Sang Rahim Bayaran

Sang Rahim Bayaran
Kembali Bersatu


__ADS_3

Hujan deras disertai dengan angin kencang dan sesekali petir menyambar membuat malam ini terasa semakin mencekam. Beruntung nya listrik tidak padam. Biasanya jika cuacanya sedang seperti ini maka akan terjadi pemadaman listrik.


Naila menoleh ke arah jendela kamar, posisinya saat ini sedang terbaring di atas ranjang tempat tidur. Usai melahirkan ia belum bisa beraktivitas secara normal. Bahkan ia masih mengeluarkan banyak darah di **** ***** nya. Jadi tidak di perbolehkan untuk banyak bergerak. Bahkan tidur pun harus terlentang, di larang untuk miring sebelum darah benar-benar tidak ada.


Seketika pikirannya tertuju pada bayi mungil yang ia lahirkan kemarin. Mungkin saat ini putrinya tengah berbahagia dan mendapat pelukan hangat dari wanita yang akan menjadi ibunya kelak. Setitik air mata mengalir membasahi wajah Naima yang masih tampak pucat.


Ia harus bisa terima kenyataan ini. Bahkan ini lebih buruk daripada yang ia bayangkan sebelumnya. Ia pikir setelah melahirkan anak yang menjadi sebuah perjanjian, ia akan kembali hidup bebas dan normal seperti sebelumnya. Tapi ternyata justru ia kehilangan semuanya. Kehilangan ibu dan juga anaknya. Dan tidak bisa ia pungkiri, ia juga merasa kehilangan Zico. Pria sekaligus suami yang selama ini selalu berada di sampingnya.


Mungkin terlalu egois jika ia menyebut Zico sebagai suaminya. Meski mereka memiliki hubungan dalam suatu pernikahan yang sah, tetap saja Zico adalah milik Aylin. Ia merasa tidak pantas mengagungkan dirinya sebagai istri pria tersebut.


Saat kedua matanya mulai terpejam karena hujan tidak kunjung berhenti, ia mendengar suara mobil yang berhenti di halaman depan rumah. Senyumnya terbit begitu ia kira itu Zico, tapi ia segera menepis pikiran nya karena itu tidaklah mungkin. Ia rasa itu hanyalah sebuah halusinasi saja sebab ia terlalu merindukan sosok itu.


Namun begitu suara pintu depan di ketuk, kedua matanya terbuka sempurna. Rasa kantuk yang tadi mulai mengusik kini seakan hilang. Ia bergegas bangun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar guna membukakan pintu depan. Namun sedikit hati-hati dan juga waspada, takutnya tidak sesuai harapan.


Begitu pintu depan di buka, muncul sosok pria yang membawa bayi dan menggunakan payung berwarna hitam. Naima sontak membungkam mulutnya tidak percaya jika pria itu akan kembali bersama putri kecilnya.


"Zico? Baby Ziana?" seru Naima girang.


Antara merasa bahagia dan hari berpadu menjadi sebuah tangisan.


Melihat kondisi cuaca di luar hujan deras, Naima segera membawa mereka untuk masuk ke dalam. Baby Ziana pasti sangat kedinginan.


"Berikan padaku," pinta Naima dan Zico memberikan bayinya.

__ADS_1


Naima memeluk putrinya yang saat ini ia gendong dengan erat dan menghujani puncak kepala baby Ziana dengan ciuman.


Setelah puas memeluk juga mencium baby Ziana yang tertidur dalam pangkuannya, Naima beralih pada Zico. Wajah pria itu seolah menunjukan ada ketidakberesan.


"Apa yang terjadi, Zico?" tanya Naima kemudian setelah beberapa saat mengumpulkan keberanian untuk mempertanyakan hal itu.


"Aylin sedang menggugat cerai," jawab pria itu tanpa membalas tatapan Naima.


Naima sontak terkejut dengan jawaban Zico.


"Apa maksudmu?" seru Naima meminta penjelasan.


Zico membalas tatapan Naima dan ia menghembuskan napas sebelum kemudian menjelaskan apa yang terjadi.


"Sejak kapan dan dari mana mbak Aylin tahu hubungan kita?"


Zico menggeleng. "Aku tidak tahu Aylin tahu dari mana. Tapi ketika aku menemuimu sebelum melahirkan, dia masih bersikap baik-baik saja seolah belum tahu apa-apa."


Naima tampak berpikir keras. Di rumah sakit tempat ia melahirkan, saat ia di bawa menggunakan brangkar pasien menuju ruang persalinan, ia melihat sosok Arsa di sana. Apa mungkin pria itu yang memberitahu Aylin karena memergoki Zico bersamanya di sana?


"Arsa," ucap Naima lirih namun cukup membuat tanda tanya besar di kepala Zico.


"Arsa? Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Kau ingat dulu saat kau memindahkan ruang rawat ibuku karena apa?"


Zico mengangguk. "Iya. Apa hubungannya dengan itu?"


"Saat itu Arsa mengenali postur tubuhmu meski dari belakang. Dia bertanya-tanya padaku soal itu dan aku katakan kau suamiku dan bernama Daniel. Dan kemarin pada saat aku melahirkan di rumah sakit aku tidak sengaja melihat dia ada di sana. Sudah jelas dia juga melihatmu mendampingi aku. Oleh karena itu aku merasa jika Arsa lah yang telah memberitahu mbak Aylin," jelas Naima.


Zico terdiam untuk beberapa saat. Jika benar Arsa yang memberitahu Aylin tentu saja ia marah dan kecewa. Tapi balik lagi ke diri sendiri yang salah.


Ia menatap wajah Naima dan baby Ziana secara bergantian. Entah kenapa ia merasa teduh dan tenang melihat wajah mereka berdua. Andai dulu ia lebih dulu menemukan Naima, mungkin saat ini ia menjadi keluarga yang bahagia. Tapi ia sangat beruntung juga di pertemukan dengan wanita sebaik Aylin. Mungkin jika Aylin bisa memberinya keturunan maka ia juga akan mendapatkan keluarga yang sungguh bahagia.


Zico meraih buah tangan Naima dan menatap kedua manik mata wanita itu cukup lekat. Sehingga Naima merasa gugup di buatnya.


"Naima .." panggil pria itu.


"Iya, Zico," sahut Naima.


"Aku tidak ingin mengakhiri hubungan di antara kita sampai kapanpun. Aku ingin hidup selamanya bersamamu, bersama putri kecil kita," ungkap Zico seketika menggetarkan hati Naima.


Jujur, Naima pun ingin demikian. Hanya saja ia sadar posisi. Tapi saat ini posisinya sudah berbalik, Zico yang lebih dulu mengungkapkan keinginan tersebut.


Naima mengangguk. "Iya, aku juga."


Zico senang mendengar jawaban Naima. Ia menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan wanita itu. Kemudian ia peluk Naima dan juga bayinya. Tampak seperti keluarga kecil yang sangat bahagia meski dengan cara yang cukup sederhana.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2