Sang Rahim Bayaran

Sang Rahim Bayaran
Mual dan Muntah


__ADS_3

Satu minggu berikutnya, Naima merasa mual dan ingin muntah. Namun sebisa mungkin ia tahan lantaran ia sedang menemani ibunya di ruang rawat.


"Kenapa, nak?" tanya bu Maya melihat perubahan ekspresi di wajah putrinya.


Naima menggeleng. "Tidak, bu. Aku tidak apa-apa."


"Kau yakin tidak apa-apa?"


"Iya, aku baik-baik saja." jawab Naima meyakinkan.


Meski Naima mengatakan dirinya baik-baik saja, wajahnya tidak bisa membohongi sang ibu.


"Wajahmu pucat, nak. Kau sakit?"


Naima sontak meraba pipinya.


"Lebih baik kau pulang saja dulu, istirahat di rumah, Naima. Selama ibu ada di sini, kau selalu menjaga ibu dari pagi sampai pagi lagi. Mungkin itu yang membuatmu sekarang sakit. Pulang ya, tidur dan istirahat yang cukup. Tidak apa di sini sendiri, ada suster yang bisa membantu ibu." Bu Maya mengusap bahu Naima pelan, ia tidak tega melihat kondisi putrinya yang jelas tampak sakit.


"Tapi, bu-"


"Jika kau sayang pada ibu, turuti permintaan ibu. Cukup ibu saja yang sakit, kau jangan sampai ikut-ikutan sakit. Pulang, ya."

__ADS_1


Naima menatap ibunya yang tampak mengkhawatirkan nya. Sepertinya yang di katakan ibunya ada benarnya juga. Akhirnya ia mengangguk patuh.


"Iya, bu. Nanti kalau aku sudah mendingan, aku akan segera kembali ke sini. Ibu jangan sampai telat minum obatnya, ya. Aku mau ibu cepat sembuh dan bisa segera pulang."


Bu Maya mengangguk. "Iya, ibu juga ingin segera pulang. Ibu tidak mau berlama-lama di rumah sakit, nak. Selain membosankan, ibu tidak mau biaya rumah sakit ini bertambah banyak. Ibu tidak ingin merepotkankanmu, sayang."


"Ibu tidak perlu pikirkan hal itu, fokus saja pada kesehatan ibu."


"Iya. Sekarang pulanglah. Istirahat yang cukup dan makan yang banyak. Jangan sampai kau ikut-ikutan sakit."


Naima mengangguk. "Iya, bu. Kalau begitu aku pulang dulu, ya. Aku janji akan segera ke sini setelah merasa baikan."


Naima mencium punggung tangan ibunya dan mendaratkan kecupan singkat di bagian kening wanita paruh baya itu.


"Iya, bu."


Naima beranjak dari sana dan begitu sudah keluar dari ruang rawat sang ibu, langkahnya semakin cepat menuju kamar mandi. Ia sudah tidak tahan ingin muntah.


"Hoekss ... Hoekss .. Hoekss .."


Naima memuntahkan cairan bening, sebab ia belum sempat sarapan pagi ini.

__ADS_1


"Hoekss ... Hoekss ... Hoekss ..."


Naima menyalakan air keran wastafel dan membasuh wajahnya. Ia mendongakan kepala menatap pantulan wajahnya di cermin.


Dengan napas yang terdengar sedikit memburu, Naima tatap kedua manik mata miliknya di cermin itu. Ia menarik selembar tisu yang tersedia guna mengelap wajahnya yang basah.


"Iya, wajahku pucat. Benar kata ibu," ujarnya.


Naima menghembuskan napas berat.


"Sebenarnya aku sakit karena kurang tidur atau aku ..."


Dia sengaja menggantung kalimatnya, sebab pikirannya sudah lebih dulu berkata.


Naima menunduk dan refleks tangannya menyentuh bagian perut yang masih datar. Ia kembali beralih menatap pantulan dirinya di cermin.


"Apa aku hamil???" ucapnya lirih dan segera membungkam mulutnya, khawatir ada yang dengar kalimat nya barusan.


Naima menoleh ke kiri dan ke kanan, bersyukur toilet umum rumah sakit tersebut sedang sepi. Jadi mungkin aman dan tidak ada yang mendengar kalimatnya barusan.


"Aku harus segera mengetes nya dengan tes kehamilan."

__ADS_1


Naima bergegas pergi dari sana, guna membeli tes kehamilan di apotek rumah sakit tersebut.


_Bersambung_


__ADS_2