
Zico menghembuskan napas lega usai menembakan cairan yang akan menjadi benih di dalam rahim Naima. Pria itu duduk dengan kepala menyandar di sandaran tempat tidur, kedua matanya terpejam. Ia baru saja melakukan pengkhianatan kedua setelah memperistri wanita selain Aylin.
Sementara wanita di sebelahnya sibuk menyeka keringat yang bercucuran di pelipis. Padahal kamar hotel tersebut memiliki dua buah pendingin ruangan.
Peluh dan air matanya mengalir secara bersamaan di pipi Naima. Wanita itu menyelimuti tubuhnya yang baru saja di jammah oleh Zico. Ia merasakan sakit dan perih di bagian **** ***** nya. Terlebih ia di kejutkan oleh noda merah di sprei putih.
"Kenapa?" tanya Zico kemudian mengikuti arah pandang Naima. Kini ia paham kenapa Naima terlihat begitu ketakutan.
"Darah itu menandakan jika dirimu masih perrawwan. Kau tidak perlu takut, itu hal yang biasa. Sebab ini pertama kali kau melakukannya," jelas Zico.
"B-benarkah?" Naima memastikan dan mendapat anggukan dari Zico. "Tapi ini masih sakit dan sangat perih," keluhnya kemudian.
"Itu juga hal biasa. Besok pagi sakitnya akan hilang. Kau tidak perlu khawatir."
Naima mengatupkan bibirnya membentuk garis lurus. Zico mengatakan hal itu biasa, padahal ia merasakan sakit yang sangat luar biasa. Ia merasa sesuatu di dalam sana robek yang menyebabkan **** ***** nya mengeluarkan darah segar.
"Ah ya, tolong ambilkan ponselku," pinta Zico menunjuk ke arah ponselnya yang tergeletak di atas nakas samping Naima.
Naima mengambilkan lalu memberikannya.
Begitu Zico menekan tombol power, ia mendapati panggilan masuk tidak terjawan sebanyak tujuh kali dari Aylin.
"Aylin melakukan panggilan sebanyak ini? Ada apa dengan dia?" pikirnya.
__ADS_1
Zico jadi cemas, ia khawatir terjadi sesuatu buruk pada Aylin.
Ia membuka room chat dan mendapat spam chat dari Aylin.
My Aylin:
Sayang, kau dimana?
Kenapa tidak menjawab telepon ku?
Kau tidak apa-apa kan?
Sayang, tolong jawab telepon ku?
Jangan buat aku khawatir, tolong jawab telepon ku sekarang juga!
Sayang
Zico
P
P
__ADS_1
P
Sayang
"Kenapa tiba-tiba Aylin mengkhawatirkan aku? Apa dia memiliki feeling yang kuat dengan apa yang sedang terjadi padaku?" ujarnya lirih.
"Apa yang terjadi?" tanya Naima, ia melihat perubahan di wajah Zico usai melihat ponselnya.
"Aku harus pergi sekarang," jawab pria itu dan segera memakai kembali pakaiannya.
Melihat Zico terburu-buru, Naima yakin jika itu ada hubungannya dengan istrinya. Meski ia istrinya juga, ia tidak berhak mencegah pria itu.
Setelah memakai kembali pakaiannya, Zico memutuskan untuk pergi. Tapi sebelum itu, ia memberi pesan pada Naima.
"Tolong jaga benih yang aku tanam di dalam rahimmu dengan baik. Aku harus pergi sekarang. Dan aku tidak bisa janji kapan aku bisa menemuimu lagi."
Zico bergegas pergi dengan langkah tergesa. Meninggalkan Naima yang tidak bisa berbuat apapun selain diam.
Naima melihat ke arah perginya Zico, pria itu sudah pergi dari sana. Naima menatap perut datarnya lalu mengusapnya dengan lembut.
Kalimat Zico barusan kembali terngiang di telinganya. Apa setelah ini ia akan hamil?
Sedikit takut, tapi mau tidak mau ia harus bisa menghadapi ketakutan nya sendirian. Seperti yang Zico katakan barusan, jika dia tidak berjanji kapan dia akan datang untuk menemuinya lagi. Itu artinya ia akan benar-benar sendiri nanti. Dan ini akan menjadi konsekuensi yang harus ia terima.
__ADS_1
_Bersambung_