Sang Rahim Bayaran

Sang Rahim Bayaran
Kabar Bahagia


__ADS_3

Pagi ini Naima terlihat segar. Ia tidak lagi merasakan mual. Bahkan ia merasa sangat lapar, dan begitu makan ia sangat lahap.


"Alhamdulillaah ... Akhirnya aku bisa makan banyak. Semoga setelah ini aku tidak lagi mual dan muntah," ucapnya usai makan.


Naima membereskan piring bekas makan dan wajan bekas ia memasak. Mencucinya dan menata kembali di tempat semula.


Wanita itu menghembuskan napas lega, dan berniat untuk pergi ke rumah sakit menemui sang ibu.


"Aku harus segera siap-siap buat jenguk ibu di rumah sakit. Kasihan ibu, ibu pasti kesepian di sana. Ibu pasti butuh aku."


Naima bergegas pergi menuju kamar, mengganti pakaian dan mengambil tas slempang yang biasa ia pakai untuk bepergian. Begitu membuka pintu depan, ia di kejutkan oleh sosok pria yang berdiri di hadapannya.


"Zico? Sejak kapan kau berdiri di sini?" tanya Naima dengan wajah sedikit tegang dan napas tertahan.


"Aku baru saja datang," jawab pria itu.


Perhatian Zico seketika teralih pada penampilan Naima yang sudah tampak rapi dengan tas slempang di bahunya.


"Kau mau kemana?" tanya Zico kemudian.


"Aku mau kembali ke rumah sakit, kasihan ibu pasti kesepian setelah beberapa hari aku tinggal untuk istirahat di rumah."


Zico mengerutkan dahinya. "Istirahat? Memangnya kau sakit?"


Naima menggeleng. "Tidak. Aku ..."

__ADS_1


Naima tidak melanjutkan kalimatnya, hal itu membuat Zico merasa penasaran.


"Kau? Kau kenapa?" tanya pria itu dengan tidak sabar.


"Sebaiknya kita bicarakan di dalam saja. Aku khawatir ada orang lain melihat keberadaanmu."


Zico menoleh ke belakang. Padahal rumah Naima lumayan jauh dari tetangga yang ada di sana. Tapi Naima masih saja merasa takut dan khawatir ada orang lain di sana.


"Ya sudah," sahut Zico.


Naima pun mempersilahkan suaminya untuk masuk ke dalam rumah. Ia juga menutup pintunya rapat-rapat. Setelah itu ia duduk di kursi ruang tengah.


"Mau minum apa? Sudah sarapan?" tanya dan tawar Naima.


"Tidak usah, aku sudah sarapan di rumah sebelum datang ke sini."


"Jadi apa yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Zico to the point, ia tidak ingin membuang-buang waktu.


"Tunggu sebentar!" Naima bangkit dari duduknya dan pergi menuju kamar, wanita itu tidak lama kembali lagi dan memberikan sesuatu pada Zico.


"Apa ini?" tanya Zico seraya menerima benda yang di berikan Naima.


"Buka saja," perintah Naima.


Zico mengenyit. Ia memandang kotak berukuran kecil di tangannya untuk beberapa saat. Sebelum kemudian ia membuka kotak tersebut.

__ADS_1


Iris mata Zico sedikit melebar begitu melihat dia garis merah yang tertera di tes kehamilan. Pandangannya langsung beralih pada wajah Naima.


"Kau hamil?" seru Zico dengan binar di kedua manik matanya.


Naima mengangguk membenarkan. "Iya, aku hamil."


Semburat kebahagiaan terpancar di wajah pria itu. Ia hendak beranjak dari tempat duduknya untuk memeluk Naima atas kabar bahagianya ini. Tapi hal itu tidak terjadi begitu ia sadar jika kehamilan Naima hanyalah sebuah kesepakatan dalam sebuah perjanjian.


Meski demikian, tidak membuat Zico memudarkan senyum yang di bibir yang mengembang sempurna.


Zico menatap Naima lekat. Ia meraih buah tangan wanita itu dan menggenggam nya dengan erat.


"Terima kasih, Naima. Terima kasih. Tolong jaga baik-baik anakku. Aku janji, akan akan sering datang ke sini," ucap Zico dengan binar penuh bahagia.


Naima mengangguk. "Iya, aku pasti akan menjaga anak ini baik-baik. Sebab ini anak aku juga. Akulah ibunya," balas Naima.


Zico sama sekali tidak memudarkan binar kebahagiaan di wajahnya.


"Boleh aku pegang perutmu?" pinta Zico penuh harap dan mendapat anggukan dari Naima.


Pria itupun beralih menatap perut datar Naima, ia tatap perut ia cukup lama. Sebelum kemudian tangannya menyentuh perut tersebut.


"Sehat-sehat di sana ya, anak papa. Papa sudah tidak sabar ingin melihatmu lahir ke dunia," ucap Zico di akhiri dengan kecupan di perut tersebut.


Naima sampai terkejut begitu Zico mencium perutnya. Mungkin bagi Zico, kehamilannya utuh sebagai bentuk kebahagiaan. Tapi baginya, kehamilannya sebagian besar sebuah kesedihan. Sebab setelah ia melahirkan nanti, ia akan berpisah dengan anaknya sendiri, dengan batas waktu yang tidak bisa di tentukan.

__ADS_1


"Terima kasih, Yaa Allah ... Akhirnya aku akan mempunyai seorang anak. Meski bukan lewat Aylin istriku. Mungkin ini jalan yang kau berikan yang sudah kau tentukan," ucap Zico dalam hati penuh rasa syukur.


_Bersambung_


__ADS_2