
Roju yang hendak mencabut tanaman Bunga Kucing Bulan tiba-tiba mencium bau gosong dari arah daging yang dia bakar. Roju segera bergegas membalik bagian daging yang gosong tadi.
Setelah selesai dengan urusan daging. Roju kembali ke tempat dia menemukan Bunga Kumis Kucing Bulan dan mencabut tamannya.
Waktu berlalu Roju telah selesai dengan urusan perutnya dan kembali melanjutkan misinya mencari herbal.
Hingga waktu menjelang pagi Roju sudah mengumpulkan beberapa herbal untuk antara lain Bunga Cahaya 3 tangkai, Buah Ketapang Hutan 10 biji, daun Bidara sebayak 20 lembar, Bunga Kumis Kucing Bulan 3 Tangkai, Air Akar Bajakah 1 botol kecil, dan 2 buah akar Kayu Sandrego.
Setelah memilah herbal untuk di berikan ke pavilium misi yang antara lain 2 tangkai Bunga Kumis Kucing Bulan, 4 biji Buah Ketapang Hutan, dan 20 lembar Daun Bidara. Sedangkan sisanya Roju masukan ke dalam tas ranselnya.
Roju bergegas kembali ke sekte dan menuju ke Aula misi untuk menukan herbal yang dia bawa tadi dengan poin kontribusi. Untuk herbal yang lainnya tadi Roju berencana menjualnya ke persatuan Alkemis.
Setiba Roju di depan gerbang sekte Roju melihat Rosy dan juga Zan sedang berjalan ke Aula misi. Roju tiba-tiba menghilang lalu muncul dibelakan Zan dan Rosy sambil memegang pundak kedua temannya.
"Hei kalian berdua apa sudah menyelesaikan misi yang waktu itu kita ambil?" ucap Roju dengan santai.
Zan dan Rosy yang terkejut lalu memutar kepalanya dan melihat kebelakang, pada saat mereka melihat seorang pemuda berbaju hitam dibelakang mereka. Mereka melompat dan berteriak.
"Hantu tolong ada Hantu." Zan dan Rosy berteriak bersamaan sehingga membuat orang-orang di sekitar mengarahkan pandangan pada dua orang penakut itu.
"hei kalian ini bodoh atau memang penakut, aku bukan hantu dan aku masih hidup, lihat kakiku masih menyentuh tanah. Hahahahahahaha" ucap Roju dengan kesal lalu tertawa menertawakan kebodohan dan penakutnya dua sahabatnya itu.
"Kamu benar-benar masih hidup? Apa aku sedang bermimpi?" ucap Rosy dengan wajah memeriksa.
(Pletakkkk pletakkk .....). Tangan Roju menjitak kepala Rosy.
"Aduh kenapa kamu mnjitak kepalaku kamu sungguh tidak sopan." ucap Rosy dengan marah.
"apa perlu aku pukul pantatmu agar kamu yakin aku masih hidup dan aku bukan hantu." ucap Roju dan mengangkat kepalan tangannya.
"Jangan stop jangan kau nodai aku." ucap Rosy sambil bersembunyi di belakang Zan.
"Hahahahahahahaha" mereka bertiga akhirnya tertawa.
"Ngomong-ngomong darimana saja kamu sampai-sampai orang satu sekte mengira dirimu sudah mati pada saat penyerangan Gedung Bulan Neraka?" tanya Zan pada Roju.
__ADS_1
"Oh, malam itu setelah kita pulang dari restoran Daun Jati. Aku pergi ke hutan mencari ini." ucap Roju sambil mengeluarkan sebuah kantong berisi herbal dan memberikannya pada Zan.
"wahahahahaaha ternyata kamu sudah menyelesaikan misinya, padahal baru saja kami akan ke aula misi untuk membatalkan misi karena hari ini sudah jatuh tempo, haahahaha untung saja kamu sudah menyelesaikannya." ucap Rosy dengan ekspresi bahagia.
"Rosy bukankah tadi kamu ketakutan melihat Roju tapi kenapa sekarang kamu malah tertawa bahagia setelah tau kalau Roju sudah menyelesaikan misi kita." ucap Zan dengan meledek Rosy.
"Salah siapa dia tiba-tiba menghilang pada saat penyerangan pembunuh bayaran dari Gedung Bulan Neraka." ucap Rosy sambil menunjuk ke arah Roju yang sedang ngudud.
"Hei-hei harusnya kamu berterimakasih padaku bukan malah menyalahkanku. Apa kamu mau aku pukul lagi hah." ucap Roju mengejek Rosy yang terlihat malu.
"Sudah-sudah ayo kita ke Aula misi untuk melaporkan misii." ucap Zan sambil berjalan meninggalkan Rosy dan Roju yang sedang ribut.
"Hei bagaimana untuk pembagian poin kontribusinya nanti?" Tanya Zan
"Total poinnya dibagi tiga lah kan misi ini di ambil kita bertiga." jawab Rosy
"kalian bagi dua saja aku tidak usah aku masih banyak poin kontribusi dan masih banyak urusan." Jawab Roju lalu pergi menghilang meninggalkan kedua sahabatnya itu.
"Hei kamu yang menyelesaikannya malah tidak mendapat bagian, Dasar jadi orang sukanya ilang-ilangan seperti setan saja." ucap Zan.
"Penatua Lizi kami mau melaporkan misi yang kemarin kami ambil." ucap Zan sambil memberikan sebuah kertas dan kantong berisi herbal.
"Bukankah waktu kalian mengambil misi bertiga? Kenapa sekarang hanya berdua apa Roju benar-benar mati terbunuh oleh Gedung Bulan Neraka?" tanya penatua Aula Misi yang bernama Lizi.
"Roju tadi bilang kalo poin kontribusinya di bagi 2 saja untuk saya dan Zan." jawab Rosy.
"Oh, aku kira dia sudah mati meninggalkan 3 juta poin kontribusi." jawab Penatua Lizi.
"Apa 3 juta poin kontribusi?" ucap Rosy dengan kaget.
"Ya wajar saja dia tidak mau mengambil poin kontribusi yang hanya beberapa puluh ribu ini." jawab Zan dengan santai.
Setelah mengecek Herbal yang dibawa Zan dan Rosy, Penatua Lizi meminta token murid Zan dan Rosy.
"Kemarikan token murid kalian?" ucap penatua Lizi
__ADS_1
"Ini penatua" jawab Rosy sambil menyerahkann token muridnya dan milik Zan.
Setelah mengisi poin kontribusi pada token mereka berdua penatua Lizi nengembalikan token murid dua pemuda itu.
"Terimakasih penatua" ucap Rosy sambil tertawa bahagia.
Lalu mereka berdua pergi meninggalkan Aula misi.
Roju yang tiba-tiba menghilang tadi sekarang sudah berada di dalam restoran Daun Jati.
"Tuan Roju apa yang ingin tuan pesan?" tanya seorang pelayan.
"Aku pesan seperti biasanya saja". Jawab Roju dengan santai.
"Nasi, Rendang, Rica-rica, tumis kangkung, tumis jamur, dan secangkir kopi, apakah benar yang saya sebutkan tadi tuan Roju?. Tanya pelayan.
"Yayayayaya sudah benar."jawab Roju dengan santai.
Sembari menunggu pesananya Roju menghisap r0k0knya.
Setelah satu batang r0k0k habis pesanan Roju datang. Roju makan dengan sangat lahap karena dia hanya makan terakhir pada kemarin malam sewaktu Roju membakar daging B4bi.
Setengah jam kemudian semua makanan Roju sudah habis namun Roju masih merasa kurang kenyang jadi dia memutuskan memsan gorengan.
"Pelayang aku pesan pisang goreng dan tempe mendoa masing-masing 10 buah." ucap Roju pada pelayan yang sedang lewat melayani pelanggan lain.
"Baik tuan Roju pesanan akan segera saya antarkan." ucap pelayan itu.
Roju kembali menyeruput kopinya dan menghisap rokoknya.
"Hmmm kenapa aku merasa ada yang salah yah, seperti ada yang kurang saja." Roju membatin.
Pada saat rokoknya sudah tinggal setengah pesanan gorengannya datang. Roju yang sedang duduk di dekat jendela segera menikmati gorengannya sambil melihat keluar jendela dari lantai dua
Bersambung...
__ADS_1