Sang Serigala Malam

Sang Serigala Malam
BAB. 19 MEMBANTU 3 ANAK KEMBAR.


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan mie ayam sebanyak 3 mangkok Roju kembali kekamarnya.


"Hmmm apa sebaiknya aku meningkatkan energi batinku dengan pil kultivasi atau aku membaca buku seni beladiri pedang yang kemarin aku beli di aula misi yah atau mending tidur saja yah." batin Roju sambil berjalan menuju kamarnya.


"Sepertinya aku coba saja mempelajari buku seni beladiri pedang itu saja." batin Roju memutuskan.


Disebuaha kamar penginapan di atas kasur terlihat seorang pemuda sedang membaca sebuah buku seni beladiri berjudul Pedang Bayangan. Namun tak lama buku itu jatuh menimpa perut pemuda itu setelah terlepas dari genggaman pemuda itu.


Selidik punya selidik ternyata pemuda itu tertidur saat membaca buku seni beladiri itu.


Next time..... Pagi menjelang.


Mentari mulai bagun dari istirahatnya, kembali mengambil alih tugas sang rembulan yang sudah bekerja keras memberikan cahaya diwaktu istirahat sang mentari. Namun nampaknya sinar dari sang mentari terhalang oleh gugusan uap air yang terlihat mulai menghitam memperlihatkan bahwa dia gugusan uap air itu seperti sedang bersedih sehingga bumi bumi tanaman tanaman dan makhluk hidup disekitarnya menjadi tidak bersemangat. Setelah lingkungan disekitar terlihat murung bahkan hewan - hewan enggan keluar dari sarang - sarangnya.


*byuurrr tak tak tes tes grrrrrrrr duar wosh* tangis dari sang awan menghasilkan hujan dan sambaran petir. Membuat susasana fajar yang harusnya ceria menjadi sendu, gundah gulana.


Terlihat seorang pemuda yang terbangun dari tidurnya. Dia berjalan menuju tempat makan yang ada di sebuah penginapan. Selesai dia menyantap sarapannya dia melirik ke luar namun terlihat bahwa sang awan masihlah menangis dan menjerit menyebabkan susasana sendu yang berlarut larut.


Pemuda itu akhirnya kembali ke kamarnya dan kembali melepaskan kesadarannya menuju mimpi indah yang sulit untuk diwujukan atau bahkan mustahil diwujudkan.


Namun suasana sendu itu tak berjalan lama dengan kekuatannya sang mentari menghibur sang awan agar berhenti menangis dan menggantikan suasana sendu itu menjadi keceriaan.


"Halah b4J1n9an tadi hujan pas aku baru saja tidur sebentar malah Mataharinya nongol" gerutu pemuda berpakaian hitam di tempat tidurnya sambil menarik selimutnya menutupi wajahnya yang terpapar cahaya sang mentari dari jendela.


"Hmmmmmmm ngopi sambil makan cemilan rasanya enak kayaknya" batin pemuda itu terlihat merencanakan sesuatu.


"Ngokeh baiklah ayo bangun tak perlu mandi langsung jalan - jalan cari cemilan saja." ucap sang pemuda yang adalah Roju.


Setelah berjuang melawan penyakit malasnya sekitar 20an menit akhirnya Roju mampu bangun. Akhirnya dia berjalan - jalan di sekitar penginapan mencari cemilan.


Setelah cukup lama berjalan - jalan Roju melihat sebuah toko kecil dari toko itu terlihat asap hitam membumbung tinggi menandakan ada aktifitas pembakaran dari dalam toko itu. Roju berjalan menuju toko itu ternyata antreannya sudah cukup panjang.

__ADS_1


Kebanyakan antrean di toko itu hanyalah masyarakat biasa jarang ada pejabat kekaisaran atau orang - orang kaya sehingga cukup tertib.


Toko yang didatangi Roju adalah toko kue legendaris bernama Kue Surabi.


Setelah antre cukup lama akhirnya tiba giliran Roju.


"Bibi berapa harga kue surabinya?" tanya Roju sopan.


"Harganya 10 keping perak." jawab Bibi penjual kue surabi.


"Baiklah bibi aku beli 20 keping emas" ucap Roju.


Bibi penjual surabi itu tekejut karena anak muda yang terlihat berusia 11 hingga 12 tahun itu tidak terlihat seperti tuan muda kaya namun dengan entengnya membelanjakan koin emas.


**Sebelumnnya untuk mata uang belum author jelaskan maka author jelaskan sekarang


1 batu roh kualitas tinggi \= 100 batu roh kualitas sedang


1 batu roh kualitas sedang \= 100 batu roh kualitas rendah.


1 koin emas \= 100 koin perak.


Batu roh mahal karena didalamnya mengandung energi batin yang dapat membantu praktisi beladiri memulihkan energi batinnya sehingga lebih berharga dari pada koin emas.***


Roju menunggu cukup lama karena kue surabi ditoko itu akan dibuat mendadak atau bisa disebut dengan dimasak dadakan. Setelah cukup lama berselang pesanan Roju sudah selesai, setelah membayar Roju berjalan kembali ke penginapan namun ditengah jalan Roju dihampiri 3 orang anak kecil.


"Kakak boleh minta makanannya tidak? Kami lapar kak" ucap salah satu anak itu.


Roju melihat ketiga anak itu terlihat kembar.


"Dimanakah orang tua kalian bertiga?" tanya Roju.

__ADS_1


"Kakak orang tua kami sedang sakit kami hanya orang miskin, untuk makan saja sudah apalagi membeli obat dari alkemis." ucap anak kecil yang lainnya.


"Bolehkah kakak datang kerumah kalian siapa tau kakak bisa menyembuhkan orang tua kalian" ucap Roju.


"Kenapa kakak mau membantu kami padahal kita baru mengenal" jawab anak kecil yang tadi masih diam dia terlihat cukup pintar dan waspada.


"tenang saja adik kecil kakak tidak punya niat jahat pada kalian dan orang tua kalian, kebetulan juga karena kakak juga punya teman alkemis siapatau bisa membantu kalian agar tidak seperti ini lagi" ucap Roju meyakinkan mereka.


"Baiklah kakak aku akan tetap mengawasi kakak jika kakak bertindak mencurigakan maka aku akan bertindak" balas anak kecil yang terlihat masih waspada pada Roju.


"Iya iya terserah kamu saja makanlah dulu agar kalian lebih bertenaga" ucap Roju lalu memberikan 100 buah surabi yang dia beli pada ke 3 anak kecil malang itu.


"terimakasih kakak, ayo kakak ikuti kami ke rumah. Maafkan kami jika nanti rumah kami tidak sebagus rumah kakak" ucap anak kecil yang pertama kali menyapa Roju.


"Hei kalian makan saja dulu" ucap Roju.


"Tidak kakak biar Ayah dan Ibu kami dulu yang makan mereka sedang sakit" ucap anak kecil yang terlihat paling tua.


"Baiklah ayo bergegas agar aku lebih cepat tau apa yang terjadi pada orang tua kalian" ucap Roju lalu berjalan bersama dengan ketiga anak kecil itu.


"Kakak sebelumnya perkenalkan namaku Eka. Aku yang paling tua diantara kami bertiga, yang ini Dwi dan yang itu namanya Catur. Kami bertiga adalah anak kembar." ucap Eka sambil berjalan.


"Ya salam kenal nama kakak Roju. Apakah kalian punya saudara lain selain kalian bertiga?" balas Roju mengisi perjalanan mereka.


"Tidak ada kakak Roju hanya ada kami bertiga saja" ucap Dwi.


"Apakah kalian punya paman atau bibi?" tanya Roju lagi.


"Kami tidak bisa mengatakannya pada orang luar kami mohon maaf" balas Catur yang terlihat masih waspada pada Roju.


"Baiklah kalau begitu aku minta maaf" ucap Roju.

__ADS_1


"Sepertinya ada masalah dalam keluarga mereka sehingga keluarganya menjadi seperti ini. Hmmm apakah aku harus ikut campur dalam masalah keluarga mereka hmmmm" Roju membatin.


Mereka melanjutkan perjalanan tanpa keluar sepatah katapun setelah pertanyaan terakhir Roju membuat suasana menjadi canggung.


__ADS_2