Sang Rahim Bayaran

Sang Rahim Bayaran
Jaga Jarak


__ADS_3

Setelah keluar dari pusat perbelanjaan, Zico mengajak Naima untuk makan siang dulu di sebuah restoran terdekat. Barulah mereka pulang dan Zico memutuskan untuk bermalam di rumah yang ia beli untuk Naima.


"Memangnya mbak Aylin tidak apa-apa?" tanya Naima setelah mereka sampai di rumah di kursi makan, sementara Naima sendiri menata bahan masakan di kulkas.


"Aku sudah izin."


"Alasan pekerjaan?"


"Iya, apa lagi selain itu."


Naima menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Memangnya mbak Aylin tidak akan curiga jika kau sering-sering beralasan begitu?"


"Aylin selalu percaya padaku."


"Benarkah?"


"Ya."


"Sekalipun kau membohongi nya?"


Zico diam mendengar kalimat yang Naima lontarkan padanya. Dan Naima tidak sadar jika ia berkata demikian.


"Maaf, maaf. Aku tidak bermaksud untuk-"


"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu meminta maaf, kau tidak membuat kesalahan apapun," pungkas Zico.

__ADS_1


"Tapi-"


"Sebelum mengenalmu, aku tidak pernah melakukan kebohongan seperti ini pada Aylin. Kebohongan kecil sekalipun aku tidak pernah melakukan nya," terang Zico.


Hal itu semakin membuat Naima merasa bersalah.


"Apa aku membawa pengaruh buruk bagimu?"


Zico menggeleng. "Tidak. Tidak sama sekali. Justru aku yang menyeret mu ke dalam hal buruk." ucapnya.


"Tidak, ini hanya sebuah kesepakatan," ralat Naima.


Untuk beberapa saat sepasang mata mereka saling temu, sampai Naima sadar jika ia harus menyelesaikan aktivitasnya menata bahan masakan yang tadi di beli di Supermarket.


Lima menit berikutnya, Naima dan Zico sudah berada di kamar. Usai menata bahan masakan dan mengganti pakaian, Naima membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur di sisi kosong samping Zico. Pria itu sudah lebih dulu mengisi tempat tidur.


Naima meletakan guling di tengah-tengah antara mereka sebagai pembatas. Hal itu membuat Zico merasa heran.


"Aku hanya berusaha menjaga jarak," jawab Naima jujur.


Zico kemudian bangun dan duduk menyandar di sandaran tempat tidur tersebut. Ia memandang wajah Naima hingga wanita itu kelihatan canggung.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" seru Naima seraya menghindari tatapan Zico.


"Apa aku tidak salah mendengarnya? Kau sedang menjaga jarak dariku?" ulang Zico dan mendapat anggukan dari Naima.


"Iya. Kenapa? Bukankah sebelumnya aku sudah katakan jika aku tidak ingin ada satu pihak yang tersakiti oleh hubungan ini." Naima berusaha mengingatkan Zico.

__ADS_1


"Tapi kau tadi memelukku di depan umum. Sampai jadi pusat perhatian banyak orang."


Naima memutar bola matanya berusaha mengingat apa yang baru saja Zico katakan.


"Itu karena aku dalam keadaan takut dan panik. Tolong jangan terbawa perasaan karena itu."


"Hah?" Zico nyaris tertawa mendengar kalimat akhir Naima. "Aku terbawa perasaan?"


Naima mengangguk.


Ingin rasanya Zico mengatakan jika dirinya hanya mencintai Aylin seorang. Tidak ada yang mampu menggantikan sosok Aylin di hatinya. Namun urung begitu ia sadar jika Naima tengah mengandung anaknya. Kalimat seperti itu hanya akan menyakiti hati Naima sekali pun wanita itu tidak memiliki perasaan untuknya. Lagipula ia tidak ingin membuat Naima sampai stress dan kepikiran sesuatu yang membuat kehamilan nya terganggu.


"Jangan bahas itu lagi. Lebih baik sekarang kau tidur, istirahat yang cukup. Begadang tidak baik untuk ibu hamil."


Naima mengangguk patuh. "Iya."


Tanpa mengubah posisi tidur terlentang nya, Naima memejamkan mata. Sampai akhirnya wanita itu tertidur pulas.


Zico memandang wajah Naima untuk beberapa saat sebelum perhatian nya tersita oleh notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya.


Begitu ia raih ponsel yang ia letakan di atas nakas, di layar kunci menampilkan nama istrinya di sana. Ia segera buka chat yang baru saja di kirim oleh Aylin.


My Aylin:


Selamat malam, sayang. Apa kau tidak melewatkan makan malammu? Jika kau tidak sibuk, tolong telepon aku, ya.


Kedua sudut bibir Zico terangkat membantu sebuah senyum kecil. Ia menatap ke arah Naima dan sepertinya dia sudah pulas. Perlahan ia turun dari tempat tidur, berniat untuk pindah ke ruang tamu sebentar untuk menghubungi sang istri tercinta.

__ADS_1


Begitu pintu kamar sudah kembali di tutup. Kedua mata Naima perlahan terbuka. Ia menatap ke arah pintu dan perginya Zico. Sebenarnya ia tidak benar-benar tidur tadi.


_Bersambung_


__ADS_2