
(kreeeekkk) pintu ruangan master sekte dibuka oleh Suti. Setelah pintu terbuka Suti melihat asal suara babi yang terdengar hingga luar. Asal suara itu berasal dari suara Roju yang sedang mengorok.
Suti yang melihat Roju mengorok sambil meneteskan air liur di sofa yang biasa di gunakan untuk menerima tamu dari kekaisaran ataupun orang - orang penting lainnya. Kini sofa itu penuh dipenuhi oleh air liur Roju.
Sontak melihat hal itu Suti menjadi kesal kepada kelakuan salah satu murid di sekte yang dia kelola.
"Bocah tengik beraninya kau mengotori sofa berhargaku dengan air liurmu yang busuk" teriak Suti.
Roju yang sedang berada di alam mimpinya bahkan tidak bergeming setelah diteriaki oleh Suti. Malahan Roju di dunia nyata kini malah mengigau. "Hw hw whw Rujaknya Asyemmm mpssss sweh sewh" ucap Roju yang mengigau semakin deras meneteskan air liurnya.
Suti yang melihat bahwa teriakannya tidak bisa membangunkan bocah paling aneh disektenya kini menjadi bertambah kesal.
(Duar) Suti memukul sebuah meja yang ada didekat sofa hingga berbunyi keras. Beruntung meja itu terbuat dari bahan kayu besi yang memang dapat menahan kekuatan ahli beladiri sehingga meja itu hanya menimbulkan suara ledakan yang keras tanpa rusak sedikitpun.
Mendengar ledakan keras Roju membuka matanya tanpa eskpresi berdosa.
Sambil mengucek - ngucek lalu mengelap air liurnya yang memenuhi pipinya Roju membuka suara. "Oh master sekte kenapa wajahmu seperti kesal kepadaku, bukannya aku sudah membayar denda atas kerusakan kemarin".
"Bocah tengik siapa yang menyuruhmu tidur di sofa milikku dan malahan kau kotori sofaku dengan air liurmu yang busuk" Teriak Suti.
Roju yang kini tersadar apa yang sebenarnya membuat Suti terlihat begitu kesal.
"Hehehehe maafkan aku master sekte, aku tadi datang mencari anda untuk menunggu anda memberikan keputusan agar mau melatihku seni pedang" ucap Roju dengan ekspresi meminta maaf.
"Hah sudah lah. Aku sudah memutuskan untuk melatihmu seni pedang namun hanya dasar - dasarnya saja." ucap Suti dengan ekspresi datar.
"Terimakasih master sekte yang baik hati, lalu kapan aku mulai berlatih master sekte yang baik hati, rajin menabung, dan tidak pernah pergi ke rumah bordir" ucap Roju.
"Dasar bocah tengik jika kau tidak bisa menjaga mulutmu aku tidak jadi mau mengajarimu dasar - dasar seni pedang" ucap Suti mengancam Roju.
__ADS_1
"Iya iya maaf aku hanya bercanda" ucap Roju.
"Ya kali ini aku ampuni dirimu yang tengik dan bau" ucap Suti.
"Lalu master sekte kapan anda memulai latihan seni pedangku?" tanya Roju.
"Hah, sekarang bersihkan dulu sofa tempat yang kamu gunakan tidur tadi. Cuci 7 kali dengan air kembang 7 rupa dan tambahkan abu pada cucian ke 2 atau keberapa tersedah padamu." perintah Suti pada Roju.
"Hei anda pikir saya guguk apa? Mencuci 7 kali salah satunya dikasih debu" ucap Roju kesal dengab ucapan Suti.
.
"Terserah saja jika kamu mau berlatih maka lakukan jika tidak mau ya cukup belikan aku sofa baru namun aku tidak akan melatihmu jika kamu tidak mematuhi perintahku." ucap Suti kembali mengancam Roju.
"Ya baiklah master sekte aku akan segera membersihkan sofa jelekmu ini" ucap Roju lalu mengangkat Sofa yang cukup panjang dengan susah payah.
Sampai di pinggiran sungai Roju mengambil air dari sungai dengan bambu lalu mengguyurkannya ke sofa yang hendak dia bersihkan.
Setelah guyuran pertama Roju mulai menggosok sofa yang terbuat dari kulit sapi merah yang merupakan binatang siluman tingkat 2 dengan rerumputan yang ada dipinggir sungai.
Guyuran kedua lalu digosok lagi. Hingga setelah guyuran ketujuh Roju tidak menggosok sofa kulit sapi itu lagi. Roju sengaja tidak memasukan abu atau debu di air yang dia pakai untuk mengguyur sofa karena merasa dirinya bukan guguk.
Selah dirasa beres Roju kini terlihat bersusah payah mengangkat sofa yang masih basah. "Hmmm kenapa tadi aku tidak membawanya dengan gerobak saja cincin dimenisiku juga terlalu kecil untuk memasukan benda menyebalkan ini" Roju membatin dan mengeluh.
Setelah berjalan selama setengah jam berjalan berusah payah memanggul sofa basah dari sungai menuju ruangan master sekte yang hanya berjarak 500 meter.
"Master sekte sofamu sudah beres sedang aku keringkan di halaman depan ruangan ini." ucap Roju.
Melihat Roju yang basah kuyup membuat Suti tertawa. "Hahahahahahahaha sudah - sudah kembali saja ke kamarmu dan ganti pakaianmu besok aku akan memulai latihanmu sekarang kembalilah dulu." ucap Suti sambil menahan tawa karena melihat bocah brandalan kini seperti guguk yang penurut.
__ADS_1
"Woke master sekte dadah" ucap Roju melambaikan tangannya. Namun dalam hati. "aku ingat penghinaan hari ini akan kubalas berkali - kali lipan nanti orang tua bau."
Roju berjalan kembali menuju kamarnya. Sesampai didepan pintu kamarnya Roju melepas kertas yang dia tulis sebelumnya karena Roju kembali sebelum dua orang sahabatnya menemuinya.
Setelah melepas kertas dipintu kamarnya Roju bergegas masuk untuk mengganti pakaiannya yang basah. Beres dengan urusan pakaian tiba - tiba tanpa ada angin dan tanpa ada hujan Roju melompat keatas kasurnya. Sambil memeluk gulingnya roh Roju pun berpindah alam.
Kembali kewaktu sebelumnya. Setelah Roju pergi meninggalkan pesan di pintu kamarnya Zan dan Rosy kebetulan lewat kamar Roju. Mereka berdua membaca tulisan dikertas karena merasa penasaran.
"Zan apa meurutmu Roju mengerjai kita aku takutnya nanti malah dia tidak datang setelah kita memasan banyak makanan dan akhirnya tidak bisa membayarnya." ucap Rosy yang paling kecewa sekaligus takut dipermalukan.
(Pletak) Zan menjitak kepala Rosy. Dalam hati Zan "Hehhehehe sekarang impas setelah tadi pagi kamu memukul kepalaku sekaranglah hari pembalasan hahahahaha"
"Aduhh" Rosy berteriak sambil mengelus elus kepalanya yang benjol.
Setelah menjitak Rosy, Zan pun bersabda. "Tenang saja uang biarpun tidak sebanyak milik Roju namun jika hanya membayar makanan di restoran Daun Emas aku yakin tidak akan kurang. Kekhawatiranmu terlalu lebay dan berlebihan."
"Ucapanmu benar juga, aku lupa kalau ada cucu penatua Aula Hukum disini. Hahahahaha" Rosy membenarkan ucapan Zan sambil tertawa.
Selesai berdiskusi Rosy dan Zan kembali melanjutkan langkah mereka entah kemana.
Kini matahari mulai ditelan bumi pertanda hari sudah malam. Roh Roju masih berada di alam mimpinya. Roju yang sedang berada dialam mimpi tiba - tiba rohnya tertarik kembali ke dalam tubuhnya karena sebuah rambut sapi masuk dan membuatnya bersin.
"Hmmmm sepertinya aku kurang bersih keika mandi tadi, hingga ada rambut sapi yang tertinggal" ucap Roju.
Roju yang hendak melanjutkan tidurnya merasa bahwa sekarang sudah larut malam. Sehingga dia memutuskan mencoba keluar dari kamarnya menuju ke kamar Zan dan Rosy.
(Tok Tok Tok) "Rosy, Zan apakah kalian didalam?" panggil Roju sambil mengetuk kamar Zan dan Rosy yang bersebelahan. Namun tidak ada jawaban setelah Roju memanggil dua sahabatnya sebanyak 3 kali.
"Hmmm apa jangan - jangan mereka sudah membaca pesan yang tadi aku tempelkan dipintu kamar, sebaiknya aku langsung saja ke restoran Daun Jati." batin Roju.
__ADS_1