
Zico memandang wajah bayi yang saat ia gendong dengan uraian air mata haru, air mata bangga, air mata bahagia lantaran hari ini ia telah resmi menjadi sosok papa bagi malaikat kecilnya yang berjenis kelamin perempuan.
Kemudian pandangannya beralih pada Naima yang sedari memperhatikan dirinya. Wanita hebat yang telah melahirkan anak untuknya. Melihat sebegitu besar perjuangan Naima membuat Zico kini berada di ambang dilema. Satu sisi ia tidak tega memisahkan bayi tersebut dari Naima, namun di sisi lain semua sudah menjadi sebuah kesepakatan dalam perjanjian sebelumnya. Ia juga sudah berjanji pada Aylin untuk segera mengadopsi anak dan anak tersebut adalah anaknya sendiri.
"Naima-"
"Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu, Zico," pungkas wanita itu. "Aku tidak apa jika kau ingin membawa putriku pada mbak Aylin. Kau tenang saja, aku tidak akan ingkar. Aku ikhlas. Tolong besarkan putriku dengan penuh cinta dan kasih sayang."
Mendengar kalimat yang di ucapkan Naima barusan membuat Zico semakin berat untuk menentukan pilihan.
"Bukan hanya itu. Dalam perjanjian itu juga tertulis jika aku sudah melahirkan makan hubungan kita akan selesai. Oleh karena itu aku akan minta padamu untuk menyudahi hubungan ini. Aku tidak apa-apa," ucap wanita itu seraya menahan air mata yang mendesak untuk keluar.
"Naima, maafkan aku. Aku-"
"Aku baik-baik saja, Zico. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bisa jaga diri. Mbak Aylin lebih penting dariku. Terima kasih. Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan padaku. Aku senang bisa mengenalmu. Kau orang paling baik yang pernah aku temui selama ini. Kau bukan tipe orang yang suka membuang waktu. Oleh karena itu, sudahi hubungan di antara kita sekarang juga. Aku akan terima apapun keputusannya," ucap Naima pasrah, ia tidak mengharapkan apapun lagi dari pria itu.
Zico terdiam. Ia tidak bisa mengambil keputusan saat itu juga. Ia sedang di hadapkan oleh pilihan sulit.
__ADS_1
"Tidak, Naima. Tidak sekarang. Aku tidak bisa memutuskan nya sekarang," sahut Zico setelah beberapa saat terdiam.
"Kenapa? Apa yang kau tunggu? Bukankah sekarang waktu yang tepat?"
"Aku tidak setega itu padamu. Jangan bahas itu dulu. Sekarang kita pikirkan saja nama untuk malaikat kecil kita yang cantik ini."
"Kita?"
"Ya, kita. Lalu siapa lagi?"
"Kenapa tidak mencari nama bersama mbak Aylin saja. Bukankah itu akan lebih menyenangkan?" seru Naima lagi-lagi membuat Zico bungkam sejenak.
Naima bergeming. Ya, bagaimanapun dia adalah ibunya. Yang sudah melahirkan anak itu. Meski pada akhirnya putrinya akan menjadi milik orang lain, ia tetap saja ibunya yang memiliki hak penuh atas itu.
Setelah lama berpikir, akhirnya Naima mendapat nama yang bagus untuk putrinya.
"Aku punya satu nama untuknya."
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Zico penasaran.
"Ziana. Bagaimana? Apa menurutmu itu bagus?"
"Sangat bagus. Aku setuju anak ini kita beri nama Ziana. Zico and Naima."
Zico kembali menatap wajah bayi mereka.
"Hallo, baby Zaina ..." ucapnya kemudian mendapat respon berupa senyum kecil.
Zico dan Naima saling memandang begitu melihat bayi mereka tersenyum begitu mendengar pemberian nama dari mereka.
"Naima, dia tersenyum," kata Zico di angguki oleh Naima.
"Iya, manis sekali dia," sahut Naima.
Bayi tersebut begitu menggemaskan. Zico sangat beruntung memilikinya. Semburat kebahagiaan terpancar di wajah keduanya terutama Zico yang selama ini menanti kehadiran sang buah hati.
__ADS_1
_Bersambung_