Sang Rahim Bayaran

Sang Rahim Bayaran
Membaik


__ADS_3

Naima melangkah masuk ke ruang rawat ibunya. Wanita paruh baya itu tengah berbaring dalam keadaan tertidur. Ia menarik kursi yang terdapat di samping ranjang pasien, lalu mendaratkan tubuhnya di sana.


Naima menatap wajah sang ibu dengan seulas senyum kecil yang mengembang di bibirnya. Ibunya sudah tampak segar dan semakin hari semakin membaik.


Kedua manik mata wanita itu tertuju pada tangan ibunya yang tidak terpasang selang infus. Ia raih tangan tersebut kemudian menggenggam nya. Naima kecup punggung tangan itu cukup dalam dan sedikit lama.


"Cepat sembuh dan sehat kembali seperti dulu ya, bu. Agar pengorbanan aku tidak sia-sia," ucapnya lirih.


"Pengorbanan apa?"


Pertanyaan tersebut tiba-tiba membuat Naima terkejut. Ia yang semula sedang mencium punggung tangan sang ibu kini beralih menatap wajah wanita paruh baya itu.


"Ibu?" Naima kelihatan gugup, wajahnya sedikit menegang. Namun ia berusaha untuk menetralisir dan berusaha untuk tetap tenang.


"Pengorbanan apa yang kau maksud, Naima?" ulang bu Maya.


Naima menggeleng. "Tidak, bu. Maksud aku, aku telah meminjam uang pada orang itu dan aku harus membayarnya dengan kerja di perusahaan nya," jawab Naima lagi-lagi harus berbohong.


"Ibu merasa pengorbanan yang kau maksud itu sesuatu yang besar, Naima. Apa kau tidak sedang berbohong pada ibu? Sebab ibu merasa kau menyembunyikan sesuatu dari ibu. Tapi apa?"


"Tidak ada yang aku sembunyikan dari ibu. Sudahlah, jangan bahas ibu lagi. Bukankah ibu berjanji tidak akan membahas hal itu lagi. Yang terpenting ibu sembuh dan sehat."

__ADS_1


Bu Maya menatap wajah Naimaa. Ia tahu betul seperti apa putrinya. Dan ia masih merasa jika Naima memang menyembunyikan hal besar darinya.


"Ah ya, bagaimana kondisi ibu sekarang? Apa sudah lebih baik?" Naima berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


Bu Maya mengangguk. "Alhamdulillaah ... Ibu sudah merasa lebih baik. Terima kasih atas pengorbanan nya, nak. Meski ibu tidak tahu pengorbanan mu yang sebenarnya."


"Ibu, aku mohon jangan berkata seperti itu lagi. Aku merasa ibu menyudutkan aku, padahal aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya pada ibu. Aku mohon, jangan mencurigai aku seperti itu lagi, ya." pinta Naima seraya menelungkupkan kedua tangannya memohon.


"Baiklah, ibu tidak akan membahas hal itu lagi. Kau sendiri, bagaimana keadaannya sekarang? Ibu khawatir kau kenapa-kenapa, sebab kau berhari-hari tidak datang ke sini."


Naima terdiam sejenak. Ia tidak boleh mengatakan alasan yang sebenarnya.


"Tidak perlu meminta maaf, seharusnya ibu yang meminta maaf karena selalu merepotkan mu, nak."


Naima menggeleng. "Tidak, tidak. Ibu sama sekali tidak pernah merepotkan aku. Yang aku lakukan semua ini semata untuk membalas jasa ibu. Meski aku bertaruh nyawa sekalipun, itu tidak akan bisa sebanding dengan pengorbanan ibu untukku. Jadi berhenti merasa bersalah."


Bu Maya mengangguk. "Iya, terima kasih banyak, sayang. Terima kasih sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk ibu."


"Sama-sama, ibu," balas Naima.


Seorang suster yang masuk ke dalam ruangan tersebut menghentikan obrolan di antara keduanya.

__ADS_1


"Permisi ..."


"Iya, sus. Ada apa?"


"Saya ke sini untuk mengganti botol infus ibu Maya," jawab suster itu.


Kedua mata Naima langsung tertuju pada botol infus ibunya yang sudah hampir habis.


"Ah iya. Silahkan, sus."


Suster itu mengangguk dan mulai mengganti botol infus yang sudah hampir habis itu dengan botol yang baru. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, suster tersebut sudah berhasil mengganti botol infus nya.


"Kalau begitu saya pamit permisi," pamit suster itu di angguki oleh Naima.


"Terima kasih, sus."


"Terima kasih, Suster." ucap Naima dan ibunya hampir bersamaan.


Suster itupun pergi, Naima dan ibunya melanjutkan obrolan seputar keluarga kecilnya dulu, sebelum sosok pria terhebat dalam hidupnya, yakni suami bu Maya sekaligus ayah dari Naima pergi meninggalkan mereka selamanya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2