
Usai membeli handphone beserta dengan SIM card nya, Zico kembali ke rumah sakit untuk memberikan handphone tersebut pada Naima. Ia meminta suster yang kebetulan lewat depan ruang rawat bu Maya untuk memanggil Naima di dalam. Sebab ia tidak mungkin masuk ke ruangan tersebut, itu sama sekali akan membahayakan dirinya. Ibunya Naima pasti akan bertanya-tanya kenapa ia bisa kembali muncul di hadapan mereka.
Tidak berapa lama, Naima keluar dari ruangan tersebut. Zico merasa heran begitu Naima menengok ke kiri dan ke kanan seperti orang yang takut akan sesuatu.
"Kau kenapa?" tanya Zico mengikuti arah pandang Naima.
"Jika ingin ada yang kau bicarakan, sebaiknya kita ke tempat lain saja. Di sini tidak aman."
"Maksudmu?"
"Nanti aku akan jelaskan, ayo ikut aku."
Naima pergi lebih dulu sementara Zico masih terdiam di tempat. Sebelum kemudian ia pergi untuk menyusul ketertinggalan langkah Naima.
Naima membawa Zico menuju taman rumah sakit yang terdapat di bagian belakang gedung rumah sakit tersebut. Sepertinya di sana tempat yang cukup aman. Tidak akan ada pasang mata yang mengenali dirinya maupun Zico.
"Tolong jelaskan padaku, ini ada apa?" seru Zico.
__ADS_1
"Zico, ini gawat. Seseorang mengenali dirimu saat kau mengantarku tadi pagi," jelas Naima.
Zico mengertukan keningnya dalam. "Siapa?"
"Arsa," jawab Naima.
"Arsa?" ulang pria itu di angguki oleh Naima.
"Ya."
"Arsa seringkali menjenguk sepupunya yang sedang di rawat di ruang yang bersebelahan dengan ruang rawat ibu. Tadi pagi dia menghampiri aku dan dia bertanya-tanya soal dirimu. Dia mengenali dirimu dari postur tubuhnya meski dari belakang. Beruntungnya aku berhasil meyakinkan dirinya jika kau dia maksud itu bukanlah Zico dirimu, melainkan Daniel suamiku. Aku terpaksa harus menggunakan nama samaran."
Zico terdiam untuk beberapa saat.
"Arsa juga bilang padaku, jika orang yang ia kira dirimu, merupakan suami dari teman sepupunya. Dan beberapa waktu lalu, aku pernah bertemu dengan wanita yang tidak sengaja menabrak ku di lorong rumah sakit. Dia mengaku sebagai teman dari pasien yang di rawat di ruang mawar, yaitu sepupunya Arsa. Apakah wanita itu benar istrimu?"
Zico melebarkan iris matanya. Ingatan nya seketika menarik paksa pada beberapa hari ke belakang. Jika Aylin sempat meminta izin untuk pergi ke rumah sakit menjenguk temannya. Apakah teman yang di maksud Aylin itu Loly sepupu Arsa yang Naima maksud barusan? Jika benar, maka Naima benar-benar bertemu dengan Aylin. Dan itu akan menjadi bahaya bagi dirinya.
__ADS_1
Zico memberikan paper bag berukuran kecil yang ia bawa di tangannya pada Naima.
"Sesuai janjiku, aku akan membelikanmu ponsel. Ini sudah aku pasang SIM card di dalamnya dan aku sudah menyimpan nomer telepon ku. Kau bisa gunakan handphone ini dan menghubungi ketika kau membutuhkan diriku."
Naima menerima ponsel tersebut. "Terima kasih. Dengan begitu, aku juga bisa memberi tahu dirimu untuk tidak datang ke rumah sakit ketika Arsa ada."
"Tidak perlu khawatirkan soal itu. Aku bisa meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan ruang rawat ibumu."
"Benarkah?" seru Naima.
"Iya, sekarang juga aku akan meminta ibumu untuk di pindahkan ke ruang rawat lain."
"Baiklah kalau begitu, aku lega dengarnya."
Naima akhirnya merasa sedikit lebih lega, setelah beberapa waktu ia di buat gelisah gara-gara Arsa. Ia takut sekali jika Arsa memergoki dirinya bersama Zico, lalu pria itu akan mengadu pada istri pertama suaminya juga. Maka tamatlah riwayatnya.
_Bersambung_
__ADS_1