Sang Rahim Bayaran

Sang Rahim Bayaran
Rumah yang Nyaman


__ADS_3

Naima sangat berterima kasih pada Zico lantaran ia sudah di beri tempat tinggal sebagus dan senyaman itu. Meski ia tidak tahu jika rumah tersebut hanya akan menjadi tempat tinggalnya sementara.


"Semuanya sudah lengkap, yang belum ada bahan masakan dan bumbu lainnya. Nanti aku akan mengajakmu ke pusat perbelanjaan malam."


Saat ini mereka tengah berada di ruangan bagian dapur. Yang terdapat meja makan berbentuk persegi dan di lengkapi dengan empat kursi berwarna hitam.


"Memangnya tidak apa-apa jika kau keluar bersamaku?" tanya Naima memastikan.


"Aku bukan public figure. Tidak semua orang bisa mengenaliku."


"Tapi Arsa bisa."


"Itu hanya sebuah kebetulan. Dan kebetulan tidak datang berkali-kali."


Naima diam, benar juga apa yang di katakan oleh Zico. Semoga saja tidak ada orang yang mengenali Zico nanti.


"Ah ya, kau bisa memasak?" tanya Zico kemudian setelah kesenyapan menyelinap di antara mereka.


Naima mengangguk. "Bisa."


"Bagus kalau begitu. Tapi nanti beli bahan masakan yang cara memasaknya simple saja. Aku tidak mau kau kecapean. Jangan setiap hari memasak juga, kau pasti akan merasa lelah. Nanti bisa pesan lewat aplikasi makanan cepat saji."

__ADS_1


Tanpa melontarkan protes, Naima mengangguk setuju.


"Kalau begitu, aku mau menata pakaianku dulu di lemari kamar," pamit Naima.


"Iya, aku temani."


Naima berjalan menuju kamar yang tadi sudah ia lihat sebelumnya bersama Zico. Kamarnya tidak terlalu luas. Namun kelihatannya nyaman untuk di tempati.


Naima membuka tas kain berisi pakaiannya yang hendak di masukan ke dalam lemari. Ia di buat terkejut begitu membuka pintu lemari tersebut yang sudah terisi beberapa pakaian blouse khusus untuk ibu hamil yang di gantung.


Naima sontak menoleh ke arah pria yang saat ini tengah duduk di tepi ranjang tempat tidur. Pria itu mengulas senyum tipis seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran dirinya.


"Aku belikan khusus untukmu, khusus untuk ibu hamil. Kau menyukainya bukan?"


Zico bangkit dari duduknya dan berjalan beberapa langkah, ia berdiri tepat di hadapan Naima.


"Karena aku pikir hal ini sekali seumur hidup bagiku. Aylin tidak akan pernah bisa hamil, dan aku akan memiliki seorang anak pertama sekaligus yang terakhir. Oleh karena itu aku akan berusaha memperlakukanmu dengan sebaik mungkin."


Naima merasa terharu dengan jawaban Zico barusan. Tapi ia berusaha menyadarkan diri untuk tidak terbawa perasaan. Ia ingat kembali perjanjian awalnya. Jika ia hamil untuk pria itu, maka wajar saja jika Zico melakukan hal tersebut. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk anak yang ia kandung.


Zico melihat cairan putih bening memupuk kelopak mata Naima.

__ADS_1


"Hei, kau kenapa menangis?" Zico hendak menyentuh pipi Naima namun wanita itu dengan cepat menghindar dan menyeka air mata di pelupuk matanya agar tidak sampai menetes.


"Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Naima lalu beralih pada pakaiannya yang hendak di tata.


"Kau yakin tidak apa-apa? Apa ada kata-kata ku yang menyakiti hatimu?" Zico memastikan, ia takut tidak sadar.


Naima menggeleng. "Tidak, tidak ada. Aku juga tidak menangis. Aku hanya teringat ibu saja di rumah. Aku khawatir terjadi sesuatu pada ibu di saat beliau sendirian."


"Kau tenang saja, aku bisa menyewa seseorang untuk memantau kondisi ibumu. Jadi kau tidak perlu khawatir lagi."


Naima menghentikan aktivitas nya. Ia kembali menatap Zico dengan pertanyaan yang menyelimuti dirinya.


"Memantau ibu? Bagaimana caranya?"


"Sudah, itu biar jadi urusan aku saja."


"Tapi apa kau bisa menjamin orang yang kau sewa tidak akan menyakiti ibu?"


"Tentu saja."


Naima sebenarnya ragu dan takut, tapi Zico berusaha meyakinkannya. Ia berharap jika apa yang di katakan Zico itu benar. Agar ia setidaknya bisa tenang selama jauh dengan ibunya.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2