
Naima duduk di sederet kursi besi panjang yang terdapat di depan ruang rawat ibunya. Dia tidak benar-benar ke kantin seperti yang ia katakan tadi pada sang ibu. Dia hanya berusaha menghindari dari sederet pertanyaan yang masih memenuhi seisi kepala sang ibu.
"Maafkan aku, bu. Aku terpaksa bohong pada ibu. Semua yang kulakukan tidak terlepas dari harapan aku agar ibu bisa sembuh dan sehat. Aku tidak perduli orang lain akan mengecam aku seperti apa, sebab mereka tidak pernah ada di posisiku."
"Aku tidak bisa berdiam diri melihat ibu sakit parah yang menyiksa setiap hari. Aku tidak ingin kehilangan ibu. Ibu satu-satunya orang yang kumiliki saat ini. Aku rela menukar harga diriku, rahimku, demi kesembuhan dan kesehatan ibu."
"Sebanyak apapun uang yang aku kumpulkan demi membawa ibu ke rumah sakit, tidak akan pernah cukup dalam hitungan bulan bahkan tahun. Tidak ada satupun orang yang mau meminjamiku uang sebanyak itu, melihat keadaan aku yang jauh dari kata mampu, membuat mereka takut kehilangan uangnya. Mereka khawatir aku tidak bisa mengembalikan uangnya. Oleh karena itu, aku terpaksa, lebih tepatnya tidak ingin menyia-nyiakan penawaran Zico. Tidak apa harus menaruhkan harga diriku, sebab ibu pun pernah menaruhkan nyawanya demi putrinya ini selamat. Dan apa yang aku lakukan ini tidak akan pernah setara dengan pengorbanan nya."
Naima menyandarkan punggungnya di sandaran kursi tersebut, kedua matanya terpejam. Seisi kepalanya sibuk berperang.
"Hai ..."
Sapaan seseorang refkels membuat Naima membuka mata. Seorang pria dengan air mineral kemasan botol di tangan berdiri di depannya.
"Iya, hai .." balas Naima.
"Boleh ikut duduk?" tanya pria itu seraya menunjuk ke kursi sebelah Naima.
Naima mengangguk kaku. "Iya, boleh."
Pria itupun duduk kemudian mengulurkan tangan padanya.
__ADS_1
"Namaku Arsa," ucapnya memperkenalkan diri.
Naima menjabat tangan Arsa seraya menyebutkan namanya. "Naima."
"Nama yang bagus," puji Arsa.
"Terima kasih," ucap Naima.
"Sama-sama," balas pria itu. "Ah ya, aku perhatikan dari sana, kau terlihat seperti orang yang sedang memiliki masalah berat. Kau di sini untuk siapa? Pacarmu? Suamimu? Atau-"
"Ibuku," pangkas Naima.
Arsa mengangguk-anggukan kepalanya. "Oh, ibumu. Beliau sakit apa?" tanyanya kemudian.
Arsa menganggukan kepalanya paham.
"Iya, tidak apa-apa," jawab pria itu.
"Barusan kau bilang memperhatikan aku, apa maksudmu?" Naima memberanikan diri untuk bertanya, ia sedikit terganggu dengan kalimat itu.
"Jangan berpikir yang macam-macam dulu. Kebetulan kamar rawat inap ibumu bersebelahan dengan kamar rawat inap sepupuku. Aku baru saja menjengkuknya, dan begitu aku keluar dari kamar rawat inap nya, aku tidak sengaja melihatmu di sini. Terlihat seperti orang yang sedang menanggung beban berat. Oleh karena itu, aku pergi ke kantin sebentar dan berinisiatif membelikan air minum. Siapa tahu kau membutuhkan ini." Arsa memberikan air mineral kemasan botol tersebut pada Naima.
__ADS_1
"Tidak usah, itu buatmu saja," tolak Naima.
"Tidak apa-apa, ambil saja. Kau lebih membutuhkannya. Dan jangan takut, aku bukan orang jahat. Jika tidak percaya, lihat saja. Kemasan botolnya masih di segel."
Arsa memperlihatkan botol air mineral tersebut, berharap Naima mau menerima air minum tersebut.
"Mau sekalian aku bantu bukakan?" tawar pria itu hendak memutar tutup botolnya.
"Tidak, tidak perlu," tolak Naima.
"Ya sudah, kalau begitu kau terima saja. Tidak usah sungkan."
Naima merasa segan, tapi Arsa terlihat sedikit memaksa. Ia sebenarnya tidak harus, tapi pria itu berniat baik.
"Terima kasih," ucap Naima setelah menerima air minum tersebut dari tangan Arsa.
"Ya, sama-sama. Di minum, ya. Siapa tahu itu bisa buat pikiranmu lebih tenang."
"Iya, terima kasih."
"Kalau begitu aku pergi. See you," pamit Arsa kemudian beranjak dari sana.
__ADS_1
Naima membalasnya dengan senyum kecil. Setelah Arsa benar-benar pergi dan hilang dari jangkauan matanya, ia beralih menatap botol air mineral di tangannya. Ternyata masih ada orang baik dan tulus di dunia ini. Mungkin ia saja yang tidak tidak begitu mengenal dunia luas, sebab ia hanya menghabiskan waktunya di rumah selain menjajakan dagangan kue di sekitar rumah.
_Bersambung_