
"Hahaaha bagus aku tunggu kalian berdua nanti malam, sekarang aku harus mengurus sedikit masalah dengan kakekmu Zan. Sampai jumpa" ucap Roju lalu meninggalkan kedua sahabat karibnya.
"Yayayayaya sampai jumpa nanti malam awas saja jika kau berbohong soal makanan gratis padaku" ucap Rosy sambil tertawa riang gembira pertanda sedang bahagia.
Zan menggelengkan kepala melihat tingkah Rosy yang tak pernah berubah tetap saja seperti orang tidak pernah makan di restoran seumur hidupnya.
"hei - hei sudahi kelakuan bodohmu, menurutmu kenapa Roju mengajak kita untuk pergi makan malam? Apakah dia punya pacar atau dia baru menang taruhan dengan penatua Lizi?" tanya Zan pada Rosy.
Rosy yang jengkel karena dikatak bodoh menjitak kepala Zan.
(Pletak) "Hei kenapa kau menjitaku" ucap Zan sambil mengelus - elus kepalanya yang benjol akibat jitakan Rosy.
"Siapa suruh kamu mengataiku bodoh, aku tidak bodoh tapi aku adalah pencinta makan gratis, jika sudah membicarakan makanan maka otakku secara otomatis akan digantikan oleh lambungku hahahahahahaha" ucap Rosy pada Zan.
"Dasar si otak lambung, kamu belum menjawab pertanyaanku" ucap Zan yang kini kesal dengan kekonyolan sahabatnya.
"Eh memangnya kamu bertanya apa padaku bukankah kau mengatai aku bodoh?" tanya Rosy dengan ekspresi bingung.
"Pantas saja otakmua makanan terus telingamu saja tersumbat nasi basi, aku sudah berkata panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume kamu tidak mendengarnya." ucap Zan yang jengkel dengan Rosy.
"Iya iya aku minta maaf tapi tarik ucapanmu jika telingaku tersumbat nasi basi. Aku tidak mau ribut denganmu. Bisa - bisa nanti malam rencana makan malamnya gagal jika sekarang aku ribut denganmu." ucap Rosy dengan santai tanpa merasa bersalah.
"Ya sudah lah terserah kau saja aku mau kembali ke kamarku" ucap Zan lalu pergi meninggalkan Rosy.
"Tunggu aku ikut" ucap Rosy sambil mengejar Zan.
"Hei aku masih normal kembalilah ke kamarmu sendiri atau kemanalah terserah kamu" balas Zan mempercepat langkahnya.
"Iya - iya aku kembali ke kamarku tapi bisakah kita berjalan bersama sama." ucap Rosy.
"Hah terserah kau saja, besok carilah wanita jangan mengintili aku terus aku takut para wanita mengira aku tidak normal" ucap Zan.
"Hehehehe tenang saja aku juga masih normal" balas Rosy.
__ADS_1
Lalu mereka berdua berjalan bersama kembali ke kamar mereka masing - masing.
Berpindah ke Roju.
Roju yang tadi sudah meninggalkan Rosy dan Zan kini menghampiri penatua Zuna dan Lizi.
"Penatua Zuna dimana master sekte yang terhormat kenapa dia tidak menemuiku dan malah menyuruhku menemuinya? Bukankah tadi dia membokongku mencegah jika aku hendak kabur?" ucap Roju bertanya pada Zuna.
Zuna yang terkejut dengan ucapan Roju namun tidak dia tunjukan secara berlebihan.
"Darimana kau tau jika master sekte tadi hendak menangkapmu jika kamu kabur?" tanya Zuna.
"entahlah penatua Zuna instingku merasakan bahwa aura dari master sekte.berada dibelakangku namun cukup jauh." ucap Roju.
"sepertinya setelah dia naik ke ranah biru tahap 2 instinya menjadi lebih tajam seperti binatang siluman" batin Zuna sedang menganalisa perubahan yang terjadi.
Sedangkan Lizi merasa terkejut namun juga bertambah kesal karena baginya anak nakal ini setelah semua ini dia pasti akan menjadi lebih sombong.
"Owh sepertinya instingmu sudah menjadi lebih tajam apakah kau menggunakan teknik seni beladiri untuk merasakan aura orang lain?" tanya Zuna seolah - olah tidak terkejut.
"Sejujurnya setelah aku menerobos aku tidak mengalami apa yang kamu alami, hanya energi batinku saja yang meningkat." ucap Zuna dengan santai
"Ooooh seperti itu" balas Roju.
Lizi yang nampak kesal karena diabaikan hendak berkata namun tidak jadi mengingat kini dia akan menghadapi masalah karena Roju membuatnya marah.
"Hmmmmm apakah ini berkaitan dengan darah serigala bau yang aku minum waktu itu yah hmmmm" batin Roju.
Saat Roju sedang melamun memikirkan penyebab dirinya menjadi seperti orang yang berbeda kini dirinya telah sampai di ruangan master sekte. Roju yang sedang melamun melompat karena kaget mendengar suara Suti.
"Hei bocah bau kenapa kau melamun? Apakah kamu takut dengan hukuman yang aku terima?" ucap Suti lalu tertawa melihat Roju terkejut.
"master sekte yang terhormat aku ingin bertanya apakah ketika anda menembus ranah biru tahap dua apakah insting anda menjadi lebih tajam?" tanya Roju tanpa memperdulikan ucapan Suti tadi.
__ADS_1
"Dasar bocah bau kau -" sebelum Suti selesai dengan cacian dan makiannya Zuna membisiikan sesuatu kepada Suti.
Mendengar bisikan dari Zuna membuat Suti terkejoed dan Terherman - herman.
"Apakah kau yakin Zuna?" ucap Suti lirih agar tidak terdengar oleh Roju.
"Ya sangat yakin" jawab Zuna dengan tegas.
"Hei - hei master sekte yang terhormat bukannya menjawab pertanyaanku malah membicarakan ku didepan wajahku apakah kau pikir aku tidak bisa mendengarnya" ucao Roju yang kesal karena Suti terlihat tidak percaya dengan keadaannya saat ini.
"apa yang kau dengar memang dari ucapan Zuna?" tanya Suti dengan penasaran.
"apakah kau pikir aku tuli? Aku mendengar bahwa penatua Zuna menjelaskan bahwa tadi aku merasakan aura anda yang sedang membokongku sepertinya tadi anda berencana menangkap saya jika saya kabur. Namun anda menyangkalnya karena jarak anda cukup jauh dari pertempuran saya dan penatua Lizi. Anda membokong saya dijarak 500 meter bukan?" jelas Roju dengan agak jengkel.
"Sepertinya memang benar apa yang dikatakan Zuna namun selain Insting sepertinya pendengaranmu juga menjadi lebih kuat" ucap Suti.
"Apakah master sekte tau penyebab aku menjadi seperti ini?" tanya Roju dengan penasaran.
"Tentu saja . (jeda 5 detik) Tidak bahkan aku tidak pernah mengalami perubahan setelah menerobos selain meningkatmya kualitas dan kuantitas energi batin.) ucap Suti dengan ekspresi tidak peduli.
"Hmmm jika master sekte saja tidak tau maka aku harus bertanya pada siapa?" gerutu Roju namun cukup keras.
"Sudah - sudah kita pikirkan nanti keanehan yang terjadi pada dirimu. Sekarang kita urus dulu kekacauan dan kerusakan serta murid murid yang menjadi korban kekoyolan kalian." ucap Suti.
"Hah sudahalah apa yang harus penatua Lizi terima untuk semua kekacauan yang dia perbuat aku tidak ada urusannya dengan itu." ucap Roju.
Penatua Lizi yang mendengarnya menjadi kesal.
"Hei bocah kecil jika kau tidak memprovokasiku maka kekacauan tidak akan terjadi." ucap Lizi.
"Apakah aku sudah salah dengar dan buta, seharusnya seorang penatua tidak bersikap bar - bar seperti anak kecil, jelas - jelas banyak saksi dan korban jika yang merusak dan melukai murid - murid itu energi batin penatua Lizi yang buyar setelah aku menangkisnya." ucap Roju memansakan situasi.
"Kau berani kau bersikap tidak sopan pada seorang penatua?" ucap Lizi dengan kesal.
__ADS_1
"Sudah - sudah berhenti bertengkar, kalian berdua harus mengganti kerugian. Untuk total semua kerugian yang kalian berdua buat senilai 400 ribu koin emas maka secara adil masing - masing dari kalian harus memberikan 200 ribu koin emas sebagai denda." ucap Zuna