun, saya minta maaf, saya minta maaf, saya tidak sengaja," ucap Aylin seraya menelungkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Iya, tidak apa-apa," jawab seseorang itu.
"Maaf ya, saya tidak sengaja," ucap Aylin lagi.
"Iya, aku baik-baik saja."
Aylin menatap wajah wanita yang tidak sengaja ia tabrak barusan untuk beberapa saat. Sebelum kemudian ia merutuki dirinya, kenapa ia bisa seceroboh itu sampai menabrak orang lain.
__ADS_1
"Ah ya, apa saya boleh bertanya sesuatu?"
"Iya, silahkan."
"Ruang mawar sebelah mana, ya?"
"Ruang mawar? Itu ruang rawat sebelah ruang melati, tempat ibuku di rawat juga. Kau lurus saja, nanti belok kanan, nah di sebelah kiri itu ada tulisan mawar dan melati di sana."
Aylin menganggukan kepalanya. "Iya, terima kasih sudah memberi tahu."
"Sama-sama," balas wanita itu. "Ah ya, itu ruangan sepupunya Arsa di rawat. Apa kau sepupunya juga?" tanya wanita itu kemudian.
Aylin menatap wanita di hadapannya dengan mata sedikit di sipit kan.
"Kau mengenal Arsa?"
Wanita itu menggeleng. "Tidak, aku tidak mengenalnya. Dia yang memperkenalkan diri padaku. Oleh karena itu aku jadi tahu."
Aylin mengangguk-anggukan kepalanya.
"Tidak. Kalau begitu aku permisi duluan."
"Iya, silahkan. Aku juga mau langsung ke ruang mawar."
Wanita yang tidak sengaja Aylin tabrak barusan sudah berlalu dari sana. Sementara Aylin masih mematung di tempat.
"Kenapa aku merasa seperti ada sesuatu dengan orang itu? Aneh. Padahal aku baru saja melihatnya," gumam Aylin sebelum akhirnya pergi dari sana.
"Hai, Loly .." sapaan Aylin membuat wanita yang terbaring di atas ranjang pasien dengan kaki di pasangi gips menoleh.
"Aylin ..." seru wanita itu senang.
Aylin menaruh parsel buah yang ia bawa je atas nakas samping ranjang pasien, kemudian mendaratkan tubuhnya di atas kursi yang tersedia.
"Bagaiaman keadaanmu sekarang?"
__ADS_1
"Sudah lebih baik dari kemarin. Hanya saja, kakinya masih harus di gips karena lumayan parah," jawab Loly.
"Memangnya bagaimana kejadiannya?" tanya Aylin penasaran.
"Sebenarnya salah si pengendara motor, dia menyalip dari arah kiri sampai aku terpaksa banting setir ke sebalah kanan dan nabrak pembatas jalan. Benturan di kaki dan bagian kepalanya lumayan keras. Beruntungnya aku masih sadar dan minta bantuan Arsa untuk datang ke tempat kejadian," jelas Loly.
"Ah ya ampun, ternyata cukup tragis juga, ya. Semoga kau cepat sembuh, ya."
"Aamiin ... Terima kasih sudah datang."
"Sama-sama. Ini aku bawakan buah-buahan. Jangan lupa di makan, ya."
"Iya, terima kasih, Aylin."
"Sama-sama, Loly," balas Aylin. "Ah ya, tadi aku bertemu dengan seseorang yang tidak sengaja aku tabrak di belokan lorong. Aku tanya ruang rawatmu, dan dia yang mengarahkan aku ke sini. Kebetulan kamar rawat inapmu bersebelahan dengan kamar rawat ibunya."
"Lalu?"
"Dia sempat bertanya, apa aku sepupu pasien yang di rawat di ruang mawar juga? Dia tahu karena Arsa sebelumnya mengenalkan diri padanya."
"Arsa? Memperkenalkan diri pada wanita yang tidak sengaja kau tabrak barusan?"
Aylin mengangguk membenarkan.
"Jangan heran lagi, dia kan buaya. Suster yang tadi mengantar sarapanku saja dia godain, apalagi jika bertemu wanita."
"Benarkah?"
"Iya, jadi jangan terkejut. Dia memang begitu."
"Tapi aku baru tahu dia seperti itu."
"Karena kau tidak pernah dia goda sebab kau sudah punya suami yaitu Zico. Jika belum menikah, kau pasti akan jadi mangsa buaya itu."
"Hahaha..." Aylin tertawa mendengar cerita Loly tentang Arsa, terlebih saat Loly menceritakan Arsa yang pernah di gampar pria yang merupakan suami dari perempuan yang dia goda.
__ADS_1
_Bersambung_