Sang Rahim Bayaran

Sang Rahim Bayaran
Terungkap


__ADS_3

Sudah hampir tiga bulan Naima pergi untuk urusan hutangnya. Dan selama itu, Naima baru pulang dua kali. Sekali pulang, Naima hanya bisa bermalam di rumah selama tiga malam. Setelah itu putrinya harus pergi lagi.


Bu Maya duduk di tepi ranjang tempat tidur di kamarnya. Ia sangat bersyukur bisa di beri kesembuhan dan bisa sehat lagi seperti dulu. Namun di balik itu semua, ada pengorbanan putrinya yang sangat besar.


"Naima bilang dia hanya bekerja untuk sepuluh bulan saja. Itu artinya masih tersisa tujuh bulan lagi. Semoga dia baik-baik saja di sana, di beri kesehatan dan kelancaran. Agar Naima bisa kembali berkumpul di sini."


Bu Maya menghembuskan napas berat. Selama tidak ada Naima, ia yang harus berjualan kue keliling sekitar tetangga dekat. Setiap hari kue nya laku keras, lantaran rasa nya yang cukup enak tidak membuat pembeli merasa bosan.


Mengingat Naima, bu Maya ingin sekali pergi ke kamar putrinya. Entah kenapa, mendadak ingin ke kamar tersebut. Ia bergegas bangun dari duduknya dan melipir keluar kamar nya.


Begitu pintu kamar Naima di buka, seulas senyum terbit dari kedua sudut bibirnya. Kamar Naima tampak rapi. Bu Maya melangkah masuk ke kamar tersebut dan duduk di tepi ranjang.


Bu Maya merrabba tempat tidur yang saat ini ia duduki.


"Biasanya tempat tidur ini selalu di isi oleh pemiliknya, tapi sekarang kosong. Semoga kau cepat kembali, nak." ucap bu Maya.


Wanita paruh baya itu melihat ada benda milik putrinya di bawah laci yang terdapat di samping ranjang tempat tidur. Bu Maya lekas memungutnya dan berniat memasukan benda tersebut ke dalam laci.


"Ini mainanmu saat masih kecil, nak. Ternyata kau masih menyimpannya. Ibu tidak ingin kau kehilangan benda berharga yang ayahmu berikan saat dia masih hidup."


Bu Maya membuka laci paling bawah. Senyumnya seketika memudar begitu ia melihat sebuah amplop panjang berwarna putih di sana. Karena penasaran, ia ambil amplop tersebut dan terdapat selembar kertas berisi perjanjian.

__ADS_1


"Surat perjanjian?" pikirnya.


Perasaannya mulai berubah tidak enak, begitu surat tersebut di baca, kedua bola matanya membulat sempurna.


Surat tersebut berisi perjanjian yang menjadi kesepakatan di antara Naima dan Zico yang sudah di tanda tangani di atas materai.


Bu Maya menggeleng kuat. "Tidak, ini tidak mungkin. Naima tidak mungkin melakukan semua ini. Naima tidak mungkin membohongi ibunya sendiri."


Bu Maya berusaha menepis pikiran buruk yang kini bertebaran di kepalanya. Sampai manik matanya tertuju pada hasil tes kehamilan di laci tersebut.


Dengan tangan gemetar, bu Maya mengambil hasil tes kehamilan itu. Begitu ia melihat dia garis merah di sana, air mata yang semula membendung tumpah seketika.


Saking shock nya, pandangan bu Maya seketika merasa kabur. Menghitam dan terasa gelap. Wanita paruh baya itu terkulas lemas jatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri.


Tepat pukul sepuluh malam, Zico mendapat kabar dari orang yang ia perintahkan untuk memantau keadaan ibunya Naima. Orang itu memberi tahu jika bu Maya saat ini sedang di larikan ke rumah sakit lantaran tidak sadarkan diri.


Zico refleks menoleh ke arah Naima yang berbaring di sisinya. Wanita itu menatap dirinya penuh tanya saat ekspresi wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat.


Naima bangun dan menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.


"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Naima.

__ADS_1


Zico bingung harus memberi tahu Naima atau tidak. Ia khawatir mood Naima memburuk dan itu pastinya berpengaruh besar pada kehamilan nya. Tapi jika ia sembunyikan hal itu, Naima pasti akan marah bahkan kecewa padanya. Apalagi jika ada sesuatu buruk terjadi.


"Zico, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" ulang Naima, berharap pria itu memberi tahunya lantaran perasaannya sudah berubah tidak enak.


"Ikut aku sekarang!" Zico turun dari tempat tidurnya dan kalimat tersebut membuat Naima bertanya-tanya.


"Ikut kemana? Memangnya ada apa? Apa yang terjadi, Zico? Tolong katakan padaku ada apa ini?"


"Sudah, ikut saja. Jangan lupa pakai jaket, aku tunggu di mobil."


Zico melipir ergi keluar kamar, meninggalkan sejuta pertanyaan di kepala Naima.


"Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?"


Naima hendak mengambil jaket di lemari, namun langkahnya terhenti begitu pikirannya tertuju pada sang ibu.


"Ibu ..." ucapnya lirih.


"Apa terjadi sesuatu pada ibu?" pikir nya.


Tanpa membuang banyak waktu lama lagi, Naima mengambil jaket di lemari dan bergegas menyusul langkah Zico yang sudah menunggunya di mobil.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2