
Usai membeli tes untuk kehamilan, Naima memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Ia sudah tidak sabar untuk segera menggunakan tes kehamilan tersebut. Selain itu, kepalanya juga tiba-tiba merasa pusing dan mual nya terus berlanjut.
Begitu tes tersebut di gunakan dan ia menunggu selama tiga sampai lima menit, ia tercengang dengan hasilnya. Naima sontak membungkam mulutnya dan beralih menatap perut datarnya.
"Aku hamil ..." ucapnya dengan suara yang terdengar bergetar.
Naima kembali memandang hasil tes tersebut yang menunjukan dia garis berwarna merah, menandakan jika ia positif hamil.
"Aku harus simpan benda ini, sebagai tanda bukti jika aku memenuhi perjanjian yang aku dan Zico sepakati. Di mulai dari sekarang dan sembilan bulan berikutnya, setelah itu aku akan bebas dari hubungan ini."
Naima menggenggam hasil tes tersebut erat-erat. Di sisi lain ia merasa bahagia, lantaran ia bisa memenuhi perjanjian dengan Zico, di sisi lain ia merasa sedih, lantaran ia harus memiliki sang buah hati dalam situasi dan kondisi seperti ini. Ia harus kehilangan buah hatinya setelah sembilan bulan nanti.
Naima mengelus perut datarnya dan kedua matanya mulai memupuk cairan putih bening yang siap turun kapan saja.
"Maafkan ibu ya, nak. Setelah kau lahir nanti, kau akan tumbuh bersama orang lain," ucap Naima di akhiri dengan setetes air mata yang terjatuh di kedua pipinya.
__ADS_1
"Ibu hanya bisa bersamamu selama kau berada di kandungan ibu saja. Ibu janji, ibu akan menjagamu semampu ibu, sampai kau lahir ke dunia nanti. Sehat-sehat di dalam rahim ibu ya, sayang."
Setitik air mata itu kini menjadi deras, rasanya ia jadi tidak sanggup berpisah dengan buah hatinya sendiri. Tapi kehamilannya ini sudah menjadi sebuah kesepakatan dalam perjanjian, ia tidak boleh melibatkan rasa dalam hubungan ini. Ia harus menjadi ibu yang tega memberikan anaknya pada wanita lain, meski anaknya akan di ambil oleh ayah dari anak itu sendiri.
Di tempat lain, Zico tengah duduk di ruangan kerja di kantornya. Tiba-tiba ia kepikiran dengan Naima usai mendapat telepon dari pihak rumah sakit yang meminta tambahan biaya pengobatan bu Maya. Apabila Naima hamil dalam waktu dekat, itu artinya ia tidak perlu membuang banyak waktu mengenai hubungannya dengan Naima.
"Kalau Naima hamil, itu artinya aku harus lebih banyak waktu dengannya. Aku tidak mungkin membiarkan dia sendiri di masa kehamilannya. Ini semua demi calon anakku juga. Aku ingin memastikan jika calon anakku tumbuh dengan sehat. Aku harus menemui Naima nanti sore untuk memastikan apa dia sudah hamil atau belum."
Suara dering panggilan masuk menarik paksa pria itu keluar dari segala pemikirannya. Begitu melirik layar ponselnya yang tergeletak di samping laptop atas meja, tertera nama istrinya.
"Halo, sayang," ucap Zico begitu sambungan telepon terhubung.
"Halo, sayang. Hari ini pekerjaannya padat tidak?" seru Aylin dari sebrang telepon.
"Memangnya kenapa, sayang?" Zico balik bertanya.
__ADS_1
"Ah tidak. Aku hanya ingin memastikan saja. Aku mau pergi ke acara pernikahan teman aku, sayang. Kau bisa pulang lebih awal kan?" pinta Aylin penuh harap.
Zico terdiam sejenak. Itu artinya ia harus menunda pertemuan nya dengan Naima. Sebab Aylin lebih penting dari apapun, termasuk Naima yang merupakan istrinya juga.
"Iya, sayang. Nanti aku pulang lebih awal. Kebetulan pekerjaanku tidak padat hari ini. Satu jam setelah makan siang, aku pulang."
"Terima kasih, suamiku. Ya sudah, kalau begitu semangat kerjanya, ya."
"Iya. Jangan sampai melewatkan makan siangmu di rumah."
"Iya. See you, baby .."
"See you to .."
Sambungan telepon pun berakhir. Zico meletakan kembali ponselnya di tempat semula. Ia menyandarkan punggungnya di sofa tempat ia saat ini duduk. Memejamkan matanya sebentar. Aylin selalu semanis ini padanya, dan selama mengarungi bahtera rumah tangga dengannya, ia tidak pernah ada masalah. Semoga saja hubungannya dengan Naima tidak membuat dirinya bermasalah dengan Aylin. Semoga saja.
__ADS_1
_Bersambung_