Sang Serigala Malam

Sang Serigala Malam
BAB 20. KHASIAT SERIGALA BERGARIS PERAK.


__ADS_3

Setelah berjalan cukup lama mereka bertiga sampai di sebuah rumah kecil yang seperti gubuk hampir roboh.


"Ayah Ibu kami pulang membawa banyak kue" ucap Eka.


"Uhuk uhuk kalian kemana saja bukannya ayah sudah bilang jangan keluar rumah jika tidak penting" ucap ayah Eka menasihati Eka.


Eka dan adik adiknya lalu masuk kerumah.


"Maaf paman apakah saya boleh masuk" ucap Roju.


"Siapa kamu anak muda? Apa maumu?" tanya ayah Eka dengan waspada dari dalam rumah.


"Saya hanyalah orang lewat melihat kondisi Eka dan adik adiknya saya merasa ingin membantu mereka bertiga dan keluarganya semampu saya.


"Huk Uhuk. Dari auramu kamu seorang praktisi beladiri dan ranahmu itu buka seorang murid biasa dari mana kau berasal" tanya ayah Eka.


"Paman saya berasal dari sekte rendah Sekte Daun Emas apakah paman pernah mendengar nama sekte yang muda ini?" balas Roju.


"Yayayaya aku tau dan aku pernah mendengar rumor sekte itu memiliki jenius yang suka membuat kekacauan namun tidak kunjung di keluarkan karena itu menyebabkan penurunan nilai sekte itu di kekaisaran. Uhuk uhuk" ucap ayah Eka sambil terbatuk batuk.


Roju terkejut karena dia sungguh populer namun dia merasa bahwa pria paruh baya itu bukanlah orang sembarangan.


"lantas apakah yang muda ini boleh masuk paman?" tanya Roju.


"Baiklah aku ijinkan kamu masuk kebetual aku kenal dengan master sektemu" ucap ayah Eka.


"Terimakasih paman" selesai berbicara Roju masuk kedalam.


Setelah Masuk Roju menemukan ayah Eka sedang terbaring di sebuah ranjang yang terbuat dari kayu. Lantas Roju duduk disamping pria paruh baya itu.


"Paman bolehkah aku tau apa yang menyebabkan paman menjadi seperti ini." tanya Roju.


"bisakah kau menebaknya?" ucap ayah Eka.

__ADS_1


Melihat kondiri pria paruh baya yang kulit kedua tangan dan satu kakiknya menghijau Roju akhirnya menyimpulkan.


"Paman terkena Racun bukan, namun Racun itu aku tidak tau dari jenis apa" ucap Roju.


"Kamu benar anak muda, Racun ini merupakan Racun Binatang Siluman Ular tingkat 2." ucap ayah Eka.


"Apakah paman tau penawarnya?" tanya Roju.


"Hah penawarnya cukup langka dan cukup mahal aku terlalu khawatir pada masa depan anak anakku jadi aku lebih memilih untuk menyimpan uang itu untuk masa depan mereka." ucap ayah Eka.


"Apakah itu paman siapa tau aku bisa membantu tenang saja aku tidak ingin melihat 3 anak kembar itu bersedih dan mengemis di jalan." ucap Roju mendesak pria paruh baya itu.


"Huk uhuk uhuk. Kau sungguh ingin membantuku anak muda?" ucap ayah Eka.


"Tentu saja paman" balas Roju dengan Serius.


"Baiklah sebenarnya dengan satu tangkai bunga kumis kucing saja tanpa di buat pil itu sudah cukup untuk menetralisir racun ini. Atau darah dari best serigala hitam bergaris putih yang merupakan binatang siluman tingkat 2." ucap ayah Eka.


"berapa banyak darah serigala hitam yang paman butuhkan ?" tanya Roju.


"tidak paman, paman tenang saja, paman ini ada sekitar sepuluh tetes tapi bukan esensi darah dari serigala hitam bergaris perak." ucap Roju lalu memberikan sebuah botol kendi kecil pada ayah Eka.


"Darimana kamu mendapatkan itu?" tanya ayah Eka.


"Jika dia membalinya aku tidak akan menerimanya." batin ayah Eka.


"Waktu aku sedang berada di hutan berkabut aku membunuhnya namun tidak mudah, untung saja serigala itu baru saja menembus tingkat 3 sehingga aku bisa membunuhnya." jawab Roju dengan bergelora ketika mengingat pertarungan hidup dan matinya saat itu.


"Bagaimana aku harus membayar kebaikanmu aku rasa kamu memdapatkannya melalui pertarungan hidup dan mati bukan?" ucap ayah Eka.


"Paman tidak perlu membayarnya bagiku ini tidak seberapa karena itu juga memberikan pengalaman yang bermanfaat padaku." ucap Roju.


"Tunggi dulu apakah kamu si pembuat kekacauan dari sekte Daun Emas?" tanya ayah Eka.

__ADS_1


"Yah paman jangan memanggilku seperti itu tapi entah kenapa aku menyukai julukan itu hehehehehe" jawab Roju sambil menggesek gesek hidungnya dengan jari telunjuknya.


"Ternyata rumor itu tidak sepenuhnya benar aku kira dimana kau berada selalu mengacau tapi ternyata tidak." ucap ayah Eka menghela nafas.


"Yah sebenarnya waktu aku bertarung dengan Serigala Bergaris Perak aku sebelumnya sudah membantai beberapa binatang siluman lainnga hehehehe karena jengkel dengan master sekte hehehehehe" ucap Roju.


Ayah Eka tercengang mendengar kelakuan bodoh Roju.


"baiklah aku terima darah serigala ini, jika suatu saat kau membutuhkan sesuatu dan aku bisa membantumu carilah aku, namaku Kandi ingat itu." ucap Kandi pada Roju.


"tidak perlu dipikirkan paman Kandi aku tulus membantu kalian" ucap Roju.


"Baiklah paman ini ada 3000 koin emas aku harap paman tidak tersinggung karena aku memberikan Eka dan adiknya uang jajan, aku ijin pamit dulu paman aku masih ada urusan di luar. Paman gunakan lah darah itu untuk menyembuhkan racun itu." ucap Roju sambil meletakan sebuah kantong kain berisi koin emas lalu berjalan keluar dari rumah Kandi.


"Sejujurnya aku masih mampu untuk menghidupi ketiga anak dan satu istriku namun terimakasih kau terlihat peduli pada keluarga kecilku." ucap Kandi.


"Hahahha paman Kandi kan teman si master sekte brengsek itu jadi anggap saja aku teman Paman juga hahahahha jangab sungkan" lalu Roju melanjutkan langkahnya keluar dari pintu rumah Kandi.


"yah Hati - hati dijalan jika kamu lewat sekitar sini mampirlah dulu sebentar aku tidak akan keberatan hahahhaha, uhuk uhuk" ucap Kandi senang sambil terbatuk batuk.


"Ya paman Kandi aku akan memapir jika lewat sekitar sini hehehehe" lalu Roju menghilang menggunakan teknik beladiri meringankan tubuhnya.


Waktu berlalu dan kini Roju berada di Kamarnya di penginapan waktu masih pagi namun cukup siang atau sekitar jam 9an.


Roju sedang menikmati kopi bersama kue surabi sambil mengudud dan membaca buku seni beladiri pedang bayangan. Roju tampak mengerutkan kening.


"Hei kenapa teknik ini cukup sulit selain harus memiliki energi batin yang banyak kekuatan fisik dan kecepatan juga harus seimbang. Jika tidak akan menyebabkan cidera serius hmmmm" batin Roju menganalisa buku teknik seni beladiri.


Ketika Roju sedang terhanyut tefokus dalam pikirannya. Tangan Roju mencari kue surabi di meja namun setelah Roju melihat kearah daun pisang pembungkus surabi ternyata surabi itu sudah habis. Tiba - tiba pintu kamar Roju diketuk.


(tok tok tok) "Permisi tuan saya mengantarkan pesanan tuan"


"Yaaa sebentar" balas Roju. Lalu keluar menemui pelayan tadi dan memberikan 1 koin emas sebagai tip.

__ADS_1


Roju kembali keposisi semula duduk sambil menikmati kopi dan menganalisa buku seni beladiri tingkat buminya itu.


__ADS_2