Sang Serigala Malam

Sang Serigala Malam
BAB. 32 LATIHAN YANG BERAT


__ADS_3

Pada sore yang hampir senja Roju mulai gemetaran saat mengangkat batu. Karena sudah tak kuat lagi Roju akhirnya menjatuhkan batu yang dia angkat. Dengan lemah dan wajah memucat mulai jatuh terlentang namun masih sadar.


Melihat bocah didepannya sudah mencapai batasnya Suti berjalan mendekati pemuda itu.


"Aku belum menyuruhmu meletakan batu itu dan kamu malah menjatuhkannya dengan kasar. Sebagai hukuman kamu harus menyediakan makan malam hari ini." ucap Suti lalu kembali ketempatnya duduk.


Roju yang masih pucat hanya berjalan sempoyongan saja meninggalkan Suti. Kini pikirannya hanya segera melaksanakan perintah agar bisa cepat istirahat. Bahkan dia tidak membatin atau menyumpahi Suti seperti biasanya. Ini karena pikirannya yang sedang sangat lelah.


Suti melihat kepergian bocah itu pergi kembali membaca buku haramnya.


Roju kini berjalan menuju sungai dia berencana untuk mencuci wajahnya dulu agar lebih segar sebelum mencari bahan makanan.


"Hufh akhirnyah sampaih jugah disungaih" ucap Roju dengan senang.


(bryuurrr byuur byurrr) suara air jatuh dari wajah dan kelala Roju.


"Hah sudah mendingan, sebaiknya aku segera mencari hewan buruan." ucap Roju.


Selesai Roju berkata, Roju melihat sebuah bayangan sebesar paha laki - laki dewasa dan mempunyai panjang sekitar lebih kurang 2,5 meter.


"Hehehehehe keberuntungan selalu menyertaiku" ucap Roju lalu mengeluarkan pedang dari cincin dimensinya. Namun bukan pedang tingkat rare yang Roju keluarkan, hanya pedang tingkat roh sebagai senjata untuk Roju pakai berlatih.


(Swoshh byurrr) sebuah bayangan menusuk kepala bayangan yang terlihat diatas air.


Tanpa Roju kira seekor sidat listrik yang dia tusuk masih bisa melawan setelah kepalanya ditusuk dengan pedang oleh Roju.


Sidat listrik itu mengumpulkan seluruh energi listriknya diekornya dan mengantamkannya pada punggung Roju.


(Scrteeert Boom) sebuah ledakan tercipta karena benturan dari tubuh Roju dan ekor sidat listrik. Namun malahan sidat listrik itu yang terlempar menuju darat sedangkan Roju hanya kehilangan bajunya saja yang ikut meledak.


"hahahahah kau salah memilih lawan cacing air. Aku adalah orang kuat hahahahaha" ucap Roju dengan ekspresi senang lalu membawa sidat listrik ketempat dimana dirinya dan Suti tadi berada.

__ADS_1


Melihat Roju membawa bahan makanan Suti berkata "bersihkan dulu sidat listrik yang kamu bawa lalu cari kayu untuk memasaknya."


"Baik master sekte aku lupa tadi tidak membersihkannya terlebih dahulu." ucap Roju lalu kembali lagi kesungai.


"Huh kenapalah hidupku jadi begini padahal biasanya otakku belum pernah bermasalah seperti ini." batin Roju sambil berjalan kembali ke sungai.


"Setelah dia kelelahan nampaknya otaknya sedikit kekurangan oksigen menyebabkan kecerdasaannya menurun" batin Suti lalu kembali membaca buku.


Malam pun datang. Roju dan Suti sedang menikmati sidat bakar sebagai makan malam mereka.


Roju yang sudah selesai makan berpamitan pada Suti untuk pergi beristirahat. "master sekte aku sudah selesai makan, aku mau tidur dulu" ucap Roju sambil melenggang pergi.


Namun baru 4 langkah berjalan langkah kaki Roju terhenti setelah Suti membuka suara.


"Latihanmu belum selesai jangan enak - enakan tidur. Sekarang ambil ini gunakan untuk memotong pohon itu." ucap Suti menunjuk sebuah kayu sebesar paha dengan panjang 1,2 meter dengan berat kira - kira 6 Kg, lalu menunjuk pohon besar dengan diameter 1,5 meter.


"Ya baiklah" ucap Roju dengan enggan. Roju tidak bertanya lebih jauh untuk apa. Karena ayahnya pernah berkata padanya bahwa metode latihan yang diberikan oleh Suti memang aneh namun memiliki manfaat yang lebih besar. Makannya itu Roju mau saja dimasukan ayahnya disekte Daun Emas pada usia 7 tahun.


Dari jauh Suti melihat bahwa cara Roju memegang kayu seperti orang memegang kapak membuatnya angkat suara. "Jika kamu mau belajar kapak maka teruskan caramu memegang kayu itu sudah benar. Tapi jika kamu ingin belajar seni pedang caramu memegang kayu itu salah."


Mendengar wejangan Suti, Roju kini merubah caranya memegang kayu seperti memegang pedang. Tadinya Roju berfikir akan lebih cepat menumbangkan pohon jika cara memegangnya seperti kapak.


Namun Roju tampak menyadai bahwa Suti menyuruhnya meneng pohon dengan sebuah kayu hanya untuk melatih genggamannya pada pedang yang akan menjadi senjatanya.


Walaupun sudah paham akan maksud Suti namun karena posisi lelah kini gerakan gerakan Roju dalam menebas pohon terlihat lebih gemulai sebelum jatuh tertidur.


(Gedebug) suara Roju yang jatuh tertidur karena kelelahan. Suti yang melirik kearah sumber suara benda jatuh melihat bocah yang sedang dia latih jatuh tertidur. Setelah melihat Roju tertidur Suti mengeluarkan sebuah selimut dari kulit domba dan sebuah bantal yang diisi bulu domba dari dalam cincin dimensi miliknya.


Suti kini berbaring diatas sebuah batu menggunakan bantal dan selimut yang dia keluarkan tadi.


"Jika Roju melihat ini atau masih sadar dia pasti akan mengamuk" batin Suti.

__ADS_1


Kini matahari sudah mulai menebarkan sinarnya pertanda hari sudah pagi.


Suti bangun dari tidurnya lantas memasukan kembali selimut dan bantal kedalam cincin dimensinya.


Melihat Roju masih terpejam, membuat Suti melangkahkan kakinya kearah dimana Roju tertidur.


(Duar) sebuah ledakan terjadi ketika Suti menginjak tanah degan menggunakan energi batinya.


Roju melompat karena kaget.


"Master sekte ada apa menggangu aku tidur saja" ucap Roju dengan kesal.


"Bodoh cepat pergi cari sarapan atau aku tidak mau melatihmu" teriak Suti pada Roju.


Roju yang tersadar buru - buru berlari pergi mencari hewan buruan.


"kenapa aku lupa jika sedang dalam pelatihan bersama orang tua bau hmm." batin Roju.


Tanpa lama - lama Roju membawa satu tandan buah pisang susu yang sudah matang ketempat Suti berada.


"Bagus cukup cekatan. Sekarang panggul kayu ini dan berlari mengelilingi danau di sana sebanyak 100 putaran akan aku tunggu hingga waktu makan siang. Jika kamu tidak sanggup kamu akan dihukum." ucap Suti.


Roju dengan cepat menganggukan kepala dan memanggul kayu dengan berat sekitar 30 kg. Roju berlari ketepi danau lalu mengelilinginya sambil memanggul kayu.


"Padahal aku juga mau sarapan hmmm" batin Roju.


Danau yang dikelilingi Roju bernama Danau Jeglongan Sewu. Jeglongan Sewu mengatikan kata lubang seribu. Jeglongan Sewu sebagai nama danau dikarenakan jalanan ditepi danau itu berlubang atau tidak rata.


Keliling dari Danau Jeglongan Sewu sendiri cukup panjang yaitu menembus 8KM. Sehingga untuk menyelesaikan latihannya Roju harus menempuh jarak 800 KM dalam waktu 6 jam sungguh sangat sulit untuk dilakukan.


Namun Roju kini terlihat sangat bersemangat karena baru saja mennyelesaikan putaran pertamanya. Pada putaran kedua staminanya mulai menurun bahkan kecepat larinya saja sudah tidak seperti di putaran pertama tadi.

__ADS_1


__ADS_2