Sang Serigala Malam

Sang Serigala Malam
BAB. 26 AKHIR DARI PRAHARA DI SEKTE DAUN EMAS.


__ADS_3

"B4j1n9an kecil" ucap Lizi lalu melompat berusaha meraih kerah Roju. Namun Roju yang tidak mau kalah menangkisnya. Seketika perkelahian tangan kosong terjadi di lapangan.


Para murid dan penatua mulai berkumpul melingkari lapangan. Mereka mulai mencari lawan untuk bertaruh. Namun mereka melakukan itu tanpa membuat keributan karena jika ketahuan master sektenya mereka bisa habis dihukum oleh master sekte dan penatua Aula hukum.


"penatua aku bertaruh untuk Roju kau bertaruhlah untuk penatua Aula Misi." ucap seorang murid pada seorang penatua.


"baiklah tidak masalah. Kamu mau bertaruh berapa denganku. Pastikan gunakan koin emas jangan koin perak." ucap penatua itu.


"aku bertaruh 10 koin emas penatua." ucap murid.


"baiklah aku akan bertaruh 10 koin emas juga" ucap penatua.


"Penatua harusnya kau bertaruh 20 koin emas bahkan lebih, uangmu kan lebih banyak dariku penatua" ucap murid.


"baiklah - baiklah tidak masalah aku akan bertaruh 30 koin emas untuk penatua Lizi. Asal kau tau saja kekuatan penatua Lizi itu yang terkuat ke 3 setelah master sekte dan penatua Aula Hukum." ucap penatua itu untuk menakut - nakuti murid tadi dan menambah rasa percaya dirinya.


"Yayayaya terserah penatua saja" ucap murid yang terlihat berusia 12an tahun.


Penatua yang bertaruh dengan murid itu sebenarnya cukup khawatir karena melihat perkelahian Roju dengan Lizi terlihat berimbang.


Sedangkan murid - murid yang lain memilih bertaruh sesama murid.


Kembali keperkelahian Roju dan Lizi.


"Hahahahahah penatua Lizi sepertinya kamu sudah tua dan sudah tidak bisa menjadi praktisi beladiri lagi. Hahahahaha" provokasi Roju membuat Lizi semakin marah


"Ohhhh bertambah besar kepala sekarang kamu bocah kecil. Sekarang aku akan serius menghukumu." ucap Lizi dengan ekspresi marah.


(Swosh) aura Lizi meingkat berusaha menekan Roju. Namun Roju masih biasa saja bahkan tidak terlihat bahwa Roju tertekan oleh aura yang dikeluarkan Lizi. Berbeda dengan para murid dan penatua yang menonton perkelahian mereka. Para murid mulai mundur menjauh dari lokasi perkelahian Roju dan Lizi. Sedangkan para penatua mereka menggunakan energi batin mereka untuk mengurangi tekanan aura Lizi.


"Hahahahahaaha sepertinya kekuatanmu masih belum berkembang penatua Lizi hahahahaha" ucap Roju mengejek Lizi.

__ADS_1


(Swoosssss duar) Roju membalas mengeluarkan auranya yang berada di ranah biru tahap 2. Satu tahap diatas penatua Lizi. Sehingga menciptakan tabrakan aura yang menyebabkan ledakan dan membuat para penatua dan murid terlempar mundur. Bahkan penatua Lizi ikut terlempar mundur 2 langakah.


"Hohohoho ternyata aku baru tau kalau aku sudah berada di ranah biru tahap 2, sepertinya setelah meminum darah serigala bau itu energi batinku meningkat." batin Roju.


Roju yang sedang senang kini menyeringai lalu berkata "Apakah kau masih berani memukulku penatua Lizi. hahahahahaha. Sepertinya kau memang sudah tidak mampu hahahahahaha"


"Dasar bocah bau kau pikir aku takut karena kau berada di ranah biru tahap 2, mimpimu terlalu indah bocah bau." teriak penatua Lizi sangat kesal.


Setelah selesai berbicara Lizi langsung melesatkan serangan kearah Roju.


(Shyuuttt Swissshhh Boomm) pukulan Lizi dan pukulan Roju bertabrakan menyebabkan ledakan yang menimbulkan sebuah gelombang kejut.


Lizi mundur 3 langkah setelah bertukar pukulan dengan Roju. Sedangkan Roju hanya mundur 1 langkah.


"Hahahahahhaha penatua Lizi sudahlah aku tidak mau menanggung kerusakan jika properti sekte hancur karena seranganku sudahlah kembali saja ke Aula Misi dan minum kopi aku tak akan mengganggumu lagi" ucap Roju.


"Jika sekarang kau mau meminta maaf kepadaku dan memohon pengampunanku maka aku akan melupakan masalah ini" ucap Lizi dengan ekspresi berwibawa.


"Hahahahaha sepertinya kau sedang bermimpi penatua. Bahkan tanpa pengampunanmu aku tidak akan terluka hahahaha malahan kau yang akan terluka. Aku tidak ingin melukai penatua yang berada di sekte ini." ucap Roju menolak dan menghina Lizi.


(Swosh Swishh duar Swosh Sweessh Duar) pukulan demi pukulan dan ledakan demi ledakan gelombang kejut dari benturan pukulan hasil perkelahian Roju dan Lizi mulai membuat tanah di lapangan sekte bergetar.


Para murid yang menonton kini mulai terlihat ketakutan karena mereka belum pernah melihat pertempuran antara praktisi beladiri ranah biru.


Sedangkan para penatua hanya menganga melihat kekuatan dan kemampuan Roju.


Suti dan Zuna yang sedang minum kopi sambil makan mendoan tidak peduli dengan getaran akibat perkelahian dua orang yang mereka ketahui identitasnya. Namun mereka cukup terkejut setelah mengetahui perkembangan Roju yang sangat cepat.


"Apakah kau tidak mau menghukum dua orang bodoh itu master sekte" tanya Zuna.


"Biar saja nanti kalau mereka lelah juga berhenti sendiri, terlebih lagi kau tau sendiri sifat dari teman cucumu itu yang hobi membuat masalah dan membuat kehebohan." balas Suti.

__ADS_1


"lalu jika dua orang bodoh itu merusak banyak properti sekte bagaimana?" tanya Zuna lagi.


"Hah itu biar mereka nanti yang menggantinya" balas Suti.


"Apakah anak nakal itu mau bertanggung jawab dengan kerusakan yang dia perbuat?" tanya Zuna lagi.


(huftt) Suti menghela nafas lalu berkata. "Dia pasti akan beralibi dan berkilah agar tidak bertanggung jawab karena otaknya sangat licin seperti belut."


"Hahahaahahah bagaimana master sekte apakah kau masih belum ingin menghentikan mereka?" tanya Zuna sambil tertawa.


"Hmmmm baiklah kau hentikan mereka aku akan berjaga dibelakang apabila anak nakal itu ingin kabur. Namun aku tidak sepenuhnya yakin bisa menghentikan anak nakal itu karena kecepatan yang dia miliki itu adalah keahlian yang diajarkan Topa yang memiliki julukan si Kilat Hitam" ucap Suti.


"Yah memang teknik kecepatan anak nakal itu merupakan teknik yang ayahnya turunkan padanya." ucap Zuna membenarkan teknik kecepatan Roju.


(Swosh swosh kedua pria itu menghilang)


Kembali menuju lokasi perkelahian Roju dan Lizi.


Lizi menguras semua energi batinnya dan memusatkannya di tinjunya. Lizi melakukan itu karena setiap serangannya selalu berhasil dipatahkan oleh Roju.


Roju yang melihat bahwa Lizi memusatkan semua energi batinnya ditinjunya tersenyum menyeramkan. Namun Roju tidak berniat mengadu tinjunya dengan Lizi.


(Swossssss boommm) pukukan Lizi ditahan oleh Zuna yang datang menahan pukulan Lizi dengan satu tangannya namun eneergi batin yang tadi dipadatkan oleh Lizi menyebar dan menyebabkan beberapa pohon tumbang dan pintu kamar milik beberapa murid yang kamarnya dekat dengan lapangan hacur.


"Baiklah cukup sudah kekacauan yang kalian berdua lakukan sekarang ikut aku menemui master sekte untuk membahas beberapa masalah yang kalian timbulkan." ucap Zuna.


Lizi yang tersadar dari apa yang sedang dia lakukan kini menundukan kepalanya karena malu dengan tingkahnya yang seperti anak - anak.


Roju yang terlihat cuek - cuek saja malah pergi menemui Zan dan Rosy yang sedang menonton perkelahiannya dari jauh. Hal ini membuat Suti menggelengkan kepalanya.


"Hei kalian berdua nanti malam kita makan malam di restoran Daun Jati biar aku yang membayarnya nanti" ajak Roju pada dua sahabat karibnya.

__ADS_1


Rosy yang mendengar makan gratis langsung menjawab. "Baiklah aku dan Zan pasti akan datang. Setelah matahari terbenam nanti kami pasti akan langsung menuju kamarmu.


Zan yang mendengar ucapan temannya hanya menggeleng - gelengkan kepalanya karena jika menyangkut urusan makanan dia yang paling cepat namun badannya tetap kurus kering


__ADS_2