Sang Rahim Bayaran

Sang Rahim Bayaran
Rumah Baru


__ADS_3

Hari demi hari Naima telah Naima lewati dengan suka duka selama di rumah sakit. Dan akhirnya kini sang ibu sudah di perbolehkan untuk pulang usai di nyatakan sembuh dan bebas dari penyakit yang selama ini beliau derita.


Tiga hari berikutnya, Naima meminta izin pada sang ibu untuk segera pergi untuk bekerja di perusahaan yang sebelumnya sudah ia ceritakan. Meski berat, bu Maya pun mengizinkannya.


"Ibu sehat-sehat ya di sini, aku janji satu bulan sekali aku pasti akan pulang," ucap Naima di sertai isak tangis, ia masih tidak sanggup untuk meninggalkan ibunya di rumah sendirian, meski sang ibu sudah sehat.


"Iya. Pergilah, nak. Ibu tidak apa-apa sendiri di sini. Jaga diri baik-baik selama di luaran sana ya, sayang. Terima kasih atas pengorbananmu untuk ibu selama ini." Ibu Maya mengusapi punggung dan sesekali menghapus air mata di kedua pipi putrinya.


Naima mengangguk. Berat sekali meninggalkan sang ibu dalam keadaan baru saja sembuh dari penyakitnya. Tapi harus bagaimana lagi, ia harus pergi. Bukan pergi untuk bekerja, melainkan untuk menghindar agar sang ibu tidak mengetahui perkembangan perutnya yang semakin hari akan semakin membesar. Zico juga sudah menyiapkan tempat khusus untuknya.


Setelah puas berpamitan, Naima melangkah menuju mobil berwarna hitam yang sudah terparkir di halaman rumah. Yang ibunya tahu, mobil tersebut merupakan supir pribadi seseorang yang akan menjadi bos di tempat nanti Naima bekerja, seperti yang Naima katakan. Padahal itu orang suruhan Zico yang sebelumnya sudah di beri perintah.


Naima masuk ke dalam mobil itu usai di bantu sang supir memasukan barang-barangnya ke dalam bagasi. Mobil itupun mulai pergi meninggalkan halaman rumah serta perasaan sedih yang mendalam.


Bu Maya menghapus air mata di pipinya, ia harus bisa mengikhlaskan kepergian Naima. Yang putrinya lakukan itu semua semata demi dirinya.


Sementara di perjalanan, Naima pun tak henti-hentinya menangis. Air matanya terus saja luruh, tidak memperdulikan sang supir yang sedari tadi memperhatikan dirinya lewat kaca spion yang menggantung.


Maafkan aku, ibu. Aku hanya pergi selama sepuluh bulan. Setelah itu, aku janji tidak akan pernah lagi meninggalkan ibu.


Naima menyandarkan kepalanya pada kaca samping, tatapannya sendu. Sampai akhirnya merasa ngantuk dan ketiduran.


***


"Nona, bangun. Kita sudah sampai."

__ADS_1


Tepukan di bahu membuat Naima terbangun dan matanya terbuka sempurna. Ia baru sadar jika ia ketiduran.


"Kita sudah sampai, nona," ulang seseorang yang sedari tadi berusaha membangunkan dirinya.


"Iya, maaf, maaf. Aku ketiduran," ucap Naima seraya mengusap kedua matanya.


Ia segera turun melalui pintu yang sebelumnya sudah supir itu buka. Begitu turun dari mobil, pandangannya langsung tertuju pada rumah sederhana yang tampak asri dan sejuk. Naima menatap sekeliling dengan perasaan takjub.


"Ini rumah yang akan kau tinggali." Kalimat seseorang yang suaranya tidak lagi asing membuat Naima menoleh, seorang pria tengah berjalan ke arahnya.


"Zico, tapi ini terlalu bagus untukku," protes Naima meski sejujurnya ia sangat menyukainya.


Zico tidak langsung membalas ucapan Naima, pria itu memberi sebuah kode pada pria yang ia jadikan untuk supir Naima barusan untuk segera pergi dari sana usai menurunkan barang-barang Naima dan membawanya ke dalam rumah tersebut.


Supir itu mengangguk paham akan maksud Zico. Dia segera pergi dari sana bersama mobilnya.


"Tadinya aku ingin membawamu untuk tinggal di Apartemen. Tapi aku rasa kau tidak akan nyaman tinggal di sana. Kau terbiasa hidup di alam terbuka. Oleh karena itu aku membeli rumah ini. Sepertinya ini cocok untuk tempat tinggalmu. Aku yakin kau pasti akan nyaman tinggal di sini. Bagaimana, kau menyukainya kan?"


Naima mengangguk. Ia tidak bisa berbohong soal itu. Masalahnya itu terlalu besar untuk dirinya yang akan tinggal seorang diri.


"Apa tidak ada ukuran rumah yang lebih kecil lagi dari ini? Aku akan tinggal seorang diri."


"Rumah ini akan di huni oleh tiga orang," ralat Zico.


Naima mengerutkan keningnya. "Bertiga?"

__ADS_1


"Ya, bertiga. Aku, kau dan anak ini." Zico menyentuh bagian perut Naima.


Wanita itu membulatkan matanya. "Apa maksudmu?" seru Naima tidak paham.


"Selama kau hamil, aku akan lebih banyak menghabiskan waktu ku denganmu ketimbang Aylin," jawab pria itu.


"Lalu bagaimana dengannya?"


"Kau tidak usah pikirkan hal itu. Itu akan menjadi tugas aku."


"Tapi-"


Kalimat Naima terpotong begitu Zico memegang kedua sisi bahunya dan pria itu menatapnya dalam jarak yang sangat dekat.


"Jangan pikirkan apapun selain dirimu dan anak yang ada di dalam kandunganmu. Aku janji, aku akan berusaha membuatmu senang. Aku tidak ingin kau sampai stress karena itu akan berpengaruh besar pada kehamilanmu dan aku tidak ingin sesuatu buruk terjadi. Paham?!"


Naima mengangguk kaku. Napasnya sempat tertahan. Zico menatapnya dengan tatapan tidak seperti biasanya.


"Bisa tolong sedikit menjauh dariku? Aku butuh oksigen," pinta Naima dan itu membuat Zico mengangkat sebelah sudut bibirnya merasa lucu.


Zico pun melepaskan bahu wanita itu dan mundur selangkah dari sana. Naima memejamkan kedua matanya dengan menghela napas lega, akhirnya ia bisa kembali menghirup udara segar setelah beberapa saat tertahan. Zico sampai geleng-geleng melihatnya.


"Mau cek rumahnya sekarang?" tawar pria itu di angguki oleh Naima.


"Iya."

__ADS_1


"Ayo." Zico menarik pergelangan tangan Naima dan hal itu lagi-lagi membuat jantung Naima tidak aman.


_Bersambung_


__ADS_2