
Terbiasa hidup di desa membuat Naima tidak pernah memasuki gedung setinggi dan sebesar ini. Pertama kali memasuki tempat itu, ia merasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas untuk berada di sana. Ia kira tempat itu hanya untuk orang-orang besar saja. Namun, ternyata pengunjung di sana tidak seburuk yang ia kira. Mereka melempar senyum ramah begitu berpapasan.
Ia berusaha untuk memposisikan diri menjadi manusia normal seperti yang lain agar tidak mempermalukan pria yang saat ini berjalan di sampingnya.
"Zico, kita mau beli apa saja?" tanya Naima seraya terus berjalan ke depan.
Namun ia tidak mendengar jawaban. Begitu menoleh ke samping, pria yang tadi berjalan bersamanya kini tidak ada.
"Zico?" Naima kelihatan panik, di tempat sebesar itu ia harus mencari Zico kemana.
"Zico, kau dimana?"
Naima menoleh ke kiri dan ke kanan. Matanya menyisir tempat itu, namun ia tidak menemukan sosok yang saat ini ia cari.
"Zico, kau dimana, Zico? Zico, apa kau sengaja meninggalkan aku sendiri di sini?"
Pelupuk mata Naima sudah memupuk cairan putih bening namun masih ia tahan agar tidak sampai terjatuh. Jujur, ia panik dan ketakutan sekali. Ia berusaha untuk diam di tempat, ia tidak ingin kemana-mana yang justru akan membuat dirinya tersesat.
__ADS_1
"Zico, kau pergi kemana? Zico ..."
Naima merremmas jemarinya yang sudah mengeluarkan keringat dingin. Beberapa pasang mata menatap ke arahnya dan ia menjadi pusat perhatian.
Mungkin bagi sebagian orang ini terlalu bagaimana, tapi bagi Naima sesuatu yang begitu menakutkan. Pertama kali menginjakan kaki di sebuah tempat yang bahkan belum pernah di kunjungi sebelumnya, dan ia kini berdiri seorang diri. Tentu saja membuatnya takut dan panik.
"Belum ambil bahan masakannya?"
Pertanyaan seseorang yang tidak asing membuat Naima menoleh, dan ternyata itu sosok yang sedang ia cari-cari.
"Zico ..." seru Naima terus menghambur memeluk tubuh pria itu dengan erat.
Setelah puas memeluk, Naima melepaskan pelukannya dan menatap Zico dengan melontarkan berbagai pertanyaan.
"Zico, kau darimana? Kenapa kau membiarkan ku sendiri? Kenapa kau pergi? Kenapa kau meninggalkan aku?" cecar wanita itu membuat Zico tidak mengerti.
Naima sampai meneteskan air matanya, itu yang membuat Zico bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Naima? Namun tatapan Naima seolah memberi tahu, jika dia sedang ketakutan.
__ADS_1
Zico akhirnya menarik tubuh Naima dan kembali membawa nya ke dalam pelukan. Ia lupa jika wanita itu bukan Aylin yang sering mengunjungi supermarket untuk belanja bahan masakan.
Zico melepaskan pelukannya dan menatap kedua manik mata Naima cukup lekat.
"Aku minta maaf, ya. Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu sendiri di sini. Aku tadi ambil troli di dekat kasir," jelas Zico dan berharap Naima bisa tenang.
Naima melirik sebuah keranjang beroda di samping Zico. Mungkin benda itu yang Zico maksud.
"Kenapa tidak memberitahu dulu?"
"Iya, aku minta maaf. Aku minta maaf, aku tidak akan meninggalkanmu lagi sendiri di sini. Aku minta maaf, ya."
Naima mengangguk, setidaknya ia bisa lebih tenang dan lega. Ternyata Zico tidak meninggalkannya di sana.
"Jangan nangis, malu di lihatin banyak orang," ucapnya seraya menghapus air mata di pipi Naima.
"Kalau begitu kita cari bahan masakannya sekarang. Takut kemalaman," imbuh pria itu dan di angguki oleh Naima.
__ADS_1
_Bersambung_