
Setelah menyelesaikan putaran ketiga Roju sudah tidak mampu lagi berlari kini Roju berjalan namun masih lebih cepat dari jalan biasa. Hingga jam makan siang menjelang roju baru hanya bisa mendapatkan 5 putaran penuh.
"tidak baik. Sebagai hukuman cepat siapkan makan siang. Jika besok kamu tidak melebihi 5 putaran maka kamu tidak mendapat makan siang." ucap Suti dengan santai bahkan tanpa melepaskan pandangan dari bukunya.
Roju menganggukan kepalanya lalu pergi. Bahkan untuk berbicara sekalipun Roju sudah tidak sanggup karena nafasnya yang masih memburu.
Sambil berjalan Roju berusaha mencari apa yang bisa dijadikan makan siang. Ketika menundukan kepalanya Roju melihat jejak kaki Babi hutan yang masih baru dan cukup besar. Roju menjadi bersemangat mengikuti kemana arah dari jejak kaki calon makanannya.
Namun setelah dalam perjanan jejak babi hutan menjadi banyak.
"Sepeetinya makan siang kali ini aku belum bisa makan daging bai hutan. Kalau begitu biar aku pasang jerat saja disini." batin Roju. Lalu membuat jerat dari pohon rotan dan memasangnya.
(kryukk kruyuk) "Aduh perutku sudah berbunyi." ucap Roju lirih.
Roju melanjutkan perjalanannya. Dalam perjalanannya Roju melihat pohon besar yang banyak dirambati oleh tanaman merambat. Roju begegas menuju pohon besar itu.
"Hahahaha akhirnya aku menemukanmu makan siangku." ucap Roju sambil tertawa.
Ternyata pohon merambat yang Roju lihat tadi adalah pohon dari ubi ungu. Roju mengeluarkan pedangnya dan menggunakan pedangnya untuk menggali tanah.
Ubi ungu memang kadang terlihat di permukaan namun jika ukurannya cukup besar maka umbinya akan semakin masuk kedalam tanah. Berhubung usia ubi yang Roju gali cukup tua ukuran ubinya pun cukup besar.
"entahlah aku harus bersyukur atau mengeluh. Aku mendapatkan ubi besar untuk makan siangku tapi sulits untuk diambil. Jika di kupotong separuh aku takut belum kenyang." batin Roju dengan sedih, senang, dan bingung.
Setelah setengah jam menggali barulah ujung dari umbi itu terihat lantas Roju mencongkel ubi ungu dengan sebuah kayu hingga akarnya mulai terputus dari tanah.
Lalu Roju mengangkat ubi ungu yang cukup besar dan berat, berat ubi ungu yang Roju panggul sekitar 10 kg dan ukurannya sebasar 1 kali 0,75 meter.
Sebelum pergi Roju memotong sebagian kecil ubi yang dia panggul dan melemparkan kedalam lubang tempat tadi dia menggali ubi yang sekarang dia panggul.
Taklupa juga Roju kembali ketempat dimana dia memasang jerat dan memotong beberapa ubi untuk digunakan sebagai umpan.
__ADS_1
Dalam perjalanan kembali Roju mulai kelelahan karena dari pagi belum sarapan dan sudah berlatih dengan keras. Sekitar 50 meter dari tempat Suti berada Roju jatuh pingsan.
Suti yang melihat anak didiknya pingsan menutup buku haremnya dan berjalan menuju tempat Roju pingsan.
Suti mengekuarkan kendil dari cincin dimensinya dan meminum air dari dalam guci yang dia bawa.
"Ahhhhh segar" ucap Suti lalu mengambil ubi yang Roju bawa.
Suti memasak ubi itu dengan merebusnya kedalam sebuah panci tanah liat.
Bau harum ubi rebus membuat Roju tersadar dari pingsannya. Buru - buru Roju mencari sumber bau karena takut ubi yang dia bawa akan dihabiskan oleh Suti.
"Maaf master sekte aku tadi pingsan sebelum memasak ubi yang aku bawa." ucap Roju memelas pada Suti agar diberikan bagian.
"ini ambilah. Setelah selesai makan lalu lanjutkan latihanmu mengangkat batu yang kemarin kau jatuhkan." ucap Suti sambil memberikan potongan kecil ubi (ukurannya hanya sebesar dua kepalan tangan orang dewasa).
"iya terimakasih master sekte" ucap Roju dengan lirih.
Setelah ubi habis Roju merasa kenyang padahal dia yakin jika ubi sebesar yang tadi dia makan itu tidak akan cukup. Roju merasa heran, namun ketika hendak bertanya pada master sektenya Roju mengurungkan niatnya. "Hah biar besok saja kalau aku sudah menyelesaikan latihanku saja aku bertanya.
Satu tahun berlalu.....
Kini Roju sudah menyelesaikan latihan pertamanya. Roju memiliki ekspresi yang puas setelah menjalani latihannya. Namun belum sempat Roju merayakanya sebuah suara membuat Roju merengut kembali.
"Sekarang gunakan Logam ini untuk berlatih." ucap suti mengeluarkan 3 buah logam dengan bentuk yang berbeda.
Logam pertama berbentuk bulat dan terlihat licin.
Logam kedua berbentuk drum minyak 100 literan.
Logam ketiga benbentuk tongkat namun salah satu ujungnya lebih besar dengan panjang 1,2 meter.
__ADS_1
Roju kembali memulai rutinitas beratnya lagi sebelum sempat merayakan hasil latihannya selama setahun.
Logam berbentuk bulat itu Roju angkat namun selain beratnya yang mencapai 3 kali lipat dari batu yang dulu pernah Roju angkat. Bentuk dari logam yang bulan dan permukaan yang licin menambah kesulitan untuk mempertahankan posisi dari logam bulat agar tidak jatuh. Alhasil baru 30 menit Roju menjatuhkan logam bulat itu.
"Cepat angkat lagi sampai aku menyuruhmu meletakannya. Karena kamu sudah menjatuhkannya hukuman tetap berlaku." ucap Suti tersenyum dengan ekspresi kemenangan.
"Iya siap master sekte" ucap Roju lalu melakukan rangkaian rutinitas seperti hari - hari sebelumnya.
Pagi harinya Roju berlari mengelilingi danau sambil mengangkat logam drum yang diisi air.
Malam harinya samapai pingsan Roju memukul- mukul batu menggunakan logam yang berbentuk tongkat.
Hingga ketika Roju sedang mengelilingi danau dan dalam kondisi yang kelelahan bertemu dengan seekor binatang siluman babi bertanduk. Babi bertanduk yang merasa terancam langsung menyerang Roju.
Roju yang sedang kelelahan langsung mengunuskan pedannya. Namun harapan Roju mengakhiri pertempuran dengan cepat sirna ketika pedang yang Roju gunakan berbenturan dengan tanduk si babi.
(Clang) suara pedang beradu. "Sial tanganku mati rasa padahal hanya binatang siluman tingkat dua kenapa kekuatannya dapat menbuat tanganku mati rasa." batin Roju.
(nguk nggrok ngrok) suara babi itu merasakan kepalanya pusing namun tetap waspada terhadap lawannya.
"Dasar babi jelek awas saja kau akan aku sate dan ku makan daging mu yang berminyak." ucao Roju kembali menyerang si babi.
Dengan kecepatan dan kelincahannya serta ayunan pedang yang halus dengan mudah Roju memenggal kepala babi bertanduk dengan sekali tebas.
Faktor kenapa babi bertanduk tidak mengindari serangan Roju yang menyerangnya dari samping dikarenakan babi bertanduk menyerang dengan menyeruduk kedepan, dan apabila diserang dari samping itu merupakan kelemahan alami dari babi hutan bertanduk.
Setelah mengalahkan babi hutan bertanduk Roju tidak langsung melanjutkan latihannya. Roju membersihkan perut babi dan memotong - motong daging dan jeroan babi untuk dimasukan kedalam cincin dimensinya.
Setelah beres dengan urusannya Roju melannjutkan latihannya namun kini dia harus 3 kali lebih cepat agar melampaui rekornya kemarin. Karena jika tidak maka dia tidak akan mendapatkan makan siang.
BERSAMBUNG....
__ADS_1