
Setelah satu kali dua puluh empat jam Naima dan bayinya sudah bisa pulang. Zico mengantar Naima ke rumah almarhum bu Maya lantaran Naima sendiri yang minta.
"Naima, aku harus segera membawa bayi ini," ucap Zico meski terasa sangat berat.
Naima menghembuskan napas mencoba untuk kuat, tegar dan ikhlas.
"Iya. Akhiri juga hubungan kita sekarang. Agar semuanya benar-benar selesai," pinta Naima namun Zico menolak.
"Tidak, aku tidak akan mengakhiri nya sekarang."
"Kenapa?"
"Aku rasa ini bukan waktu yang tepat," jawab pria itu padahal ia berat untuk melepas Naima.
"Akhiri saja, Zico. Aku tidak apa-apa," pinta Naima sedikit memaksa, ia tidak ingin terus menerus menjalin hubungan yang membuat ia terluka.
"Tidak, Naima. Aku tidak ingin membuatmu terluka di hari yang sama dengan menjadikan putrimu milik Aylin."
__ADS_1
"Tapi aku akan lebih terluka jika kau menggantungkan hubungan ini, Zico. Cepat akhiri hubungan di antara kita agar aku bisa lebih tenang."
"Aku tidak akan melakukannya, Naima. Maaf, aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik, aku janji aku segera kembali menemuimu."
Zico melipir keluar dari kamar Naima dengan membawa bayinya. Air mata yang sejak tadi sudah mengalir kini kian menderas. Naima merasa dadanya sesak dan perih di bagian rongga-rongga nya.
Kenapa harus sesakit ini? Dan yang lebih sakitnya ia tidak dapat melakukan apapun. Ia hanya bisa berharap untuk kebaikan putrinya selama jauh darinya.
***
Mobil pria itu sudah memasuki halaman rumah. Ia lekas turun dari mobil dan mengambil baby Ziana yang ia letakan di jok bagian depan samping kemudi yang sudah ia pasang alat pengaman khusus.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah dengan membawa binar bahagia yang terpancar di wajahnya. Ia mencari soso Aylin di ruang tengah, ruang televisi, kemudian ke kamar. Ternyata sosok wanita yang ia cari-cari itu tengah duduk di tepi ranjang tempat tidur dalam keadaan menunduk.
"Sayang ..." panggil Zico kemudian bergegas menghampiri istrinya.
"Sayang coba lihat aku bawa apa?" Zico memperlihatkan baby Ziana pada Aylin, namun wanita itu tidak kunjung mendongakan kepalanya.
__ADS_1
"Sayang, aku bawa bayi yang aku adopsi di panti asuhan Mutiara Ibu dan bayi sekarang jadi milik kita. Lihat, bayi nya berjenis kelamin perempuan dan dia manis sekali." Zico memberi tahu Aylin dengan penuh semangat.
Aylin sama sekali tidak merespon, hal itu membuat Zico merasa ada yang aneh.
"Sayang ... Kau kenapa? Sayang ..." Zico mencoba untuk menyentuh bahu istrinya, namun wanita itu dengan cepat menepis tangannya.
"Jangan sentuh aku lagi, Zico," seru Aylin dengan air mata yang terurai di pipinya.
Zico tentu saja tercengang melihat perubahan sikap Aylin yang tiba-tiba.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Zico memastikan tidak ada sesuatu yang terjadi pada wanita kesayangannya.
"Tega kau, Zico. Tega sekali kau berkhianat di belakang aku selama ini!" seru Aylin membuat wajah Zico menegang seketika.
"Kenapa, Zico? Kenapa kau bisa melakukan hal itu, hah? Kenapa? Kau bilang kau suami yang setia dan mau menerima kekurangan aku sebagai istrimu. Tapi di belakang ternyata kau menikahi wanita sempurna yang bisa memberikan apa yang tidak bisa aku berikan. Sakit, Zico. Sakiittt ..." Aylin menepuk dadanya cukup keras seolah sedang memberi tahu jika di dalam dadanya sedang terluka hebat.
_Bersambung_
__ADS_1