
Tepat jam sebelas malam Zico sampai di rumahnya. Ia melangkah masuk lantaran pintu depan tidak di kunci. Begitu hendak menuju kamar, langkahnya terhenti di ruang televisi. Pandangannya tertuju pada wanita yang tertidur di sofa dengan posisi duduk.
"Ah ya ampun, Aylin ..."
Zico bergegas menghampiri istrinya dan duduk di samping wanita tersebut.
Tangan Aylin memegangi ponsel dan kedua pipinya terdapat sisi air mata yang mengering.
"Dia pasti mengkhawatirkan aku," ucap Zico penuh rasa bersalah.
Zico mengusap lembut sisa-sisa air mata di wajah Aylin. Kemudian mengalihkan anak sulur rambut yang menghalangi wajahnya. Sampai akhirnya ia berhenti dan menatap wajah Aylin dengan lekat.
Satu jam lalu ia baru saja mengkhianati Aylin dengan Naima. Ia baru saja melakukan hubungan baddan dengan mengharapkan seorang anak yang tidak akan pernah bisa Aylin berikan untuknya.
Beberapa minggu terakhir, mereka punya rencana untuk mengadopsi anak di panti asuhan. Hanya saja Zico menolak. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih berharap memiliki anak dari benihnya sendiri, darah dagingnya sendiri.
Jujur, yang ia lakukan ini pasti akan mendapat beragam kritik dan komentar kurang mengenakan bagi siapapun yang mengetahui nya. Tapi hanya dia yang akan membenarkan semua ini, sebab dia yang merasakan jalan hidupnya.
Ia juga berharap di antara banyak orang yang tahu tentang masalah ini, hanya Aylin saja yang tidak boleh tahu. Ia tidak ingin kehilangan Aylin, wanita yang sangat ia cintai. Meski apa yang di lakukannya sekarang sembilan puluh sembilan persen akan membuatnya harus kehilangan sangat istri tercinta, Aylin.
__ADS_1
Zico tidak berniat untuk membangunkan Aylin, ia akan membopong tubuh wanita itu untuk memindahkannya ke kamar. Baru saja akan melakukannya, kelopak mata Aylin sudah bergerak-gerak dan perlahan terbuka.
Kedua mata Aylin yang semula terbuka setengah, kini terbuka sempurna begitu melihat sosok yang ia khawatirkan sudah di depan mata.
"Sayang ..." seru Aylin dengan menangkup kedua pipi suaminya.
"Iya, sayang. Ini aku," sahut Zico dengan seulas senyum yang menyejukan.
Wajah Aylin berubah antara senang dan masih menyisakan cemas. Ia meraba seluruh permukaan tubuh Zico, memastikan jika suaminya itu baik-baik saja.
"Sayang, kau tidak apa-apa, kan? Kau tidak terluka, kan? Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tidak menjawab telepon ku?" Aylin mencecar Zico dengan sederet pertanyaan.
Zico meraih kedua buah tangan Aylin dan menggenggam nya dengan erat.
"Kau sibuk dengan urusan pekerjaan mu, ya?" pangkas Aylin membuat Zico diam sejenak sebelum kemudian mengangguk.
"Iya, aku harus menyelesaikan pekerjaanku malam ini. Oleh karena itu aku tidak sempat mengangkat telepon ku. Maafkan aku .." ucap Zico.
Aylin menghela napas lega. "Syukurlah jika kau baik-baik saja. Aku cemas, Zico. Entah kenapa perasaanku tidak enak dan pikiranku terus tertuju padamu. Aku pikir terjadi sesuatu padamu di luar sana. Maaf ya jika aku terlalu berlebihan sampai mengganggu mu di sana. Aku hanya ingin memastikan saja jika kau baik-baik di sana. Maaf, ya .."
__ADS_1
Zico menunduk sekilas, ia merasa sangat bersalah. Feeling Aylin sangat kuat terhadap dirinya, itulah kenapa Aylin bisa mengkhawatirkan nya sebesar itu. Ia merasa sangat bersalah, membiarkan Aylin tersiksa dengan kekhawatiran nya, sementara ia di sana sedang bersama wanita lain.
Zico kembali menatap kedua manik mata Aylin, dan tangannya kini menangkup sebelah pipi wanita itu.
"Apa yang terjadi sampai kau tiba-tiba mengkhawatirkanku?" tanya Zico kemudian.
"Foto pernikahan kita yang di atas nakas kamar terjatuh hingga serpihan kaca nya melukaiku."
Jawaban Aylin seketika membuat kedua mata Zico terpejam dengan hembusan napas kecil. Pantas saja Aylin sampai mengkhawatirkan nya, ternyata ada sesuatu memberi tahunya lewat itu.
"Setelah foto pernikahan kita itu terjatuh akibat tidak sengaja tersenggol, pikiranku langsung tertuju padamu. Aku khawatir terjadi sesuatu di sana. Aku takut sekali, sayang. Oleh karena itu aku berulang kali menghubungi lewat panggilan telepon dan chat tapi kau tidak menjawab maupun membalas chat-ku. Pikiranku tertutup oleh ketakutan, sehingga aku tidak bisa berpikir dengan baik, jika sebenarnya kau sedang bekerja. Maaf, ya ..." jelas Aylin.
"Tidak perlu minta maaf, sayang. Ini bukan salahmu. Aku yang salah karena sudah mengabaikan telepon dan chat-mu. Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah membuatmu khawatir, cemas, takut bahkan panik. Maafkan aku, ya. Sekarang aku sudah di sini, jadi kau tidak perlu khawatir lagi."
Aylin mengangguk. "Iya, aku sudah tenang sekarang."
Zico membawa Aylin ke dalam pelukan, ia menghujani puncak kepala Aylin dengan kecupan kasih sayang.
Maaf, Aylin. Bukannya aku tidak menerima kekurangan yang ada pada dirimu. Tapi aku ingin memiliki seorang anak dari darah dagingku sendiri. Aku janji, setelah anakku lahir nanti, aku akan kembali seutuhnya menjadi milikmu, Aylin sayang.
__ADS_1
Zico mengeratkan kembali pelukannya, membellai lembut rambut Aylin lalu menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya di bagian bahu.
_Bersambung_