Sang Rahim Bayaran

Sang Rahim Bayaran
Kabar Duka


__ADS_3

Sekujur tubuh Naima lemas begitu ia tiba di rumah sakit dan mendapat kabar jika ibunya telah meninggal. Ia jatuh merosot ke lantai lantaran lututnya sudah tidak kuat lagi menopang beban tubuhnya sendiri.


Zico berusaha membangkitkan Naima, namun wanita itu menepis tangannya.


Air mata Naima mengalir dengan begitu deras. Bagaimana tidak, semua yang ia lakukan serasa sia-sia. Ibunya menghembuskan napas terakhir sementara ia tidak berada di sampingnya.


Baik Naima maupun Zico belum mengetahui dengan pasti apa penyebab ibunya Naima meninggal. Namun begitu seseorang yang ia perintahkan untuk selalu memantau dan stay di dekat rumah bu Maya memberikan sebuah amplop panjang berwarna putih dan begitu Zico buka isinya ternyata surat perjanjian dan hasil tes kehamilan, membuat Naima semakin hancur. Karena ternyata penyebab kematian sang ibu adalah perbuatannya sendiri.


"Saya menemukan kertas itu di dekat bu Maya pada saat beliau tidak sadarkan diri. Sebelum itu, saya mendengar bu Maya mengatakan kata tidak berulang kali sampai akhirnya saya tidak mendengar suaranya lagi. Begitu saya mencoba untuk memeriksa ke dalam rumah, takut terjadi sesuatu, ternyata bu Maya sudah tidak sadarkan diri dan terdapat kertas itu di dekatnya. Mungkin kertas itu yang menjadi penyebab bu Maya serangan jantung sampai akhirnya meninggal."


Dada Naima terasa sesak mendengar penjelasan orang yang selama ini di perintahkan oleh Zico untuk selalu mengawasi ibunya.


"Jadi ibu meninggalkan karena aku. Ibu meninggal karena aku. Aku yang membuat ibu meninggal." ucap Naima di antara isak tangisnya.

__ADS_1


Naima sangat terpukul dengan hal ini. Apa yang selama ini lakukan demi kesehatan sang ibu, justru malah menjadi sebuah malapetaka baginya. Bukannya sehat, sang ibu justru meninggal.


"Dan akhirnya yang aku lakukan ini semua sia-sia. Aku tidak hanya kehilangan ibu, aku juga harus kehilangan anakku nanti."


Air mata Naima kian memderas.


"Huaaaa ... Semua ini salahku .. Salahku ..."


Naima memukuli perutnya sendiri. Ia merasa sudah salah dalam mengambil langkah hidup yang berujung kematian sang ibu.


"Naima, hentikan, Naima! Kau tidak hanya menyakiti dirimu, kau juga menyakiti anak di dalam rahimmu."


"Tapi gara-gara hal ini, aku jadi kehilangan ibuku, Zico. Ini semua salahku. Aku yang terlalu cepat mengambil keputusan, tidak memikirkan resikonya. Aku tidak hanya akan kehilangan anakku, tapi aku juga sudah kehilangan ibuku." seru Naima.

__ADS_1


"Tenang, Naima. Tenang. Jangan seperti ini."


Zico membawa tubuh Naima ke dalam pelukan. Meski Naima terus meronta, ia dengan erat menahan tubuh Naima agar tidak terlepas dari pelukannya.


Sampai akhirnya Naima pun pasrah dalam pelukan Zico. Tangis nya tidak kunjung berhenti. Ia benar-benar di selimuti oleh sebuah penyesalan.


"Tenang, ya. Jangan seperti ini. Ada aku."


Zico membelai lembut rambut Naima. Ia tidak tega melihat Naima sehancur ini. Ia juga pernah berada di posisi Naima. Saat mama dan papanya meninggal secara bersamaan dalam sebuah kecelakaan.


"Ini salah aku, Zico. Ini salah aku .." ucap Naima dengan suara yang gemetar.


"Syutt ... Jangan katakan itu lagi. Sekarang kau tenang dulu, ya. Jangan menyalahkan diri sendiri. Semua ini sudah terjadi dan ini bagian dari takdir. Sama halnya seperti pertemuan kita, ini adalah bagian dari takdir yang tidak bisa di sesali."

__ADS_1


Zico semakin mengeratkan pelukannya. Berusaha menyalurkan kekuatan pada Naila lewat itu. Sesekali ia juga mencium puncak kepala wanita itu.


_Bersambung_


__ADS_2