
Malam ini sekitar pukul tujuh, Zico dan Naima sedang bersiap-siap untuk pergi ke pusat perbelanjaan di supermarket. Zico meminta Naima untuk memakai pakaian yang ia belikan. Awalnya Naima menolak lantaran tidak percaya diri, pakaian itu terlalu mewah baginya. Namun Zico mengatakan dirinya kecewa jika Naima tidak mau memakai barang pemberian darinya. Akhirnya wanita itu terpaksa memakainya.
Sementara Naima mengganti pakaian, Zico menunggu di depan rumah. Sudah hampir lima menit, namun Naima belum kunjung keluar. Tidak berapa lama setelah itu, ia di buat pangling oleh penampilan wanita yang biasa tampil sederhana.
Pria itu menatap Naima dari ujung kaki sampai ujung kepala. Pandangannya tidak terlepas dari wajah Naima yang tampak Natural. Bahkan wanita itu tidak menggunakan lipstik sedikitpun lantaran bibirnya sudah tampak merah jambu.
Naima dibuat gugup ketika Zico menatapnya seperti itu. Ia bahkan merasa canggung.
"Kita jadi berangkat?"
Pertanyaan Naima menyadarkan Zico dan pria itu mengerjapkan matanya sekali.
"I-iya, jadi," sahutnya kemudian.
"Lalu kenapa masih berdiri di sini? Ayo kita pergi sekarang, nanti keburu malam," ajak Naima, sebab yang ia tahu wanita hamil tidak boleh berkeliaran malam-malam. Itu pepatah yang masih dipercayai jika hidup di pedesaan.
__ADS_1
Kemudian mereka masuk ke dalam mobil, Zico tidak lupa membukakan pintu mobilnya untuk Naima serta melindungi kepala wanita itu agar tidak terpentok. Setelah itu barulah ia masuk ke bagian jok kemudi.
"Jangan lupa pasang seatbelt nya."
"Iya," jawab Naima patuh.
Melihat Naima tampak kesulitan, Zico berusaha untuk membantu. Wanita itu kembali gugup saat Zico berada sedekat itu dengannya. Apalagi saat Zico menoleh, seolah tidak ada lagi jarak wajah di antara mereka. Hangatnya napas Zico terhempas ke wajah Naima. Naima sendiri berusaha menahan napas.
"Sudah." Zico memundurkan wajahnya dan akhirnya Naima bisa menghirup oksigen.
"Lain kali jangan sedekat itu denganku," pinta Naima namun dengan nada bicara yang lirih.
"Aku selalu merasa bersalah terhadap istrimu."
"Tapi kau juga istriku," sahut Zico.
__ADS_1
Naima menatap wajah Zico dengan tatapan serius, kalimat itu semakin membuatnya merasa di selimuti rasa bersalah.
"Iya, aku tahu. Tapi aku juga tahu diri, jika pernikahan di antara kita hanya bagian dari perjanjian yang sudah di buat. Istrimu tetap mbak Aylin."
Zico bergeming sembari menatap wajah Naima. Apa yang di katakan oleh Naima itu sangat benar. Ia harus bisa mengontrol perasaannya dan berusaha untuk tidak membuat Naima sampai terbawa perasaan. Sebab itu hanya akan menyakiti Naima saja.
"Baik, aku mengerti apa maksudmu," jawab Zico kemudian menghidupkan mesin mobilnya.
Naima menoleh ke arah Zico sekilas. Sebelum kemudian ia memandang jalanan melalui kaca jendela.
Aku harap kau benar-benar mengerti maksudku, Zico. Aku berusaha untuk mengontrol diri agar tidak menyakiti istrimu.
Setitik air mata jatuh dari pelupuk mata Naima, ia membiarkan air mata tersebut mengalir begitu saja tanpa diketahui oleh Zico yang sedang fokus menyetir.
Lima belas menit berikutnya, mobil mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan supermarket besar yang ramai pengunjung. Zico turun lebih dulu dan berdiri menunggu Naima keluar.
__ADS_1
Naima pikir Zico akan memperlakukan dirinya seperti tadi. Tapi ternyata tidak. Mungkin Zico memang paham akan maksudnya. Dan baginya seperti itu lebih baik.
_Bersambung_