Sang Rahim Bayaran

Sang Rahim Bayaran
Kecurigaan Aylin


__ADS_3

Setelah kepergian ibunya, Naima meminta waktu untuk sendiri. Ia butuh ruang untuk memulihkan perasaannya.


Zico paham bagaimana perasaan Naima. Wanita itu juga meminta untuk tinggal di rumahnya sementara untuk melepas rindu terhadap sang ibu. Rumah yang penuh akan kenangan. Tapi Zico memberi peringatan agar Naima tidak terlalu lama tinggal di sana. Takutnya ada tetangga di sana yang sadar akan kehamilannya.


Sementara Naima tinggal di sana dan meminta ruang untuk sendiri dulu, Zico kembali ke rumah yang ia tempati bersama Aylin. Wanita itu merasa senang, sudah satu minggu suaminya full di rumah selain ke kantor. Biasanya dalam waktu seminggu ada saja urusan yang mengharuskan pria itu menginap. Entah urusan apa, ia tidak tahu.


Aylin menghampiri suaminya yang tengah duduk di sofa ruang keluarga. Televisi nya menyala, namun sama sekali tidak di tonton. Ia merasa ada sesuatu yang tengah suaminya pikirkan, dan itu tampak sangat berat.


"Sayang ..." panggil Aylin seraya duduk di sisi kosong sebelah suaminya.


Zico terlonjak mendapati kedatangan Aylin yang tiba-tiba.


"Hm, iya. Ada apa?"


Aylin mengerutkan dahinya. "Aku tidak mengejutkanmu, tapi kenapa respons mu seperti orang yang terkejut begitu aku panggil."


Zico tampak sedikit gugup. Ia berusaha untuk menetralisir kegugupan nya agar Aylin tidak curiga.


"Ada masalah apa sebenarnya sampai akhir-akhir aku lihat kau terus saja melamun?" tanya Aylin lagi, tidak biasanya Zico seperti ini.


"Biasa, hanya urusan kantor, sayang," jawab Zico bohong.


"Tapi kau terlihat tidak seperti biasanya. Memangnya masalah apa yang membuatmu sampai seperti ini? Bukankah hampir setiap hari kau menginap untuk urusan pekerjaan? Sampai waktumu habis untuk itu."

__ADS_1


"Aylin, kenapa kau bicara seperti itu?"


"Karena aku merasa akhir-akhir ini kau tidak lagi punya waktu untukku. Sebenarnya kau pergi kemana? Untuk apa?" seru wanita itu berusaha mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam.


Zico terdiam mendengar ungkapan isi hati Aylin. Ia tatap wanita itu dengan tatapan cukup dalam dan penuh rasa bersalah. Selama ia memutuskan untuk selalu ada di samping Naima karena kehamilannya, ia jadi jarang ada waktu untuk Aylin. Selama ini Aylin diam dan tidak banyak bertanya, tapi sekarang Aylin mulai curiga. Mungkin ia harus berhati-hati lagi.


Zico meraih buah tangan Aylin dan menggenggamnya dengan erat. Sepasang mata mereka bertemu.


"Sayang, aku minta maaf. Akhir-akhir ini aku memang selalu di sibukkan oleh urusan pekerjaan. Aku minta pengertianmu, sayang. Aku harap kau bisa mengerti. Dan aku janji akan berusaha meluangkan waktu untukmu. Dan satu hal lagi, kau harus percaya sama aku. Okay?!"


Aylin diam, ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Satu-satunya cara agar Zico tidak terlalu mengutamakan pekerjaannya yaitu dengan menghadirkan seorang anak di rumah. Dengan begitu, Zico pasti akan banyak menghabiskan waktunya untuk keluarga.


"Boleh aku minta satu permintaan?" tanya Aylin setelah beberapa saat terdiam.


"Aku ingin kita mengadopsi seorang anak dari panti asuhan."


Zico terkejut dengan permintaan Aylin. Sebelumnya Aylin memang sudah pernah meminta hal itu, tapi kali ini tentu saja reaksinya berbeda, sebab sebentar lagi ia akan mempunyai anak hasil dari darah dagingnya sendiri. Ia harus bisa menahan keinginan Aylin sampai waktu anaknya lahir tiba.


"Sayang-"


"Aku tahu kau pasti mau menolak permintaanku bukan?" pangkas Aylin. "Kau selalu bilang kita tidak perlu adopsi anak dan masih mengharapkan kita akan mempunyai anak. Padahal sudah jelas kau tahu kenyataannya seperti apa. Jalan satu-satunya kita harus adopsi anak karena sampai kapanpun kita tidak akan pernah memiliki nya."


"Aylin dengarkan aku dulu." Zico menangkup kedua pipi wanita itu. "Aku paham, aku mengerti dan aku tidak pernah mempermasalahkan kekuranganmu. Tapi kita juga harus lihat dulu situasinya seperti apa. Sekarang aku sedang di sibukkan oleh pekerjaan. Aku belum punya waktu untuk itu."

__ADS_1


"Lalu kapan? Kapan, Zico? Kau tahu selama kau tidak ada di rumah aku merasa kesepian? Rumah terasa hampa dan sunyi. Aku menginginkan seorang anak agar aku punya teman."


"Tunggu eman bulan lagi."


Kalimat Zico barusan membuat Aylin langsung terdiam. Ia tatap wajah Zico dengan tatapan penuh selidik.


"Enam bulan? Kenapa aku harus menunggunya selama itu? Kenapa?"


Zico menarik napas panjang. Butuh kehati-hatian untuk menjelaskan itu semua. Sedikit saja salah, maka Aylin akan curiga padanya.


"Perusahaan akan kembali stabil selama enam bulan lagi. Dan aku harap kau mengerti dan percaya padaku. Itu saja. Setelah itu aku pasti akan mempunyai banyak waktu untukmu. Dan kita akan melakukan adopsi anak. Bagaimana?"


Jujur di sini Aylin masih tidak begitu percaya dengan ucapan Zico. Tapi pria itu berusaha untuk meyakinkannya.


"Apa kau serius dengan ucapanmu?"


Zico mengangguk. "Tentu saja."


Jawaban Zico seharusnya bisa membuat nya yakin, tapi entah kenapa ia masih merasakan keraguan.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu selama enam bulan lagi. Setelah perusahaan stabil, jangan menunda waktu lagi untuk melakukan adopsi."


"Iya, aku janji." ucap Zico dengan serius.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2