
Terlihat seorang pemuda dengan wajah pas - pasan sedang membelah batu menggunakan sebuah tongkat logam namun bisa dilihat jika hasil potongannya tidak halus. Sedangkan dibelakangnya terlihat sebuah pohon besar dengan banyak sekali tebasan pedang. Ada beberapa dahan pohon yang terpotong dengan rapih.
Roju kini terlihat lebih kekar setelah berlatih bersama Suti selama total 1 tahun 7 bulan. Namun wajah dan sifatnya belum berubah.
"Sudah tidak usah banyak gaya ayo kembali kesekte dan bersihkan barang - barang kotormu dari sekteku dan pergilah jauh - jauh aku sudah muak melihat wajahmu." ucap Suti tanpa ekspresi.
"Hohoho master sekte tampaknya kau bersedih jika aku tidak ada disekte dan menghiburmu hihihihi" ucap Roju.
"Kutu kupret awas saja jika setelah masuk sekte menengah kamu kembali ke sekteku dan mengacau akan aku adukan pada ayahmu" ancam Suti.
"Hehehehe jangan begitu lah master sekte, tenang saja aku anak sesekali mengeunjungimu membawa hadiah yang pasti mengejutkanmu hihihihi" ucap Roju sambil tersenyum licik.
Mereka berdua terus ngobrol sambil berjalan kembali dari hutan yang berada cukup jauh dibekalakang sekte Daun Emas sekitar 3 KM. Sebenarnya adanya Sekte Daun Emas adalah untuk mengantisipasi apabila tiba - tiba ada serangan dari gerombolan binatang siluman. Maka kekaisaran memutuskan mendirikan sekte.
Seiring waktu berjalan Roju menjadi lebih dekat dengan Suti. Dalam hati Roju, Suti kini adalah guru pertamanya. Sebenarnya Suti pun merasakan perbedaa dari Roju yang sedikit lebih menghormatinya. Namun dia masih harus tetap berjaga jaga karena keterampilan dan kekuatan Roju meningkat sangat jauh.
Kini Roju dan Suti sudah berada di sekte. Roju langsung berpamitan untuk membereskan barang - barangnya. Ketika Roju dalam penjalanan menuju kamarnya di jalan Roju bertemu dengan Zan dan Rosy. Roju menyapa mereka untuk berpamitan.
"Hei kalian kenapa sekarang terlihat lebih pendek dariku, bukannya dulu aku yang paling pendek diantara kita bertiga." ucap Roju menyapa dua sahabatnya.
"Ooo ternyata kau sudah kembali, sepertinya latihanmu dengan master sekte cukup aneh. Apakah kamu diikat di pohon lalu ditarik - tarik oleh master sekte hingga bandanmu menjadi panjang. Hahahaha" Zan membalas sapaan Roju.
Melihat Rosy yang murung dan terlihat sedih Roju pun mulai meledek temannya yang satu itu.
"Hei tukang makan kenapa wajahmu murung dan bersedih, apa perutmu lapar? Kalau begitu ayo kita ke restoran Daun Jati kebetulan aku sudah lama tidak makan enak." ledek Roju.
"Aku sedang tidak memiliku nafsu makan." ucap Rosy dengan menundukan kepala.
__ADS_1
"Hei Zan kenapa dengan makhluk aneh satu ini, apa dia salah minum pil atau malah sudah sebulan tidak buang air besar?" ucap Roju masih meledek Rosy.
Namun Rosy masih tetap tertunduk seakan tidak peduli dengan provokasi Roju.
"Sebaiknya kita pergi ke restoran Daun Jati aja dulu, rasanya kurang enak jika kita ngobrol di jalan" ucap Zan lalu menarik kerah Rosy dan menyeretnya.
"Oke atur saja masalah pembayaran nanti biar aku yang tangani" ucap Roju mengikuti langkah Zan dan Rosy.
Di sepanjang jalan tidak ada yang membuka suara membuat Roju yang penasaran ada apa dengan Rosy kesal. Tanpa aba - aba Roju menarik kerah kedua sahabatnya dan membawa mereka dengan kecepatan tercepatnya yang kini berhasil dia capai.
Latihan yang Roju jalani bersama Suti bukan hanya melatih fisik dan staminanya namun juga melatih kecepatannya. Kini kecepatan Roju setara dengan 250 KM/H. Kecepatan ini terbilang cukup cepat karena di desa kelahirannya hanya Topa ayah dari Roju yang bisa melampaui kecepatannya. Itu karena Topa dapat memanipulasi elemen petir tahap 1 atau dapat disebut juga petir hitam. Sehingga Topa memiliki julukan Si Kilat Hitam.
Rosy dan Zan yang terkejut dengan kejadian yang tiba - tiba membuat kedua orang itu tidak bisa bernafas. Karena kecepatannya yang terbilang sangat cepat bagi mereka.
Melihat Rosy dan Zan hampir pingsan ketika sudah berada di pintu masuk restoran Daun Jati. Roju hanya tertawa karena wajah dari dua sahabatnya itu terlihat berwarna putih kusut seperti kain lap yang ada di meja makan.
"Hig hig hig. Breng hig s3k hig kami hig hampir mati hig" ucap Zan sambil cegukan karena kekurangan cairan.
"Hahahahah maaf maaf aku tidak bermaksud hanya saja aku penasaran dengan penyebab tukang makan menjadi murung" ucap Roju.
"Ohh hig" ucap Zan yang masih cekugan.
"kalian berdua minum dulu dan tenangkan diri kalian lalu mulailah ceritanya dari awal agar aku tidak penasaran." ucap Roju.
"Hig Hig Hig" Zan yang ceguka hanya menganggukan kepala.
10 menit berlalu dan cegukan Zan dan Rosy sudah berhenti.
__ADS_1
"Ayo Zan ceritakan tentang aku, kau, dan dia" ucap Roju bersemangat sambil menunjuk Rosy yang masih murung.
"Baiklah - baiklah kamu sungguh tidak sabaran hahahahaa" ucap Zan.
"Hei ayolah cepat cerita-" belum selesai Roju berkata. Seorang pelayan menyela ucapan Roju mengantarkan pesanan.
"Maaf tuan ini pesananya silahkan dinikmati" ucap sang pelayan lalu pergi.
"Sudahlah Roju kita makan saja dulu masalah itu bukan masalah besar hanya masalah sepele tapi dibesar - besarkan oleh si tukang makkan" ucap Zan.
"Owh ya sudah kalo begitu ayo mulai makan" ucap Roju.
Roju mengambil paha burung unta dan menggoyang - goyangkan didepan wajah Rosy lalu memakannya. Rosy sedikit tegoda namun karena kesedihannya dia masih berusaha menahan hasrat makannya yang sudah bergelora.
Setelah Roju mengawali menggoda Rosy dengan makanan Zan pun menjadi tertarik dengan reaksi Rosy. Zan bahkan mengunyah daging burung unta di dekat telinga Rosy agar semakin membangkitkan hasrat nafsu makan Rosy dan mengalahkan kesedihan hati Rosy.
Mendengar suara daging yang dikunyah dengan sangat jelas perut dari Rosy mulai menujukan reaksi dengan berbunyi.
Roju yang mendengar suara perut Rosy.
"Hahahahaha sudah lah jangan siksa dirimu dengan tidak makan, kamu kann terkenal si tukang makan" ucap Roju kembali meledek Rosy.
Roju kembali mengigit paha Burung Unta dan mengunyahnya dengan pelan - pelan sehingga terlihat seperti slow motion. Setelah menelan daging yang Roju kunyah jari tangan kanan Roju membentuk huruf O (👌) menyentuh bibirnya lalu berkata "Sodaaappp".
Rosy mulai tergoda kini terlihat dia mulai kehilangan kesadarannya karena selalu digoda oleh kedua sahabatnya. Zan yang melihat Rosy mulai kembali menjadi si tukang makan memotong daging sayap burung unta dan memasukannya kedalam mulut Rosy.
Setelah nafsu makannya sudah mencapai ubun - ubun tanpa bisa menahanya lagi Rosy akhirnya kembali menjadi gila makan dan melupakan kesedihan sebelumnya.
__ADS_1
"Pelayan aku pesan 1 ekor sapi guling saus padang" ucap Rosy yang kini menjadi bersemangat lagi.