Sang Rahim Bayaran

Sang Rahim Bayaran
Ujung Cerita


__ADS_3

"Ziana ... Jangan lari-lari, sayang ..!!" teriak seorang wanita seraya mengejar langkah putrinya yang kini sudah pandai berlari.


Perhatian seorang pria yang tengah memilih daging sapi segar di Supermarket tersebut langsung beralih pada bocah berusia dua tahun yang sedang di kejar oleh istrinya.


"Ah ya ampun, Ziana."


Pria yang tak adalah adalah Zico ikut mengejar putrinya di tengah banyaknya pengunjung Supermarket itu.


"Ziana, tunggu, sayang ..."


Naima sedikit kesulitan mengejar putrinya yang berlarian kesana kemari.


Seorang wanita yang tengah mendorong troli berisi belanjaannya tidak sengaja menabrak bocah tersebut di belokan sekat produk makanan. Ia langsung panik begitu bocah itu terjatuh dan menangis.


"Ah ya ampun ..." Wanita itu membungkam mulutnya dan segera menghampiri bocah menggemaskan yang tidak sengaja ia tabrak dengan trolinya.


"Huaaa ... Mamaaaa ..." bocah itu menangis dan berteriak memanggil orang tuanya.


Wanita tersebut membantu membangunkan bocah itu dan berusaha menenangkan nya.


"Sayang, bibi minta maaf, ya. Bibi tidak sengaja." ucap wanita itu merasa bersalah.


"Ziana, sayang ..."


Seorang wanita datang dan menggendong bocah tersebut. Rupanya itu orang tua dari bocah yang ia tabrak. Tapi wajahnya seperti tidak asing. Pernah melihat tapi dimana?


"Ziana, kau tidak apa-apa kan, sayang?"


"Ziana, lain kali hati-hati, ya. Dengarkan apa kata mama, jangan coba-coba untuk jauh dari kami, nak," ucap pria yang baru saja datang dan berdiri di sebelah wanita yang mungkin istrinya.


Pandangan wanita yang tidak sengaja menabrak bocah tersebut terpaku pada pria yang berdiri di samping ibu dari bocah itu. Pria yang sangat ia kenali tentunya. Dan begitu pria itu menoleh ke arahnya, pria itupun menatap balik dirinya.

__ADS_1


"Aylin?" ucap pria itu yang tak lain adalah Zico.


Naima seketika berhenti menenangkan putrinya yang masih menangis. Ia menatap wanita yang namanya baru saja di sebut oleh suaminya.


Aylin berusaha bersikap biasa saja di depan mereka. Lagipula hubungannya dengan Zico sudah berakhir lama. Jadi tidak semestinya ia canggung begitu bertemu kembali dengannya.


"Aku minta maaf, tadi aku tidak sengaja menabrak putri kalian dengan troli yang hendak aku belokan," ucap Aylin tanpa mau menatap mata Zico.


"Ah iya, tidak apa-apa. Salah Ziana juga, dia tadi lari-lari," sahut Naima.


Ziana? Batin Aylin.


Seketika ia ingat kata Arsa dua tahun lalu jika wanita yang di nikahi oleh Zico secara diam-diam itu bernama Naima. Orang yang tidak sengaja ia tabrak di belokan lorong rumah sakit saat hendak menjenguk Loly, temannya. Mungkin Ziana adalah nama singkatan dari Zico dan Naima.


"Iya. Kalau begitu aku pergi duluan," pamit Aylin kemudian pergi dari hadapan mereka dengan mendorong troli nya.


Pandangan mata Zico sama sekali tidak terlepas dari arah perginya Aylin. Naima mengerti apa yang ada di dalam pikiran suaminya saat ini.


Pertanyaan Naima sontak membuat Zico sadar. Ia mengusap wajahnya dia sertai dengan hembusan napas kecil. Kemudian ia menggeleng.


"Tidak. Di antara kami sudah tidak ada lagi hubungan apapun," jawab Zico kemudian.


"Tapi aku bisa melihat perasaan itu masih ada dari pancaran matamu ketika menatap wajahnya."


Zico memegang bahu Naima dan menatap wanita itu cukup lekat.


"Aku sudah tidak lagi memiliki perasaan apapun terhadap siapapun kecuali kau, Naima. Bagiku, Aylin hanyalah bagian masa lalu yang sudah lama aku tinggalkan. Jadi tidak perlu khawatirkan itu lagi. Sepenuhnya perasaan ku hanyalah untukmu seorang. Naima istriku."


Naima lega mendengar nya. Ia pikir Zico masih menyimpan perasaan untuk Aylin.


"Mama .. Papa .." panggil Ziana yang baru saja bisa bicara setelah beberapa saat berhasil diam tidak lagi menangis.

__ADS_1


Perhatian keduanya kembali berpusat pada putri mereka yang menggemaskan.


"Kenapa, sayang?" tanya Zico seraya mengusap rambut bocah itu dengan lembut.


"Bobo .." ucap bocah itu lagi di akhiri dengan menguap.


"Oh Ziana mengantuk, sayang?"


Bocah itu mengangguk.


"Ah ya sudah kalau begitu kita bayar dulu belanjaannya, ya. Sini, Ziana gendong sama papa. Kasihan ibu pasti keberatan."


Zico mengambil alih Ziana dari Naima. Memang putrinya sekarang sudah sangat berat karena memiliki tubuh yang mungil.


"Kiss dulu papanya, sayang." pinta Zico seraya memberikan pipinya pada sang anak.


Cup!


Ziana mengecup pipi papanya sesuai permintaan.


"Kiss mama juga, sayang," pinta Naima dan Ziana pun melakukan hal yang sama.


"Kiss papa juga, mama," pinta Zico pada Naima dan wanita itu melakukannya tanpa memperdulikan jika saat ini mereka sedang berada di tempat umum.


Setelah itu mereka bertiga pergi dari sana guna mengambil troli yang sempat mereka tinggal di dekat tempat daging saat mengejar putri mereka tadi.


Zico beruntung sekali memiliki keluarga kecil yang sangat bahagia. Ia sangat bersyukur dengan takdir hidup yang Tuhan berikan padanya. Ia juga sangat bersyukur bisa bersama dengan Aylin sebelumnya.


Dari kejadian yang awalnya hanya sebuah kesepakatan dalam sebuah perjanjian menjadikan sebuah kehidupan baru untuknya. Kehidupan yang akan membawanya ke dalam sebuah kebahagiaan.


Begitupula dengan Naima, kehidupan yang ia kira akan berakhir dengan biasa saja namun harus melewati masa tragis. Dimana sang ibu meninggal akibat perbuatannya sendiri. Zico yang pergi bersama bayi nya membuat dirinya sangatlah hancur. Tapi begitu ia berusaha untuk ikhlas, anak dan suaminya kembali pada pelukannya. Untuk selamanya.

__ADS_1


TAMAT...


__ADS_2