Sang Serigala Malam

Sang Serigala Malam
BAB 18. PENYAKIT PEMALAS.


__ADS_3

Ran berjalan kekamar Lan dan membangunkannya.


"Lan bangun tuan kembali dan mencarimu." ucap Ran.


Lan yang sedang tertidur pulas merasakan gangguan menutup telinga dan wajahnya dengan guling.


Ran yang jengkel langsung mengangkat kaki adiknya itu dan menyeretnya ke tempat Roju.


"Hei hei kakak tidak bisakah kau tidak usah menyeretku seperti bangkai?" ucap Lan dengan kesal lalu bangun dan berdiri.


Ketika Lan melihat Roju, Lan menjadi panik.


"Hehehehehe Tuan mohon maaf saya tidak menyapa tuan ketika tuan datang." ucap Lan dengan wajah agak takut dan malu.


"Sudah sudah aku sedang dalam mood yang baik jadi tidak usah dipikirkan namun jika moodku sedang kurang bagus kupastikan kamu babak belur karena sulit jika dibangunkan." ucap Roju dengan tegas dan berwibawa.


"Kenapa tingkahnya malah mengikuti kebiasan ku yang suka tidur hemmmm jika mereka tau perilakuku akan hilang wibawaku hmmm." Roju membatin.


"Baik Tuan saya akan mendengarkan perintah tuan" ucap Lan dengan tegas.


"Bagus lah sebelum itu aku membawa hadiah untuk kalian." ucap Roju lalu mengeluarkan pil dan buku seni beladiri yang dia beli kemarin siang di Aula Misi.


"Terimakasih tuan kami akan menggunakan pil dan buku seni beladiri ini sebaik mungkin dan semaksimal mungkin." ucap Ran dan Lan kompak.


"Baiklah setelah ini aku akan pergi cukup lama kalian berlatihlah jika bisa kalian harus menerobos keranah hijau agar kalian tidak terlalu teringgal jauh di bawahku." perintah Roju pada dua kakak beradik itu.


"Siap lakasanakan Tuan." Jawab kedua orang itu dengan penuh tekad.


Roju lantas masuk kekamarnya dan mengambil tubuh binatang iblis Serigala bergaris perak dan memasukannya kedalam cincin dimensinya.


Roju pergi meninggalkan kedua saudara itu yang sedang memasak makan malam.


Disebuah hutan ada sebauh asap hitam yang sedang bergerak sedirian melintasi malam. Asap hitam itu perlahan lahan melambat dan menujukan bahwa yang terlihat adalah seorang pemuda yang tidak tampan dan tidak terlalu jelek.


****MENYATU DENGAN GELAPNYA MALAM AKAN MEMBUAT HATIMU MERASA SEDIKIT LEBIH TENANG*****

__ADS_1


Roju memperlambat jalannya ketika sudah mendekati kota Anggrek Bulan yang merupakan kota kecil. Di kota itulah Gedung Persatuan Alkemis.


"Hemmmm sekarang baru hari ke 5 baiknya aku cari penginapan saja lah." batin Roju.


Setelah berjalan melewati restoran Phonik Surgawi Roju terus berjalan hingga cukup jauh dan menemukan sebuah penginapan sederhana namun ramai.


"Permisi tuan apakah ada kamar yang kosong?" tanya Roju pada resepsionis.


"ada tuan namun hanya tinggal kamar yang cukup mahal harganya 150 koin emas untuk perharinya tuan." jawab pelayan itu dengan sopan.


"Baiklah aku sewa kamar itu satu minggu" ucap Roju lalu memberikan 1200 koin emas pada pelayan itu.


"ini terlalu banyak tuan" ucap pelayan itu.


"sudah tidak masalah kau ambil saja sisanya untuk beli jajan sempolan atau kue putu." ucap Roju.


"Baiklah tuan terimakasih banyak tuan sungguh orang yang baik." ucap pelayan itu lalu memberikan kunci kamar pada Roju.


"yasudah pergi dulu" ucap Roju lantas mengambil kunci dan pergi menuju kamar yang dia sewa.


"Hmmmm sepertinya suhu disini cukup dingin sebaiknya aku tidak usah mandi daripada nanti flu" batin Roju.


Roju yang malas mandi dan penyakit malasnya yang lain tiba-tiba menyerangnya. Roju yang diserang penyakit malasnya seketika terjatuh dan berguling - guling dikasur.


"Gimana kalo jalan - jalan cari jajan yah hmmmm." pikir Roju. Namun


"Hah sudah nyaman sama kasur ini mending tidur ajalah jajan gampang besok aja hahahahahaha" batin Roju. Tubuh Roju yang sudah dikuasai oleh penyakit malas menyebabkannya menjadi malas melakukan kegiatan apapun selain tidur dikasur.


Waktu berselang hingga ayam berkokok dan matahari mulai menampakan sinarnya. Disebuah kasur terlihat seorang pemuda yang masih terlelap. Ketika sinar sang surya mulai menembus jendela dan mencapai wajah sang pemuda. Pemuda itu menutup wajahnya dengan bantal dan melanjutkan tidurnya.


Waktu kembali berlanjut hingga sang surya sudah berada tegak diatas bumi. Kembali kesebuah kamar penginapan disana terlihat seorang pemuda yang masih terlelap bahkan bisa dibilang seperti bangkai karena diluar penginapan itu cukup ramai dengan aktifitas dan berisik namun pemuda itu tetap teridur seperti sudah tak bernyawa.


Akhirnya setelah matahari mulai kembali bersembunyi dan digantikan oleh sang rembulan yang menerangi bumi dikala malam. Barulah pemuda itu bangkit dari kasurnya dan keluar dari penginapan. Pemuda itu tidak lain dan tidak bukan adalah Roju yang tekena penyakit pemalas.


"Sepertinya sempolan enak dimakan malam malam yang dingin begini" batin Roju.

__ADS_1


Namun setelah berjalan berkeliling Roju tidak melihat penjual sempolan itu akhirnya Roju memutuskan untuk kembali ke penginapan dengan ekspresi sedih dan akhirnya dia memesan mie Ayam Ceker di penginapan.


Pada Saat Roju sedang memakan mie Ayam di penginapan, ada seorang pria paruh baya mendorong gerobak dengan tulisan *Sempolan Ayam* lewat di depan penginapan Roju. Roju yang sedang makan langsung melompat menghentikan pria paruh baya itu.


"Tunggu paman berhenti." ucap Roju dan menghadang jalan Gerobak itu.


"Ada apa Tuan apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya pria paruh baya itu.


"Paman aku mau beli sempolannya tolong berikan 20 tusuk" ucap Roju.


"Sebelumnya saya mohon maaf tuan, sempolannya sudah habis karena di borong oleh Gedung Persatuan Alkemis tadi." ucap pria itu.


"Hahhhhhh ya sudahlah besok lain hari saja tidak apa apa paman" ucap Roju dengan ekspresi kecewa.


"Baiklah tuan besok sebelum saya berkeliling saya akan mampir ketempat tuan dulu untuk mengantarkan pesanan tuan." ucap pria paruh baya itu.


"kalau seperti itu paman ini 200 koin emas tolong besok antarkan sempolan ke penginapan ini dan mintakan pada resepsionis untuk mengantarkannya ke kamar nomer 7 " ucap Roju sambil memberikan koin emas pada Pria paruh baya itu.


"Tuan uangnya terlalu banyak, jika hanya 20 tusuk sempolan saja." ucap pedagan itu.


"Baiklah buatkan aku 40 tusuk sisanya ambil saja kembaliannya anggap saja biaya antar ke penginapan saja." ucap Roju dengan santai.


"Baiklah tuan terimakasih banyak. Ngomong - ngomong apakah tuan yang memberikan kakakku koin emas yang banyak waktu itu hingga dia bisa memiliki 3 buah gerobak sempolan?" tanya pria itu pada Roju.


Roju teringat ketika dia membeli sempolam waktu itu.


"oh mengenai itu mungkin orang lain yang memberikan kakak paman banyak koin emas, sepertinya paman salah orang" ucap Roju lalu berjalan meninggalkan pria paruh baya itu.


Sebelum masuk penginapan Roju berkata lagi.


"Aku tunggu sempolannya ya paman" ucap Roju.


Pria paruh baya yang sedang mendorong gerobaknya kembali terkejut.


"Yayayayaya tunggu saja besok siang ya anak muda" ucap pria paruh baya pedagang sempolan.

__ADS_1


__ADS_2