Sang Rahim Bayaran

Sang Rahim Bayaran
Teman Toxic


__ADS_3

Zico membawa istrinya keluar dari acara pesta pernikahan Sitya dan membawanya kembali ke dalam mobil.


Wajah pria itu merah padam menahan amarah. Ia menatap Aylin seraya memegangi kedua bahu wanita tersebut.


"Are you okay?" tanya Zico dengan nada lirih dan lembut, ia ingin memastikan jika istrinya baik-baik saja, meski ia tahu Aylin pasti luka.


Aylin mengangguk. "Ya, aku baik-baik saja."


Zico menghapus sisa air mata di pipi Aylin, berani-beraninya Sitya melontarkan kalimat yang meninggalkan sayatan di hati istrinya.


"Sayang, dengarkan aku! Tinggalkan teman seperti Sitya. Dia membawa pengaruh buruk. Dia bukan wanita yang pantas kau jadikan teman, dia toxic. Jadi, jangan lagi berhubungan dengannya," pinta Zico penuh harap, ia tidak ingin wanita itu melukai istrinya lagi.


Aylin mengangguk. "Iya. Aku juga tidak menyangka jika dia setega itu padaku."

__ADS_1


"Dia sedang menunjukan sifat aslinya padamu. Jadi berhenti berhubungan dengan orang seperti dia," pinta Zico dengan tegas.


"Iya, sayang." jawab Aylin patuh.


Setelah ia Zico menghidupkan mesin mobilnya dan menancap gas melesat pergi dari sana. Meninggalkan tempat parkir acara pesta pernikahan yang berujung dengan perdebatan.


***


"Ternyata sebesar ini perjuangan seorang ibu untuk anaknya. Nikmat sekali ya Tuhan."


Naima duduk menyandar di sandaran ranjang tempat tidur dengan perut yang tak henti mengusapi bagian perutnya yang masih datar. Yang ia alami saat ini belum seberapa. Ia pikir sembilan bulan itu waktu yang singkat, ternyata satu hari saja rasanya sudah tidak kuat.


Hari ini ia terus bolak-balik kamar mandi hanya untuk muntah. Ia merasa sekujur tubuhnya lelah tidak bertenaga. Baru lima menit istirahat duduk, ia sudah ingin muntah lagi. Terpaksa ia bangun dari duduknya dan bergegas pergi menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Hoekss ... Hoekss ... Hoekss .."


Berulang kali Naima mengeluarkan cairan putih bening dari mulutnya. Napasnya kini terdengar sedikit memburu.


"Ya Tuhan ... Jika aku seperti ini terus menerus, aku bisa sakit. Jika aku sakit, siapa yang akan menemani ibu di rumah sakit? Aku tidak ingin membiarkan ibu sendiri kesepian di sana. Tapi kalau aku kesana sekarang-sekarang, ibu pasti akan curiga karena mual dan muntah ku terus saja berlanjut. Semoga besok mual nya sudah berkurang."


Naima kembali ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sederhana. Ia menatap langit-langit kosong. Ternyata tidak semudah yang ia bayangkan seperti sebelumnya. Ia harus melewati fase yang sulit seorang diri.


"Aku tidak berharap Zico untuk berada di sisiku selama kehamilan ini. Sebab ini sudah menjadi kesepakatan kita dalam sebuah perjanjian. Dia juga sudah bilang tidak bisa menemuiku dalam waktu yang tidak di tentukan. Jadi aku harus kuat, aku tidak boleh mengeluh begitu saja. Aku pasti bisa melewati semua ini sendiri. Yang terpenting ibu sembuh," ucap nya pada diri sendiri.


Naima menghela napas kecil, ia berusaha menguatkan dirinya sendiri. Jika ia mampu melewati semua ini seorang diri. Ia membenarkan posisi tidurnya ke posisi yang lebih nyaman lagi. Kemudian menarik selimut menutupi sekujur tubuh kecuali kepala. Rasa kantuk mulai datang, kedua matanya lekas terpejam. Naima sudah masuk ke alam mimpi.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2