
Sitya bingung harus membuka percakapannya dari mana dengan Aylin. Ia takut jika apa yang akan di sampaikannya menyinggung hati sang teman.
Sitya mengambil buah tangan Aylin di atas meja lalu menggenggamnya.
"Aylin, aku butuh bantuan mu. Bisakah kau menolongku?" ucap Sitya penuh harap.
"Bantuan? Bantuan apa?" tanya Aylin.
Sitya menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan jika tidak ada yang mendengar akan pembicaraannya dengan Aylin. Setelah itu ia kembali menatap wajah temannya itu dengan tatapan serius.
"Aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu, Aylin. Tapi aku ingin kau saja yang merawat bayiku setelah lahir nanti."
Iris mata Aylin seketika melebar, ia masih tidak paham akan maksud Sitya.
"A-apa maksudmu, Sitya?" Aylin melepaskan tangannya yang masih di genggam oleh wanita itu.
"Aylin, tenang. Aku minta kau dengar dulu penjelasanku. Okay? Aku tidak bermaksud membicarakan kekuranganmu, tapi aku yakin kau pasti menginginkan seorang anak bukan? Oleh karena itu, aku ingin memberikan anakku padamu setelah lahir nanti. Kau mau kan merawat bayiku?"
Aylin menggeleng tidak percaya. "Sitya, kau bicara apa, Sitya? Apa kau tidak waras? Aku memang menginginkan seorang anak dan aku ingin menjadi seorang ibu. Seharusnya kau bersyukur lantaran kau bisa menjadi seorang ibu. Kenapa kau malah mau memberikan bayimu?"
"Aylin, tolong jangan paham dulu. Aku bukan seorang ibu setega yang saat ini kau pikirkan, Aylin. Aku hanya berusaha menyelamatkan bayiku dari ayahnya. Kau lihat tadi bagaimana wajah Alex? Dia sangat benci padaku karena aku dia kehilangan masa lajangnya."
__ADS_1
"Apapun itu tapi itu sudah menjadi tanggung jawab dia sebagai orang yang sudah menghampirimu, Sitya. Bukan hanya dia yang kehilangan masa lajangnya, tapi kau juga. Seharusnya kau bisa tegas pada suamimu agar dia bisa menjadi sosok pria yang bertanggung jawab. Bertanggung jawab di sini bukan sekedar menikahi. Mengakui pun sebagai bentuk tanggung jawab dia atas perbuatannya. Kenapa dia harus membenci sesuatu yang dia sudah lakukan?"
"Ya, aku tahu, Aylin. Tapi Alex tidak semudah itu berubah. Setelah ini aku tidak bisa tinggal di rumah orang tua aku dan biaya hidupku sepenuhnya akan beralih pada Alex. Orang tuaku kecewa padaku dan dia tidak mau memberiku uang setelah ini. Sementara Alex benci padaku, bagaimana aku bisa hidup dengannya? Cukup aku saja yang harus menderita, aku tidak ingin anakku nanti ikut merasakannya. Aku Mohon, Aylin. Aku Mohon padamu, tolong rawat anak ini setelah lahir, ya."
Sitya menelungkupkan kedua tangannya memohon dengan wajah yang memelas. Dia berharap jika Aylin setuju dan mau merawat anaknya setelah lahir nanti.
Aylin terdiam. Ia memang menginginkan seorang anak, tapi bukan berarti ia harus merawat anak dari temannya sendiri. Ia tidak mau merawat anak yang sudah jelas ia tahu siapa ibunya. Dan ia tidak mau membuat seorang anak harus terpisah dengan ibunya, begitupula sebaliknya.
"Maaf, Sitya. Aku memang menginginkan seorang anak, tapi aku tidak bisa merawat bayimu. Anak itu memiliki orang tua yang lengkap, dan tidak seharusnya dia berpisah dengan orang tuanya." tolak Aylin dengan tegas kemudian bangkit berdiri dan hendak beranjak dari sana, namun Sitya berhasil menarik pergelangan tangannya berusaha mencegah.
Di kejauhan, Zico memperhatikan dia wanita yang tengah mengobrol itu. Begitu wanitanya merasa tidak nyaman, ia bergegas menghampiri.
"Aylin, aku mohon. Aku hanya berusaha menyelamatkan bayiku."
"Tapi, Aylin. Ini kesempatan yang bagus untukmu. Seharusnya kau senang aku memberimu tawaran ini karena kau sendiri mandull."
Aylin terhenyak mendengar kalimat yang baru saja Sitya lontarkan padanya. Ia memastikan kembali apa pendengarnya itu masih berfungsi dengan baik atau tidak. Ia benar-benar tidak menyangka jika Sitya tega mengatakan hal itu padanya.
"Ada apa ini?"
Kedatangan Zico membuat Sitya seketika menoleh, sementara Aylin menunduk dan berusaha mengalihkan pandangannya agar tidak bertemu dengan mata suaminya.
__ADS_1
Zico melihat cairan putih bening sudah mengumpul di kelopak mata istrinya. Itu artinya terjadi sesuatu di antara mereka.
Zico maju selangkah dan berdiri tepat di depan Sitya.
"Apa yang kau katakan pada istriku sampai membuatnya menangis?" seru Zico dengan nada lirih namun penuh penekanan.
Tanpa rasa bersalah, Sitya mengatakan yang sejujurnya.
"Aku menawarkan anakku pada Aylin tapi dia menolaknya. Aku melakukan ini karena aku tahu Aylin pasti menginginkan seorang anak karena dia mandull. Itu saja."
Air mata yang susah payah Aylin tahan kini akhirnya terjun bebas di pipi. Perkataan Sitya sunggu menyayat hati. Dan ia tidak pernah menduga jika Sitya akan mengatakan hal itu padanya.
Jari-jari tangan Zico seketika mengeras dan membentuk sebuah kepalan berisi emosi. Giginya menggeretak, ia berusaha menahan emosi tersebut agar tidak meledak. Pantas saja Aylin sampai menangis, rupanya apa yang di katakan oleh wanita itu sangat keterlaluan.
"Kau takut kenapa Aylin menolaknya?"
Sitya bergeming.
"Karena anak yang saat ini kau kandung merupakan anak hasil perzinnahhan." ucap Zico lirih namun mampu menancapkan diri tajam di hati Sitya.
"Jangan menginjak kaki orang lain jika kau tidak mau orang lain menginjak kepalamu," imbuh Zico sebelum kemudian membawa Aylin pergi dari sana.
__ADS_1
Sitya mengepalkan kedua tangannya menahan emosi. "Aarrghhh ..."
_Bersambung_