
Enam bulan yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Zico harus stay bersama Naima sebab ia tahu dalam waktu dekat Naima pasti akan segera melahirkan. Ia sudah menawarkan operasi caesar pada wanita itu, namun dia menolak. Naima hanya ingin melahirkan secara normal agar ia tahu seberapa besar pengorbanan seorang dalam dalam menurunkan nyawa demi sang anak.
Zico pun menghargai keputusan Naima. Ia menunggu sampai tiba waktunya Naima melahirkan.
Dan hari ini, wanita itu tengah merintih kesakitan di bagian perutnya. Antara panik, khawatir dan senang berpadu menjadi satu. Apakah rasa sakit yang di alami Naima sekarang ini tanda ia akan melahirkan?
"Perutku sakit sekali. Aaawww ..."
"Kita ke rumah sakit sekarang, ya. Siapa tahu kau sudah waktunya melahirkan." Zico berusaha menjadi suami siaga untuk Naima.
Naima mengangguk setuju. "Iya."
Lantaran sudah tidak kuat lagi untuk berjalan, dengan penuh kehati-hatian Zico membopong tubuh Naima dan bergegas membawanya ke dalam mobil.
"Bertahan ya, Naima," ucap pria itu seraya mendaratkan tubuh wanita itu di jok depan bagian samping kemudi.
"Aaahh ... Ini sakit sekali, Zico. Aaahhh ..."
Naima terus merintih kesakitan. Sepertinya ia sedang mengalami kontraksi.
Zico berjalan mengitari mobil dan masuk ke dalam mobil tersebut.
"Bertahan ya, Naima. Kita ke rumah sakit terdekat sekarang."
"Sakit, Zico .. Sakiiittt ..."
Zico mulai menghidupkan mesin mobil dan mobil pun melesat pergi meninggalkan halaman rumah.
__ADS_1
Beruntung Naima merasa kontraksi masih sore, jika malam pasti sudah panik tidak karuan.
Selama perjalanan, Naima terus merintih kesakitan. Bahkan wajah wanita itu sudah pucat. Darahnya seakan habis terserap oleh tenaganya. Zico semakin di buat panik, ia khawatir terjadi sesuatu buruk pada Naima maupun pada bayinya.
"Zico ... Sakiiittt ..." Keringat dan peluh air mata mengalir secara bersamaan di wajah Naima, bahkan sekujur tubuhnya sudah basah oleh keringat dingin.
Zico meraih buah tangan Naima guna menyalurkan kekuatan.
"Bertahan ya, Naima. Sebentar lagi kita sampai. Bertahan, ya."
Lantaran sakit sekali, Naima sampai menangis saking tidak kuatnya. Sesakit inikah kontraksi? Mungkin inilah yang di rasakan oleh semua ibu ketika akan melahirkan.
Perasaan cemas dan panik kian bertambah begitu Zico melihat cairan putih bening yang mengalir di kaki Naima. Cairannya sudah pecah. Itu artinya Naima sudah harus segera melahirkan.
Sekujur tubuh Naima terasa sangat lemas. Rasanya ia sudah tidak lagi memiliki tenaga. Zico takut Naima sampai pingsan.
"Bertahan ya, sayang. Kau pasti bisa," ucap pria itu nyaris tak terdengar.
Namun di telinga Naima, ucapan itu sangat jelas terdengar. Ia menoleh ke arah pria itu yang tampak begitu panik. Naima mengulas senyum tipis, berusaha meyakinkan Zico jika ia baik-baik saja.
Lima belas menit berikutnya, Naima sudah di bawa ke ruang bersalin. Zico meminta izin untuk ikut masuk ke dalam guna menemani Naima melahirkan. Beruntung pihak rumah sakit mengizinkan.
"Bertahan, ya. Aku yakin kau wanita kuat. Bertahan demi anak kita," ucap pria itu berusaha menyalurkan kekuatan.
Begitu Dokter memberi instruksi agar Naima segera melahirkan, Naima pun mengikuti apa yang di katakan oleh Dokter.
Di hejanan pertama dan kedua, Naima masih memiliki sisa tenaga. Namun di hejanan ketiga, ia sudah tidak kuat lagi. Ia ingin menyerah dan memberitahu nya dengan cara menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Ayo, bu. Mengejan lagi. Sedikit lagi. Ayo, bu." pinta sang Dokter namun Naima tetap menggeleng.
Zico semakin di buat takut, ia takut jika salah satu di antara mereka tidak terselamatkan. Terutama bayinya.
"Naima .. Ikuti perintah Dokter, ya. Kau dan bayi nya harus selamat. Aku tidak ingin kehilangan kalian. Semangat ya, sayang .."
Kalimat bisikan Zico seolah memberinya kekuatan. Ia menatap wajah Zico yang saat ini memberinya senyum termanis. Naima mengangguk dan mencoba untuk melakukan apa yang di perintahkan oleh Dokter.
"Mengejan sekali lagi ya, bu," pinta Dokter ith di angguki oleh Naima.
"Tarik napas ... Hembuskan secara perlahan dari mulut. Ulangi sampai ibu merasa siap untuk mengejan kembali."
Naima mengikuti instruksi Dokter.
"Lakukan sekarang, bu," pinta Dokter tersebut agar Naima mengejan sekarang.
"Emmmmm ...." Naima mencoba untuk mengejam, Zico memegangi tangan Naima dengan sangat erat.
"Ayo, bu. Sekali lagi," pinta sang Dokter.
"Eeemmmmm ...."
"Sekali lagi, bu."
"Eeeemmmmmmm ...."
Naima mengejan dengan sisa tenaga yang ia miliki. Hingga ia mendengar suara tangisan bayi. Ia menghembuskan napas dan merasa telah menjadi ibu yang sempurna.
__ADS_1
_Bersambung_