Sang Rahim Bayaran

Sang Rahim Bayaran
Kondisi Naima


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu lamanya Naima tinggal di rumah mendiang sang ibu. Rasanya berat harus meninggalkan rumah ia tinggal. Terlebih saat ini sang ibu sudah tiada. Tapi harus bagaimana lagi, ia harus pergi dari sana. Zico sudah menunggu di ruang tengah sementara ia di kamar.


Sepuluh menit berikutnya Naima keluar dan menghampiri Zico. Tatapan wanita itu kosong. Tentu saja hal itu membuat Zico khawatir.


"Kita ke rumah sakit sebentar, ya. Sudah waktunya cek kandungan," ajak pria itu dan Naima mengangguk pasrah.


"Jangan sedih terus, ibumu sudah tenang di alam sana."


"Aku justru khawatir ibu pergi dengan membawa segenap kekecewaan," sahut Naima akhirnya mau membuka suara.


"Kalau begitu do'akan saja semoga ibumu tenang di alam sana. Kau harus ikhlas," tutur Zico.


Sebanyak apapun kata-kata bijak yang di ucapkan oleh Zico, tidak menghapus kesedihan Naima. Ia benar-benar kehilangan sosok ibu tercinta. Ia seperti sekarang ini juga demi menyelamatkan sang ibu. Tapi justru sebaliknya. Itu yang membuat ia selalu di selimuti rasa bersalah.


"Ayo, kita pergi sekarang."

__ADS_1


Zico merengkuh bahu Naima dan hendak membawanya ke dalam mobil. Namun Naima masih berat untuk melangkah. Ia pandangi rumah tersebut sebelum kemudian pergi dari sana.


***


"Ibu Naima tidak boleh banyak pikiran apalagi sampai stress, ya. Sebab itu berpengaruh besar pada siklus kehamilan anda. Jadi harus rileks dan banyak istirahat. Minum vitamin juga agar janin nya selalu sehat," ucap Dokter usai memeriksa kandungan Naima.


Naima mengangguk. "Iya, Dokter."


"Jadi apa jenis kelaminnya sudah terdeteksi, Dok?" tanya Zico kemudian, ia sudah tidak sabar mendengar jawaban sang Dokter.


"Tentu sudah, pak. Jenis kelaminnya-"


"Baik. Kalau begitu saya buatkan resep dan vitamin nya dulu sebentar," pamit Dokter itu kemudian keluar dari ruangan.


Kini hanya ada Zico dan Naima saja di sana.

__ADS_1


"Kenapa kau memilih untuk merahasiakan dulu saja? Padahal aku ingin mendengar jenis kelamin anakku," seru Zico.


"Tapi ini juga anakku dan aku memiliki hak untuk merahasiakan jenis kelaminnya atau tidak," balas Naima.


"Tapi aku ini papa dari anak ini. Kau lupa?"


"Aku ingat. Justru karena aku ingat aku tidak ingin mengetahui dulu jenis kelamin anakku. Aku tidak ingin semakin takut kehilangannya setelah aku tahu jenis kelaminnya," jelas Naima dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.


Zico memilih untuk diam, ia tahu kondisi Naima saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ia tidak ingin membuang waktu hanya untuk berdebat.


Setelah mendapat vitamin dari Dokter, Zico membawa Naima pulang ke rumah tempat tinggal sementara. Pria itu merengkuh bahu Naima dan membawanya ke kamar.


"Ingat kata Dokter tadi, harus banyak istirahat. Jangan banyak pikiran apalagi sampai membuatmu stress!" pesan Zico.


Naima mengangguk sekali. Setelah itu menyandarkan kepalanya pada bantal yang di tumpuk sebelumnya oleh Zico sebagai sandaran. Kedua matanya terpejam, bukan untuk tidur melainkan mencari ketenangan.

__ADS_1


Zico menghela napas panjang. Ia benar-benar tidak tega melihat kondisi Naima seperti ini. Sepertinya ia harus membuat mood Naima kembali. Setelah kepergian sang ibunda nya, ia tidak pernah lagi melihat senyum di wajah wanita itu.


_Bersambung_


__ADS_2