Sang Serigala Malam

Sang Serigala Malam
BAB. 21 BISNIS BUNGA KUMIS KUCING BULAN.


__ADS_3

Waktu mulai menjelang malam. Di sebuah jalan menuju restoran Phonik Surgawi Roju sedang berjalan santai melewati kerumunan orang.


Malam ini adalah janji antara Roju dan Master Alkemis Lang untuk keperluan transaksi pertama setelah perjanjian kontrak mereka untuk berbisnis bahan herbal.


Roju masuk kedalam ruang VIP yang biasa dipakai oleh Master Alkemis Lang.


(Tok Tok Tok) "permisi" ucap Roju.


"Masuk" ucap suara sepuh dari dalam ruangan.


"Terimakasih Master Alkemis Lang." ucap Roju.


"Duduk saja dulu kita makan malam dulu baru kembali ke bisnis kita" ucap Lang.


"Tentu saja Master Alkemis Lang saya yang tamu disini" ucap Roju merendah.


Master Alkemis Lang merupakan seorang pencinta kuliner mirip seperti Roju. Hanya saja Roju pencinta kuliner kaki lima yang harganya murah namun rasanya tak kalah enak. Sedangkan Master Alkemis Lang merupakan pencinta kuliner Premium.


Dua orang yang berbeda usia cukup jauh itu menikmati makan malam yang elegan dengan menu menu kelas atas. Waktu bejalan cukup cepat sebelumnya makanan penuh satu meja kini sudah menyisakan tumpukan piring kotor saja di atas meja.


Dua orang yang berbeda usia itu kini sedang menikmati kopi dan Rokok. Master Alkemis Lang mulai membuka pembicaraan.


"Apakah pesananku satu minggu yang laku sudah ada Roju" tanya Master Alkemis Lang dengan santuy.


"Tentu saja sudah ada Master Alkemis Lang. Selain pesananmu aku juga membawa sesuatu yang cukup menarik mungkin Master tertarik." balas Roju.


"Ohh seperti itukah, apa itu?" tanya Lang dengan Penasaran.


"Selain 20 tangkai bunga kumis kucing bulan aku membawa beberapa potong tubuh dan darah dari serigala bergaris perak. Master Lang tentu saja tau bukan jika darah dari Serigala bergaris perak dapat dijadikan pil penawar racun?" ucap Roju setelah mengetahui manfaat dari darah serigala itu dari Kandi.


"Hmmmmmm aku kira membawa apa tenyata hanya darah serigala kecil." ucap Lang dengan eskpresi biasa saja. Namun dalam hati dia terkejut.


"Apakah Master Lang tidak tertarik pada serigala itu? Kalau begitu sayang sekali sepertinya aku akan menjual pada orang lain saja." ucap Roju.


"Sepertinya serigala itu tidak terlalu buruk berapa harga yang kau tawarkan" tawar pak tua Lang tak ingin darah serigala itu diambil orang lain.


"bagaimana dengan 100 batu roh kualitas rendah?" tawar Roju.

__ADS_1


"Itu cukup mahal, apakah aku bisa menawar?" Tanya pak tua Lang.


"Berapa anda ingin menawarnya Master?" balas Roju.


"Bagaimana jika 60 batu roh kualitas rendah itu cukup banyak jika di tukarkan menjadi koin emas" tawar pak tua Lang.


"Aku merasa harga itu terlalu rendah untuk binatang siluman tingkat 3 Master, bagaimana jika berikan aku 1 buah cincin dimensi dengan ukuran 2 x 2 meter dan 35 batu roh kualitas rendah? Harga itu saya kira sudah cukup murah untuk ukuran binatang siluman tingkat 3" tawar Roju.


"1 buah cincin dimensi dan 30 batu roh bagaimana?" tawar pak tua Lang.


"Baiklah untuk batu roh dan pembayaran bunga kumis kucing bulan bisa master masukan saja ke dalam cincin dimensi itu saja." ucap Roju menyetujui usulan dari pak tua Lang.


"Ini yang kamu inginkan, lalu mana pesanaku" ucap pak tua Lang sambil menyerahkan sebuah cincin dimensi.


"Sebentar master, biar saya cek dulu pembayarannya apakah master keberatan?" balas Roju.


"Sudah lah terserah kau saja." ucap pak tua Lang.


"Baiklah ini barangnya yang master inginkan semuanya ada di kedua buah ransel itu. Silahkan master cek dahulu barangnya." ucap Roju.


Pak tua Lang lantas memeriksa isi dari kedua ransel itu dan memasukannya ke dalam cincin dimensinya.


"Terimakasih atas kepercayaan Master senang berbisnis dengan anda." balas Roju.


"Lalu bagaimana aku menghubungimu kedepannya jika aku memerlukan jasamu lagi?" tanya pak tua Lang.


"Master tinggal minta pada Alkemis Dini atau Jali untuk menemui saya di restoran Daun Jati, setelah saya menerima pesan malam berikutnya saya akan menemui Master di sini. Apakah tidak masalah Master?" ucap Roju.


"Yayaya itu tidak masalah." ucap pak tua Lang.


"Hahahha saya tau selera makan master tidak bisa terpuaskan direstoran kecil di kampung" ucap Roju sambil bergurau. Namun kenyataannya memang benar.


"Hahahaha kau tau saja bagaimana harus berbicara anak muda" ucap pak tua Lang tertawa.


"Baiklah jika urusan sudah selesai sepertinya saatnya untuk aku pamit master alkemis Lang." ucap Roju.


"Yayaay sudah silahkan" balas pak tua Lang

__ADS_1


"Kalau begitu saya undur diri dulu master" ucap Roju berpamitan.


"Yaaa" balas pak tua Lang singkat.


Roju lantas keluar dari ruangan dan meninggalkan restoran itu. Roju memutuskan untuk kembali ke sektenya.


"Hmmmm badanku pegal - pegal sepertinya aku butuh peregangan" batin Roju.


Dalam perjalanan pulang Roju melewati daerah yang terkenal sering terjadi perampokan, Roju bertujuan ingin berkelahi dengan para perampok itu. Dengan sengaja Roju berjalan pelan seperti orang biasa dan tidak menujukan bahwa dia merupakan seorang praktisi beladiri.


Setelah sempai di jalan yang sepi suasana seketia terasa mencekam kabut mulai muncul menutupi sekitar jalan.


(Sting Stang Clang) suara pedang beradu memecah kesunyian.


"Hei hei kupikir kalian perampok bukannya pembunuh bayaran kenapa cara kalian merampok seperti pembunuh bayaran" ucap Roju menghentikan serangan pedang para perampok.


Teknik berpedang Roju yang masih kaku tidak membuat Roju kesulitan. Itu dikarenakana kecepatan Roju yang berada dilevel atas.


"Hei serahkan hartamu kami akan memmbiarkan kamu hidup, dengan cara berpedangmu yang kaku kamu tidak akan bisa mengalahkan kami ber3." ucap salah satu perampok.


"Hei hei hei kalian belum.menjawab pertanyaanku. Dasar tidak beretika" selesai Roju berkata dua orang perampok langsung menyerangnya satu orang menggunakan senjata berupa sabit sedangkan satunya menggunakan senjata berupa kapak.


(Stangg string clang creeeett Duar Duar) suara pedang dan ledakan.


Ledakan terjadi ketika Roju memukul kedua perampok itu dengan kekuatan Batinnya. Karena kedua perampok itu hanya berada di ranah hijau tahap 1 dan pemimpinnya berada di ranah hijau tahap 2. Sebenarnta cukup mudah bagi Roju untuk menghabisi mereka bertiga sekaligus, namun Roju kali ini hanya ingin bermain main saja.


"Sialan dia berada di ranah biru cepat kabur." ucap pemimpin perampok itu.


Namun usaha mereka gagal karena Roju dengan kecepatannya menghadang mereka .


"Hei jangan terburu buru" ucap Roju.


"Apa yang kau inginkan cepat katakan" ucap pemimpin itu dengan cemas.


"Hei hei tenang saja aku tidak memiliki keinginan membunuh kalian." ucap Roju.


"Cepat katakan Apa yang kamu inginkan." balas pemimpin perampok yang tak sadar mengompol dicelananya.

__ADS_1


"Hah kalian sungguh penakut aku tidak berniat berbicara dengan pria tua yang suka mengompol di celana" ucap Roju lalu pergi meninggalkan para perampok itu.


__ADS_2