
"Sudah lah penatua Zuna biar aku saja yang membayar dendanya. Aku takut penatua Lizi mendadak miskin jika harus membayar denda atas apa yang dia perbuat." ucap Roju lalu megeluarkan 4 buah batu roh kualitas rendah lalu menghilang menyeret Suti dengan cepat bahkan Zuna tidak merasakan keberadaan keduanya dalam jarak 100 meter.
"Hei bocah bau lepaskan tangan kotormu itu bajuku bisa ternoda disentuh oleh tangan kotormu." ucap Suti sambil melepaskan genggaman tangan Roju di lengan bajunya.
"hehehehe maafkan aku master sekte yang terhormat." ucap Roju.
"tunggu sepertinya ada yang salah dengan ucapanmu. Cepat katakan tujuanmu membawaku kemari!" ucap Suti dengan ekspresi aneh dan bertanya - tanya.
"Hehehehe master sekte yang terhormat bukankah tidak baik berburuk sangka pada murid sektemu sendiri?" ucap Roju berbasa basi.
"Heh semakin aneh tingkah mu semakin buruk firasatku. Cepat katakan apa maumu!" ucap Suti semakin khawatir. Ini karena terakhir kali Roju bertingkah seperti ini dirinya di laporkan pada prajurit kekaisaran saat sedang berada di rumah bordir karena tidak memenuhi keinginan bocah bau itu.
"Hehehe tenang saja master sekte aku hanya minta master sekte mau melatihku ilmu pedang, yah setidaknya aku memiliki mentor berlatih pedang agar gerakaknku tidak kaku. Apakah master sekte bersedia?" ucap Roju dengan santai.
"Hmmm biar kupikirkan dulu sebentar." ucap Suti.
"Tenang saja master sekte aku tau jika master sekte tidak pandai menggunakan pedang, tapi pasti dengan pengalaman master sekte yang sudah banyak berkecimpung di dunia persilatan pasti master sekte bisa menilai gerakan pedang dan memberikan saran agar gerakanku menjadi lebih baik" ucap Roju sambil memuji - muji Suti supaya mau menjadi mentornya berlatih seni pedang.
"Jujur saja disekte ini tidak ada seorangpun yang gerakan pedangnya baik karena disekte ini kebanyakan adalah ahli beladiri tangan kosong, senjata tongka dan tombak." ucap Suti sambil memikirkan apakah bocah bau dihadapannya memiliki niat tersembunyi atau tidak.
"Tenang saja master sekte aku memang sepenuhnya tidak yakin jika bisa menjadi ahli pedang jika hanya belajar disekte Daun Emas. Namun setidaknya aku memiliki bekal untuk belajar pedang di sekte menengah, bukannya tidak lama lagi aku kan akan masuk sekte menengah benarkan master sekte?" ucap Roju menghasut Suti.
"Hmmmmm tunggu sebentar. Biarkann aku memikirkannya" ucap Suti berfikir kembali." ucap Suti masih ragu mengambil keputusan. Ini karena dia memiliki banyak teman yang merupakaan penatua - penatua disekte menengah maupun sekte atas bahkan ada beberapa temannya menjadi master sekte sekte tingkat 3 serta sekte tingkat 2.
Suti sulit mengambil keputusan karena ia khawatir reputasinya akan rusak karena mulut Roju dan perilaku licik serta suka berbuat onar akan menyebabkan dirinya malu apabila teman - temannya terhasut oleh ucapan Roju. Penatua Lizi yang merupakan penatua sepuh saja sampai mengamuk karena tingkah bocah bau di depannya ini.
"huhhh berapa lama waktu yang master sekte butuhkan? Apakah 1 jam? Atau 2 jam? Atau 3 jam? Atau 10 menit lagi?" ucap Roju setengah memaksa Suti agar segera memberikan keputusan.
__ADS_1
"Dasar bocah bau setelah matahari tenggelam nanti temui aku diruangaku. Sudah aku masih banyak urusan" ucap Suti kesal lalu pergi.
"Hei master sekte setelah matahari terbenam aku sudah berjanji makan malam bersama Zan dan Rosy hei hei kau mengacaukan susunan program rencana acara miliku" ucap Roju yang menjadi kesal.
"aku tidak peduli dengan urusanmu bocah bau jika kamu bersungguh - sungguh temui aku setelah matahari terbenam diruanganku." ucap Suti lalu pergi menghilang dengan cepat. Suti yang sudah bosan mendengar bac0tan Roju berusaha secepat mungkin menjauh dari bocah bau itu.
"Hmmmm sepertinya aku harus merubah acaraku hmmmmm pasti si otak makanan akan mengamuk nanti hahahahahaha" batin Roju lalu tersenyum.
Roju berjalan santai menuju kamarnya karena masih siang. Dijalan dia melihat banyak murid dan penatua yang memilih menghindarinya, terlihat ekspresi ketakutan diwajah mereka.
"Hahahahahaahaha tak kusangka aku membuat sebuah sesuatu yang cukup mengerikan hahahahahahaha" batin Roju.
"Hmmm sepertinya dua orang aneh itu harus segera menyuslku jika tidak mereka akan tertinggal jauh." ucap Roju.
Setelah sampai dikamarnya Roju menulis sebuah pesan dan menempelkannya didepan pintu kamarnya.
***** Untuk 2 orang yang mencariku setelah matahari terbenam.*****
** Aku sedang memiliku urusan dengan master sekte sebentar.**
** Kalian pergilah dulu lalu pasan apa saja yang kalian inginkan.**
** Aku akan menyusul sebelum makanan yang kalian pesan siap **
*** Pemilik kamar ***
***Teman kalian ***
__ADS_1
Setelah selesai menulis surat Roju pergi menuju ruangan milik Suti.
"Hmmm kemana orang tua bau itu pergi kenapa tidak ada disini. Hmmm apakah orang tua bau itu kabur? Hmmmmm" Batin Roju sambil mengelus - elus dagunya.
(Haaaaaa aahhh) Roju menguap. "sepertinya lebih baik aku tidur di kursi tamu milik master sekte saja karena aku sudah mengantuk." batin Roju lalu merebahkan tubuhnya disebuah kursi sofa panjang.
Roju tidur dengan nyenyak saking nyenyaknya dia bahkan sampai mengorok.
"Ngoook nggook ......" suara ngorokan Roju sambil ngiler disofa.
Sedangkan Suti saat ini sedang berada di Aula Hukum sedang santai bersama Zuna dan mendiskusikan permintaan Roju.
"Zuna bagaimana menurutmu dengan permintaan bocah bau untuk mengajarinya seni pedang?" tanya Suti.
"Hmmmm sebenarnya tinggal kau setujui saja selama anak nakal itu tidak menuntut untuk menjadi ahli pedang, lagian dia juga tau bukan bahwa di sekte ini tidak ada yang ahli dalam seni pedang" ucap Zuna dengan santai.
"Memang dia tidak menuntut namun kau tau sendiri mulut bocah bau itu setajam silet dan selicin belut apakah menurutmu dia akan mempermalukanku selaku master sekte dan orang yang mengajarinya seni pedang ketika dia sudah masuk ke sekte menengah." ucap Suti dengan gundah gulana.
"Bukankah teman teman kita sudah tau jika kau sedari muda dulu tidak mahir dalam seni pedang, bahkan hanya ada 3 orang diantara teman - teman kita yang ahli dalam seni pedang, jadi jangan khawatir dia akan mempermalukanmu walaupun mulut anak nakal itu cukup tajam dan licin teman - teman kita pasti lebih tau daripada orang lain" jelas Zuna dengan panjang lebar.
"Sepertinya saranmu bisa aku terima." ucap Suti.
"Baiklah aku akan kembali dulu matahari sudah hampir tenggelam, anak nakal itu pasti akan menerorku terus menerus." ucap Suti berpamitan pada Zuna.
"Yah jangan lupa berikan latihan yang keras pada anak nakal itu" ucap Zuna.
Suti berjelan kembali menuju ruangan master sekte. Ketika Suti sudah cukup dekat dengan ruangannya terdengar suara babi dari dalam ruangannya. "Ngooook ngookk ngoook ngook ngoook ngook ngook" mirip dengan suara babi.
__ADS_1