
Saat ini Zico sedang menyuapi Naima. Lantaran wanita itu harus minum vitamin yang berikan oleh Dokter tadi. Sambil menyuapi, Zico menceritakan kisah hidupnya semasa kecil.
"Mamaku juga orang baik. Dia wanita yang sangat luar biasa. Dia wanita yang hebat. Dia mau melakukan apapun untuk diriku. Dia wanita yang sangat sabar. Katanya, saat usiaku masih dua tahun. Aku pernah membuang air kecil pada mama saat dia sedang terlelap. Mama tidak marah, dia cukup memberiku nasehat jika itu hal tidak baik."
"Suatu hari, saat usiaku tujuh tahun. Mama membawaku ke pasar tradisional dan aku sempat tertinggal langkahnya. Saat itu aku melihat dua orang yang menakutkan. Aku bersembunyi di tong sampah karena aku pikir dua orang itu adalah penculik. Terus bajuku bau busuk dan semua orang merasa mual begitu berjalan melewati ku."
Zico banyak bercerita tentang kehidupannya pada saat ia masih kecil. Dan tanpa ia sadari, seulas senyum terbit di kedua sudut bibir Naima. Wanita itu merasa terhibur, apalagi saat Zico menceritakan bagian kisahnya yang lucu.
"Kau sudah bisa tersenyum?"
Naima mengangguk. "Terima kasih sudah membuatku terhibur dengan kisah masa kecilmu yang terdengar membahagiakan."
__ADS_1
"Iya. Tapi sayangnya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tepat di usiaku yang ke sepuluh tahun, kedua orang tuaku meninggal secara bersamaan dalam sebuah kecelakaan. Dan hari itu sangat kacau pada saat itu. Aku merasa sangat hancur. Apalagi setelah itu aku harus tinggal di rumah adik ibuku yang tidak begitu menyukaiku. Dia terpaksa mengurus ku karena aku tidak mempunyai keluarga lain di sini. Meski begitu, aku tidak pernah membenci bibiku karena berkat dia aku masih bisa hidup sampai sekarang. Jika bukan karenanya, mungkin aku sudah menjadi anak gelandangan."
Zico menengadah ke atas berusaha menahan air matanya yang nyaris jatuh. Ia tidak ingin terlihat cengeng sebagai seorang pria meski itu tentang hal yang membuatnya selalu merasa sakit begitu mengingatnya.
Naima merasa terharu. Ternyata pria yang ia pikir terlahir dari keluarga kaya yang memiliki banyak harta dan merupakan seorang pewaris dan nyaris mendekati kata sempurna itu memiliki masalalu yang cukup menyakitkan juga. Dan itu tentang keluarga.
"Aku tidak menyangka jika kau memiliki luka sedalam itu tentang keluarga. Aku melihat selama ini kau baik-baik saja," ucap Naima.
Mendengar kalimat penuturan Zico setidaknya membuat Naima sadar, jika ia juga harus segera bangkit. Tapi tidak bisa ia pungkiri jika ia masih berduka.
"Sudah habis makanannya. Sekarang kau makan dulu vitaminnya setelah itu lekas istirahat."
__ADS_1
Zico menaruh piring yang tadi terisi nasi dan sayuran dan kini telah habis ke atas nakas samping ranjang tempat tidur. Setelah itu memberikan vitamin dan segelas air putih pada Naima.
Usai meminum vitamin tersebut, Zico membantu Naima untuk berbaring. Ia mengambil bantal yang tadi ia tumpuk untuk di jadikan sandaran wanita itu. Kemudian menyelimuti setengah badan Naima.
"Tidur, ya. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan tetap di sini untuk menjagamu."
Naima mengangguk. "Iya."
Kedua mata Naima terpejam. Zico menggenggam satu tangan Naima dan sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari wanita itu sampai dia benar-benar tertidur.
"Enam bulan lagi. Hanya enam bulan lagi, Zico. Setelah itu semuanya akan selesai," batin pria itu.
__ADS_1
_Bersambung_