
Selesai makan malam bersama Zan dan Rosy. Roju tidak ikut kembali menuju sekte melainkan Roju bergegas menuju markas rahasianya.
Roju bergegas dengan cepat tanpa memperlambat langkahnya sedikitpun.
Sesampainya Roju markas rahasianya Roju mendapati Ran dan Lan sedang makan malam. Roju memutuskan untuk menunggu dua orang anak buahnya itu selesai dahulu.
"Sepertinya jika aku menemui mereka sekarang acara makan malam mereka bisa jadi lebih lama." batin Roju.
Setelah 5 menit menunggu Lan dan Ran sudah selesai makan dan membereskan prabotan yang mereka gunakan untuk makan.
Roju berjalan santai menuju kearah dua orang kakak beradik.
"Tuan selamat datang" ucap Lan yang melihat kedatangan Roju.
Ran mendengar adiknya menyapa Roju bergegas menuju sumber suara.
"Tuan maafkan saya terlambat menyambut anda." ucap Ran.
" Ya. Kalian berdua duduk dulu aku tidak akan lama disini namun aku memiliki tugas untuk kalian dalam jangka waktu yang lama." ucap Roju.
Ran dan Lan segera duduk dihadapan Roju.
"Ran ambil ini. Kau dan Lan kembali kumpulkan herbal yang sudah aku tulis daftarnya di dalam cincin dimensi itu. Di dalam juga ada pil dan koin emas.
Pil berwarna merah kegunaannya untuk meningkatkan energi batin.
Pil berwarna hijau kemerahan berguna sebagai penawar racun
Pil berwarna perak dapat memperkuat tubuh secara instan namun efek sampinya tubuh pengguna menjadi kaku dan keras seperti logam. Apa kalian mengertin" jelas Roju.
"Ya siap paham tuan" ucap Ran dan Lan kompak.
"Bagus satu hal lagi kalian jangan usik kebun herbal itu dulu cari lah herbal yang ada di sana untuk hadiah dari tugas yang aku berikan kalian anggap saja pil yang aku berikan ini sebagai hadiah kerja kalian -." ucap Roju.
"Terimakasih tuan" ucap Lan memotong ucapan Roju.
"Dengarkan aku dulu hingga selesai berbicara dan jangan memotong. Untuk herbal kalian berikan kepada seseorang direstoran Daun Jati pada waktu makan malam dalam waktu 2 minggu lagi. Lalu untuk bunga kumis kucing bulan kalian serahkan pada orang yang sama 1 bulan dari sekarang. Apakah kalian mengerti?" jelas dan tanya Roju.
"Siap kami mengerti tuan" ucap Lan dan Ran.
__ADS_1
"Bagus orang yang harus kalian temui memiliki batu badar besi seperti milik kalian. Satu lagi setiap bertugas bertemu dengan orang di restoran Daun Jati kalian pilih saja salah satu dari kalian sisanya berjaga di depan pintu masuk markas. Dan lagi kalian harus menyamar dengan penampilan sepertiku. Apakah kalian paham?" ucap Roju.
"Siap paham tuan" ucap Lan dan Ran kompak.
"Bagus, Ran akan memegang cincin dimensi ini sementara waktu jika misi berjalan dengan lancar masing - masing dari kalian akan aku beri hadiah cincin dimensi yang cukup luas." ucap Roju.
"Baik tuan kami akan menyelesaikan tugas dari tuan dengan sebaik mungkun" ucap Ran.
Lan hanya mengangguk - nganggukan kepalanya mengiyakan ucapan kakaknya.
"Bagus jika kalian mengerti. Ini peta untuk melewati labirin disana. Aku pergi dulu" ucap Roju sambil memberikan sebuah salinan peta labirin dan menunjukan arah labirinnya, lalu pergi melewati labirin itu.
"Kalian jangan lupan tingkatkan kekuatan kalian dalam satu bulan ini" sebuah suara dari dalam labirin.
"Baik tuan" ucap Ran dan Lan.
Roju langsung kembali ke kamarnya lalu bergegas tidur.
Pagi harinya sebelum matahari terlihat bulat sempurna Roju sudah berdiri di depan pintu ruangan milik Suti.
(kraaaakkk) suara pintu terbuka. Memperlihatkan sosok pria paruh baya.
"Selamat pagi master sekte kapan dimulainya latihanku?" ucap Roju sambil tersenyum.
"Dasar bocah tengik mengaggetkanku saja. Setelah sarapan temui aku disini aku akan pergi sarapan dulu." ucap Suti lalu pergi meninggalkan Roju.
"Oke master sekte" ucap Roju mengikuti langkah Suti.
Suti yang melihat jika dirinya di ikuti Roju berbalik dan berkata.
"Hei bocah kau pergilah sarapan sendiri jauh - jauh hus - hus. Pastikan makan yang banyak karena mungkin kau akan berlatih dalam waktu lama dan tidak ada kesempatan untuk makan enak. Hahahahaha" ucap Suti lalu menghilang (Swossh).
"Hmmmm sepertinya aku akan disiksa habis - habisan oleh orang itu" batin Roju.
Roju pun pergi berlawanan arah dari Suti. Roju berjalan menuju ke restoran Daun Jati sedangkan Suti entah kemana perginya.
Waktu pun berlalu kini sudah menjelang siang. Roju pun sudah lama berdiri menunggu Suti yang tak kunjung kembali.
"Hei kemanalah orang tua itu pergi, apakah dia berbohong mau melatihku." ucap Roju.
__ADS_1
Dari jarak sejauh 2 Kilo meter Suti sedang nongkrong disebuah angkringan. Suti sudah menghabiskan 10 bungkus nasi kucing 6 tempe mendoan dan 3 gelas kopi. Namun Suti masih dengan santai menambah makananya.
"Hai master sekte tumben sekali jam segini masih sarapan disini apakah ada yang menerormu di sekte." ucap Zuna yang baru datang menghampiri Suti.
"Hah bukannya aku diteror tapi ini untuk melatih kesabaran si bocah tengik sampai dimana." ucap Suti.
"Hahahahaha dia sudah dari jam 7 menunggu di depan ruangan milikmu" ucap Zuna.
"Biarkan saja, aku akan kembali setelah makan siang nanti. Ini juga untuk menilai seberapa kuat tekadnya." ucap Suti.
"Hahahaha sudah lah terserah anda saja master sekte" ucap Zuna.
Roju kini duduk dibawah pohon yang ada didepan ruangan master sekte.
"kemanalah orang tua bau, sudah jam 10 dia belum kembali, apakah dia benar - benar mau melatihku atau hanya berbohong kepadaku hnmm." batin Roju.
"Hah lebih baik aku bersabar dulu jika nanti malam dia tidak datang maka aku obrak abrik seluruh sekte agar dia kembali" batin Roju.
Setelah waktu berjalan hingga tengah hari. Roju merasakan aura milik Suti sedang mendekat. Roju buru - buru berdiri di depan pintu ruangan milik Suti.
"Ayo master sekte aku sudah siap untuk berlatih." ucap Roju.
"Ikuti aku" ucap Suti pergi menuju hutan dibelakang sekte.
"Baiklah sekarang angkat Batu itu." ucap Suti sambil menunjuk sebuah batu berukuran 1 x 1 meter.
"Baik master sekte" ucap Roju lalu mengangkat batu itu dengan kedua tangannya dan mengangkatnya diatas kepala.
"sudah kulakukan master" ucap Roju agak merasakan beban berat dari batu yang dia angkat.
"bagus tahan dulu sampai aku menyuruhmu menurunkannya." ucap Suti.
"Oh oke" ucap Roju singkat karena batu yang dia angkat memang cukup berat.
Saat ini Roju mulai memfokuskan energi batinya untuk mengurangi beban dari batu yang dia angkat.
Sedangkan Suti mengeluarkan buku yang berjudul *IKEH IKEH KIMOCI*
Suti terlihat sangat menghayati isi dari buku itu hingga melupakan bahwa Roju sedang mengangkat batu besar didepannya
__ADS_1
BERSAMBUNG.....