
Pagi harinya, Zico tidak menemukan Naima di tempat tidur. Wanita itu sudah tidak ada padahal waktu masih pagi sekali.
Harum semerbak masakan yang menusuk hidung membuatnya berpikir mungkin Naima sudah bangun dan sedang memasak di dapur.
"Jam segini dia sudah di dapur dan sedang masak. Dia bangun jam berapa?"
Zico melirik jam di ponselnya, waktu baru saja menunjukkan jam lima pagi dan Naima sudah memasak?
Zico bergegas bangun dan menyusul Naima ke dapur. Harum masakan itu seolah tidak asing di indra penciuman nya.
"Sepagi ini sudah masak?"
Pertanyaan Zico membuat Naima menoleh. Wanita itu mengulas senyum kecil di sertai anggukan.
"Iya, aku sudah terbiasa bangun subuh."
Jawaban Naima mengingatkannya jika wanita itu berasal dari desa. Mungkin memang seperti itu rutinitas nya.
Perhatian Zico teralih pada panci yang Naima gunakan untuk memasak.
"Masak apa?" tanya pria itu kemudian, seperti tidak asing dengan aroma masakannya.
"Opor ayam," jawab Naima.
__ADS_1
Iris mata Zico seketika melebar. Masakan pertama kali yang akan Naima hidangkan untuknya merupakan menu makanan kesukaannya. Apa ada yang memberi tahu Naima apa ini hanya sebuah kebetulan?
"Kau tahu ini masakan kesukaan ku?"
"Oh yah? Bahkan aku baru tahu."
"Sungguh?"
"Ya. Apa aku pernah bertanya apa masakan kesukaanmu?"
Zico menggeleng. "Tidak."
"Berarti ini hanya kebetulan." jawab Naima lalu kembali mengaduk opor ayam nya.
Zico tertegun. Apa ini hanya kebetulan atau memang ... Zico langsung menepis pemikirannya. Mungkin ini memang hanya sebuah kebetulan seperti yang di katakan oleh Naima barusan.
"Ini sudah cukup?" tanya Naima begitu mengambilkan nasi ke piring Zico.
Pria itu mengangguk. "Iya, cukup."
Naima lekas mengambilkan opor ayamnya.
"Cukup, cukup." kata Zico.
__ADS_1
Naima pun tidak lagi mengambilkan untuk Zico, kini ia mengambil nasi dan opor ayam untuk dirinya.
Sebelum memulai sarapan dengan opor ayam tersebut, mereka memulainya dengan do'a. Setelah itu barulah Zico menyendok makannya dan satu suapan berhasil lolos ke dalam mulutnya.
Begitu masuk mulut, Zico spontan menatap ke arah Naima. Tidak bisa di pungkiri, ternyata opor ayam buatan Naima sangat enak. Namun ia tidak bisa membandingkan dengan opor ayam buatan Aylin. Sebab keduanya sama-sama enak.
"Bagaimana, enak?" tanya Naima memastikan dan mendapat anggukan dari Zico.
Seulas senyum kecil terbit dari bibir Naima, meski ia tidak mengharapkan apapun di balik hal itu.
"Syukurlah kalau begitu. Nanti kalau mau tambah, biar aku bantu ambilkan lagi."
Zico kembali mengangguk, sebab ia sibuk mengunyah makan. Naima senang melihat Zico makan nya lahap. Dan ia juga sangat bersyukur lantaran mual dan muntah yang beberapa hari ke belakang kerap kali datang sekarang sudah tidak lagi ia rasakan.
"Mau nambah?" tawar Naima begitu melihat piring suaminya sudah hampir kosong.
"Iya, tapi sedikit saja." jawab Zico.
Dengan senang hati Naima mengambilkan nasi dan opor ayam nya lagi ke dalam piring tersebut.
"Terima kasih," ucap Zico.
"Iya, sama-sama."
__ADS_1
Zico lekas menyendok lagi makan nya. Melihat Zico makan dengan lahap saja sudah membuatnya ikut kenyang.
_Bersambung_