Sang Serigala Malam

Sang Serigala Malam
BAB. 8 PRAHARA GEDUNG PERSATUAN ALKEMIS


__ADS_3

"Hahahahahahaha harusnya aku membatu pembunuh itu untuk membunuhmu namun aku terlalu lelah jadi aku hanya menonton saja hahahahahaha" ucap Suti sambol tertawa.


"Hei kenapa anda tidak membunuh saya sekarang, bukannya anda ingin membantu pembunuh bayaran malam itu?" ucap Roju degan kesal.


"Hahahahaha aku sedang tidak berminat membunuhmu, jika aku melakukan itu maka jabatan master sekteku akan dicopot pihak kekaisaran hahahahaha." ucap Suti dan kembali tertawa.


"Dasar orang tua tidak sadar diri bahkan burung kejantannya sudah tidak mampu untuk berdiri masih saja banyak omong." Roju membatin.


"Ya sudah master sekte yang terhormat aku sedang terburu-buru menghadiri acara pembukaan rumah bordir baru di dekat Gerbang kota." ucap Roju sambil meledek master sektenya.


"Yang benar saja kau kalau berbicara, apa nama rumah bordirnya dan dimana posisi tepatnya?" tanya suti dengan penasaran.


"Aku tidak bisa meberitahu master sekte karena tempat itu rahasia." jawab Roju dengan ekspresi pura-pura menyesal.


Lalu Suti mengeluarkan kantong dari cincin dimensinya dan memberikan kantong itu pada Roju.


"Ada 1000 keping emas di dalam kantong itu, cepat katakan dimana lokasinya!" perintah Suti pada Roju.


"Maaf master sekte aku tidak bisa menerimannya." ucap Roju.


"Baiklah apa yang kamu inginkan?" tanya Suti yang merasa gagal bernegosuasi dengan Roju.


Roju yang menyeringai karena merasa menang karena berhasil tidak membiarkan master sektenya menawar harga.


"Master sekte yang terhormat sudikah dikau memberikan hamba sebuah cincin dimensi agar hamba tidak perlu membawa tas ransel terus menerus sesungguhnya hamba merasa kurang efektif dalam bergerak jikalau harus senantiasa membawa barang bawaan hamba menggunakan tas ransel ini." pinta Roju dengan sopan dan sedikit puitis.


"Hmmmm jika urusan seperti ini sopan santunmu sudah seperti serang budak." ucap Suti pada Roju sambil memberikan cincin dimensi kepada Roju.


"Kenapa cincin dimensi ini sangat kecil ruang penyimpanannya hanya 2x2 meter saja dan lagi tidak ada koin emas di dalamnnya." ucap Roju menggerutu.


"Hei mana ucapan terimakasihmu, apakah kamu tidak mau menerima cincin itu maka kembalikan cepat!" ucap Suti yang sudah kehabisan kesabaran.


"Tidak - tidak master sekte yang terhormat, aku menerimanya dan terimakasih atas cincin dimensinya yang hanya 2x2 meter dan tidak ada koin emasnya." jawab Roju dengan kesal.

__ADS_1


"B4j1n9an kecil apakah kau tau berapa harga cincin itu hah, cincin itu harganya 40 batu roh. Asal kau tau saja 40 batu roh itu setara 4 juta koin emas. Kembalika cepat jika kau terus mengherutu aku akan mengambilnya darimu." teriak Suti dengan marah dan kesal.


"Wokeh - Wokeh master sekte yang terhormat aku menerimanya. Terimakasih." ucap Roju buru-buru memakai cincin itu dan memasukan ranselnya.


"Huh, cepat katakan dimana letak rumah bordir yang baru buka itu!" suruh Suti.


"Di perempatan jalan sebelum gerbang kota ambil arah Utara sampai master sekte melihat ada Gapura batas Desa lalu masukan 10 koin emas pada lubang yang ada di gapura batas desa nanti master sekte akan dikawal orang menuju ke rumah bordir itu." Jawab Roju lalu pergi menuju Gedung Persatuan Alkemis.


Suti yang sedang mengingat - ingat kode lokasi dan cara untuk masuk tiba - tiba tersadar bahwa Roju pergi ke arah yang berbeda dari arah rumah bordir yang Roju tunjukan padanya.


"Sialan b4j1n9an kecil itu, tapi tak apalah aku coba dulu mengeceknya kesana jika b4j1n9an kecil itu berbohong maka awas saja ketika aku bertemu dengannya di sekte nanti." Guman Suti.


Lantas Suti berjalan ke arah sesuai instruksi Roju dan ternyata memang benar apa yang dikatakan Roju. Namun dia sempat terkena masalah karena menggunakan pakaian master sekte Daun Emas yang merupakan sekte kekaisaran sehingga dia harus kembali menggati pakaiannya dan menyamar.


Roju yang sedang berjalan dengan riang karena berhasil memeras master sektenya dia tiba - tiba teringat jika dia lupa memberi tahu master sektenya jika mau masuk ke rumah bordir tidak boleh memakai seragam Sekte kecuali sekte tersembunyi.


"Hahahaha orang tua itu pasti sedang dalam masalah sekarang." Roju membatin lalu tertawa.


Setelah giliran Roju diperiksa penjaga menayakan identitas Roju dengan cara yang cukup kasar karena penampilan Roju tidak mencerminkan orang yang memiliki banyak uang.


"Hei anak kecil dari mana kamu apa tujuanmu masuk ke dalam gedung persatuan alkemis!" bentak penjaga kepada Roju.


Roju diam saja dan malah mengupil lalu menujukan upilnya pada penjaga yang membentaknya.


"B4j1n9an tidak tau diri" ucap penjaga itu lalu melayangkan pukulan ke arah Roju.


Namun Roju dengan sigap menahan pukulan penjaga itu dengan tangan kiri. Penjaga itu yang hanya berada di ranah beladiri tingkat hijau tahap 1 terkejut karena pukulannya di tangkap dengan mudah oleh pemuda itu.


Roju mengeluarkan token murid sekte Daun Emas dan melemparkannya pada penjaga yang lain.


Penjaga yang menangkap token murid Roju langsung berkata


"Silahkan masuk tuan" ucap penjaga lalu mengembalikan token murid milik Roju.

__ADS_1


Roju menerima token itu lalu melepaskan tangan penjaga yang tadi hendak memukulnya. Roju berjalan dengan santai setelah menimbulkan kegaduhan digerbang Gedung Persatuan Alkemis.


Penjaga yang pukulannya ditahan oleh Roju bertanya pada temannya.


"Hei apakau mengenalnya?" tanya dia


"Menurutku dengan tingkah lakunya dan kekuatannya dia adalah jenius no 1 dari sekte Daun Emas, Roju itu adalah namanya." jawab penjaga satunya sambil berfikir.


"Bukannya rumor mengatakan bahwa dia sangat brutal?" tanya penjaga yang pukulannya ditangkap Roju tadi.


"Hei apa kau tidak sadar jika aku mempersulitnya tadi maka kamu mungkin sudah mendapatkan luka serius terlebih lagi dia mungkin tidak mau menimbulkan masalah dengan Gedung Persatuan Alkemis." jawab penjaga lainnya.


Baru saja penjaga itu selesai berbicara kepada rekannya sebuah teriakan terdengar dari dalam Gedung Persatuan Alkemis.


Saat Roju sedang berjalan ada seorang pemuda yang tampak menggunakan pakaian branded dari kota menabraknya. Lantas terjadi keributan antara Roju dengan pemuda itu.


"Hei kau membuat pakaian mahalku kotor dasar orang kampung." ucap pemuda itu.


Roju tetap seperti tidak mendengar keluhan dari pemuda itu lalu mengorek telingannya dengan jari kelingkinnya dan mengelapkannya pada pakaian branded atau mewah pemuda itu.


"Dasar menjijikan orang kampung tidak berguna." berkata lalu melemparkan sebuah pukulan ke arah wajah Roju.


Roju menggenggam kepalan tangan pemuda itu lalu memremasnya hingga terdengar bunyi tulang bergeser. (Krenyes .... Krenyes)


Pemuda kota itupun berteriak kesakitan.


"Aaaaaaaa lepaskan aku lelaskan dasar orang kampung menjijikan." terika pemuda itu.


Roju yang bosan mendengar omongan pemuda itu lantas menampar pemuda itu hingga pemuda itu terungkur ke lantai.


(PLOK..... Gedebug jeder).


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2