Sang Rahim Bayaran

Sang Rahim Bayaran
Mempertanyakan Kembali


__ADS_3

Pagi ini Naima menyuapi bubur sarapan ibunya. Ia sangat bersyukur sekali, lantaran kondisi ibunya sudah lebih baik dari sebelumnya.


Sedari tadi, bu Maya memperhatikan wajah putrinya. Ia merasa putrinya menutupi sesuatu darinya. Tapi apa?


"Naima .." panggil bu Maya dengan suara yang masih terdengar gemetar.


Naima mendongakan wajahnya menatap sang ibu. "Iya, bu?"


"Ibu ingin pulang saja," pinta wanita paruh baya itu tiba-tiba.


"Pulang? Ibu belum bisa pulang, bu. Ibu masih harus di rawat di sini. Setelah ibu sembuh, ibu baru bisa pulang. Ibu sabar dulu, ya. Aku ingin ibu sembuh, aku ingin ibu sehat seperti dulu."


"Dari mana kau mendapatkan uang sebanyak itu untuk merawat ibu di sini, Naima? Biaya pengobatan ibu pasti tidak sedikit, kau dapat uang dari mana?"


Lagi-lagi bu Maya menanyakan sesuatu yang membuat Naima tidak bisa menjawabnya.


"Aku sudah bilang pada ibu, jangan pikirkan hal itu. Pikirkan saja kesehatan ibu," jawab Naima berusaha mengalihkan.


"Bagaimana ibu bisa tenang dan tidak kepikiran, Naima? Kau saja tidak mau memberi tahu ibu dari mana kau dapatkan uang untuk pengobatan ibu. Tolong beri tahu ibu, agar ibu tidak berpikiran yang macam-macam, nak. Tolong jangan tutupi apapun dari ibu. Jujur pada ibu, ya. Ibu mohon, ibu hanya butuh kejujuran," ucap wanita itu membuat Naima bingung harus memberi alasan apa lagi.


"Ibu-"

__ADS_1


"Dan tolong beri tahu ibu, siapa pria yang datang ke rumah membawa ibu ke rumah sakit ini? Apa ini semua ada hubungannya dengan dia?"


Naima merasa tersudutkan. Ia berusaha keras untuk mengalihkan pertanyaan sang ibu, namun wanita paruh baya itu malah mencecarnya.


"Aku akan mengakuinya pada ibu, tapi aku harap ibu percaya padaku. Aku ingin ibu tidak lagi membahas apalagi bertanya-tanya hal lain lagi padaku." Naima mengajukan persyaratan.


"Ibu berhak tahu apapun tentangmu, Naima. Seharusnya tanpa ibu tanya, kau sebagai putri ibu mau terbuka."


Lagi-lagi Naima di buat bungkam. Kepalanya sibuk menyusun jawaban agar ibunya percaya padanya. Ia tidak ingin membuat ibunya kecewa, apalagi sampai membuat kesehatan ibunya menurun. Ia akan berusaha tutupi hal ini rapat-rapat. Ia berharap sebelum perutnya membesar, ibunya sudah sembuh total, agar ia bisa pergi selama beberapa bulan sampai ia melahirkan.


"Pria yang datang ke rumah dan membawa ke rumah sakit itu namanya Zico. Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja. Dia seorang bos besar di sebuah perusahaan. Dia sedang butuh karyawan dan menawari ku sebuah pekerjaan," terang Naima.


"Setelah itu, aku mencoba untuk meminjam uang padanya. Dan setelah ibu sehat nanti, aku harus kerja di perusahaannya agar bisa membayar hutang yang saat ini aku pakai untuk pengobatan ibu. Jadi sekarang ibu tidak boleh berpikiran hal-hal lain lagi, ya. Ibu percaya kan padaku?" imbuh Naima.


"Ibu, ibu kenapa menatapku seperti itu? Apa ibu sudah tidak percaya putrimu ini?"


"Yakin hanya itu?" tanya bu Maya ragu.


Naima mengangguk. "Aku jujur pada ibu. Kenapa ibu tidak mempercayaiku?"


"Ibu bukan tidak percaya padamu, Naima. Hanya saja ibu merasa aneh. Memangnya ada orang di dunia ini yang begitu mudahnya meminjamkan uang dengan nominal yang tidak sedikit pada orang yang tidak di kenal tanpa jaminan tertentu."

__ADS_1


Wajah Naima menegang, iris matanya hampir melebar. Namun ia berusaha menutupi hal itu dengan berusaha tenang agar ibunya tidak curiga padanya.


"Ibu berkata apa? Jaminan apa maksudnya?"


"Dia bukan orang sembarang, Naima. Ibu hanya takut kau di manfaatkan olehnya. Dan yang paling ibu khawatirkan, dia akan meminta hidupmu sebagai balasan atas kebaikannya."


"Ibu, sudah cukup. Ibu terlalu jauh berpikirnya. Sudah, ya. Jangan bahas itu lagi, aku sudah katakan yang sebenarnya pada ibu. Sekarang ibu minum obat lalu ibu tidur istirahat. Aku ingin ibu sembuh."


Naima meletakan mangkuk buburnya dan mengambil obat di atas nampan. Ia berikan beberapa macam obat pada sang ibu dengan segelas air putih.


Bu Maya menerima obat tersebut dan langsung meminumnya bersamaan dengan air putih guna mendorong obatnya. Setelah itu membenarkan posisi tidurnya ke posisi yang lebih nyaman. Naima menyelimuti sang ibu dengan selimut yang tadi hanya sebatas kaki saja.


"Ibu tidur, istirahat ya. Aku mau keluar sebentar, sarapan ke kantin. Ibu tidak apa-apa kan aku tinggal?" pamit Naima.


Bu Maya mengangguk.


"Ya sudah, kalau begitu aku tinggal, ya. Jangan pikirkan apapun, ibu harus istirahat."


Naima beranjak dari sana, meninggalkan sang ibu yang kepalanya masih di penuhi oleh tanda tanya besar.


Ibu harap kau tidak melakukan sesuatu yang mengancam hidupmu, nak. Batin bu Maya.

__ADS_1


Beliau menatap ke arah perginya Naima, sebelum kemudian matanya terpejam oleh efek obat yang membuatnya mengantuk.


_Bersambung_


__ADS_2