
"Sayang ... Kau kenapa? Sayang ..." Zico mencoba untuk menyentuh bahu istrinya, namun wanita itu dengan cepat menepis tangannya.
"Jangan sentuh aku lagi, Zico," seru Aylin dengan air mata yang terurai di pipinya.
Zico tentu saja tercengang melihat perubahan sikap Aylin yang tiba-tiba.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Zico memastikan tidak ada sesuatu yang terjadi pada wanita kesayangannya.
"Tega kau, Zico. Tega sekali kau berkhianat di belakang aku selama ini!" seru Aylin membuat wajah Zico menegang seketika.
"Kenapa, Zico? Kenapa kau bisa melakukan hal itu, hah? Kenapa? Kau bilang kau suami yang setia dan mau menerima kekurangan aku sebagai istrimu. Tapi di belakang ternyata kau menikahi wanita sempurna yang bisa memberikan apa yang tidak bisa aku berikan. Sakit, Zico. Sakiittt ..." Aylin menepuk dadanya cukup keras seolah sedang memberi tahu jika di dalam dadanya sedang terluka hebat.
"Sayang kau bicara apa?" Zico berusaha menyangkal.
__ADS_1
"Cukup, Zico. Cukup memboddohhi aku. Sekarang aku tahu kenapa kau tidak pernah mau memenuhi permintaan aku untuk mengadopsi anak dan kau masih mengharapkan anak hasil darah daging mu sendiri padahal sudah jelas aku ini tidak bisa memberi apa yang kau inginkan. Kenapa aku selalu bertanya apa kau sungguh-sungguh menerima kekuranganku? Karena aku selalu di hantui perasaan takut jika suatu saat kau meninggalkan aku untuk wanita yang sempurna. Kau selalu memberi jawaban jika kau menerima kekuranganku. Tapi sekarang? Ketakutan itu terjadi. Kau menikahi wanita lain secara diam-diam dan urusan pekerjaan yang selalu kau jadikan alasan itu ternyata bullshit!" seru Aylin memaki Zico habis-habisan.
Zico diam. Ia akui ia salah. Ia terima apapun yang di katakan oleh Aylin. Meski ia ingin sekali bertanya dari mana Aylin bisa tahu itu semua. Tapi Aylin pasti tidak akan mau menjawab pertanyaan itu.
"Pergi dari sini dan bawa anak itu, Zico. Dan aku sedang mengurus perceraiannya."
"Cerai?" Zico terkejut mendengar nya.
"Aylin, aku melakukan ini semua demimu juga. Tolong dengarkan penjelasan aku dulu agar kau bisa mengerti," pinta Zico seraya memohon namun Aylin tidak mau mendengar apapun itu.
"Pergi dari sini sekarang, Zico. Pergiiii ...!!!" seru Aylin seraya menunjuk ke arah pintu.
Sebenarnya Zico ingin sekali memberi penjelasan pada Aylin tentang apa yang terjadi sebenarnya. Tapi ia rasa itu semua akan sia-sia. Aylin tidak pernah mau menerima alasan apapun dari dirinya.
__ADS_1
"Iya, Aylin. Aku pergi. Maaf sudah membuatmu kecewa. Asal kau tahu, Aylin. Aku tidak benar-benar mengkhianati mu. Kau tetap satu-satunya wanita yang paling aku cintai."
Aylin tidak ingin mendengar apapun yang keluar dari mulut Zico. Ia ingin pria itu segera pergi dari hadapannya.
"Aku pamit, jaga dirimu baik-baik."
Zico melipir pergi dari sana dengan langkah yang terasa sangat berat. Hari yang ia kira akan menjadi hari penuh kebahagiaan justru malah menjadi hari yang sangat tragis.
Setelah Zico pergi dari sana, Aylin menumpahkan air matanya. Tangisnya pecah dan air matanya berjumlah ruah. Ia masih tidak menyangka jika Zico akan setega itu mengkhianati nya. Pria yang ia kira satu-satunya orang yang bisa menerima kekurangan nya ternyata sama saja dengan yang lain.
"Terima kasih, Arsa. Terima kasih karena kau sudah memberi tahu aku tentang kebusukan Zico. Aku tidak tahu jika kau tidak memergoki Zico di rumah sakit saat dia menemani istri keduanya melahirkan, mungkin saat ini aku masih percaya dengan apa yang di katakan olehnya." ucap Aylin bicara pada dirinya sendiri.
_Bersambung_
__ADS_1