
Pada tengah malam yang gelap sesosok bayangan hitam melesat melompat dari pohon ke pohon. Bayangan hitam itu berhenti tepat di sebuah pohon yang tepat berada di depan sebuah pintu kamar.
Tak lama setelah bayangan hitam itu berhenti tiba-tiba dari jalan ada dua orang sedang mabuk berjalan beriringan masuk ke dalam kamar.
Bayangan hitam yang melihat targetnya sudah memasuki kamar seketika menghilang dan muncul di atas atap kamar itu.
"Hei Apakah menurutmu si baj1ngan Roju itu sudah mati dibunuh pembunuh bayaran yang aku sewa?" ucap seorang pemuda yang tak lain adalah Danar.
"Apakah kamu sudah mendapat laporan dari Gedung Bulan Neraka?" tanya pemuda yang bersama Danar pemuda itu tak lain dan tak bukan adalah orang suruhan dari Roju yang bernama Dibu.
"Apa maksudmu?" ucap Danar dengan ekspresi memeriksa.
"Seharusnya jika misi telah selesai, orang yang melakukan misi akan melaporkan misi pada orang yang memesan misi. Itu adalah aturan dari Gedung Bulan Neraka." ucap Dibu.
"kenapa kamu tidak bilang dari awal padaku padahal kamu yang merekomendasikan gedung itu untuk membalaskan dendamku pada mahuk menjijikan itu." ucap Danar dengan ekspresi cemas karena sudah 3 hari dia tidak mendapat kabar dari Gedung Bulan Neraka tentang pembunuhan pesanannya itu.
"tenang saja tuan muda misi yang anda pesan di Gedung Neraka Bulan pasti di lakukan oleh para pembunuh ahli dan pasti yang mengambil misi berada di atas ranah kuning bintang 1. Selain itu apabila mereka tertangkap mereka tidak akan memberi tahu siapa yang memesan mereka." ucap Dibu sambil menenangkan Danar.
"Lalu bagaimana jika mereka memberitahu Roju?" ucap Danar yang masih belum tenang.
"Dalam setiap misi mereka akan membawa pil yang mengandung racun di bawah lidah mereka dan apa bila mereka tertangkap mereka akan segera memakan pil itu untuk bunuh diri. Kalaupun mereka tertangkap dan gagal bunuh diri mereka akan lebih memilih mati daripada harus menjadi buronan dari Gedung Neraka Bulan." jelas Dibu untuk menenangkan tuan mudanya.
Bayangan hitam yang mendengar itu tiba-tiba masuk melalui jendela kamar itu lalu menginjak kepala Dibu.
"Tak kusangka orang suruhanku yang sudah ku bayar berani menghianatiku." selesai berbicara bayangan hitam menginjak kepala Dibu hingga hancur.
Danar yang terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba itu hendak melarikan diri namun sebelum dia sempat melarikan diri dengan cepat sebuah totokan menghentikan pergerakan tubuhnya.
"Ohh jadi kamu yang ingin membunuhku dengan menyewa para pembunuh bayaran dari Gedung Bulan Neraka." ucap bayangan hitam itu sambil membuka topeng serigala yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
Bayangan hitam itu tidak lain dan tidak bukan adalah Roju.
(Buk gedebug) Roju memukul ulu hati Danar hingga pingsan. Roju mengangkat Danar yang sedang pingsan lalu memegan kerah baju Dabar dan mengangkatnya pergi menuju hutan kabut.
Di kedalaman hutan kabut ada dua orang pemuda, seorang pemuda berpakaian hitam sedang berdiri dan satunya lagi sedang tak sadarkan diri mengenakan seragam Sekte Daun Emas.
Pemuda berpakaian hitam itu membawa pemuda yang pingsan melompati pohon demi pohon hingga berhenti di sebuah pohon yang terdapat seekor binatang siluman tingkat raja yang sedang tertidur. Binatang siluman itu berwujud seperti harimau namun memiliki kepala singa jantan dan memiliki badan sebesar Gajah. Binatang siluman itu bernama Harimau Petir.
Pemuda yang pingsan itu mulai sadar dan pemuda berpakaian hitam lantas melemparkan pemuda yang baru sadar itu ke arah Harimau Petir yang sedang tertidur.
Harimau Petir yang sedang tertidur instingnya mengatakan bahwa ada sebuah ancaman yang datang segera melompat menghindar.
Harimau Petir itu meraung setelah menghindar "Grrrrrrrr Grourrrr Grrrrrr" Lalu menyerang pemuda yang masih linglung tadi. Pemuda yang baru saja sadar bahwa dia sedang berhadapan dengan Harimau Petir berusaha menahan Cakaran Harimau Petir dengan menyilangkan kedua tangannnya.
Namun Cakaran Harimau Petir itu tak mampu dia tahan malahan tangannya sobek dan terlihat tulangnya yang putih. Pemuda itu terlempar 30 meter menabrak 5 buah pohon dan membuat pepohonan tumbang.
Roju cukup puas dengan pertunjukan itu namun dia tidak terburu-buru meninggalkan Danar untuk memastikan bahwa Danar mati dimakan Harimau Petir itu.
Setelah Danar bangun dari tanah dia melihat Harimau Petir itu mendekat ke arahnya dengan pelan. Harimau itu tampak merasa menang dan ingin mempermainkan mangsanya sebelum memakannya.
Danar yang menyadari Harimau Petir ini mempermainkannya iya berpura-pura pingsan karena dia tau bahwa Harimau Petir terkenal karena kecepatannya. Namun keputusan Danar ternyata adalah keputusan yang salah, Harimau Petir yang dibangunkan dari tidurnya ternyata sedang kelaparan jadi harimau petir itu segera mencabik-cabik tubuh Danar.
Roju yang melihat bahwa Harimau Petir sedang memakan Danar segera dia pergi menghilang kembali ke kamarnya.
Dalam perjalanan kembali ke sekte Roju melompati pohon demi pohon dengan kecepatan yang sangat cepat jika menggunakan speedo meter mungkin sekitar 160 KMPJ lebih cepat dari motor R15.
Roju sengaja bergerak sangat cepat agar keberadaannya tidak di ketahui oleh Harimau Petir dan Hewan siluman tingkat raja lainnya.
Setelah keluar dari hutan berkabut Roju berlari di atas tanah dengan kecepatan mencapai 200 KMPJ hampir seperti kecepatan Moto 3.
__ADS_1
Roju tidak langsung menuju ke Sekte namun dia terlebih dahulu mampir ke Restoran Daun Jati untuk sarapan.
Setelah selesai sarapan Roju berjalan dengan santai menuju Gedung Persatuan Alkemis.
Ditengah perjalanan Roju bertemu dengan Master Sektenya yang sedang dalam perjalanan kembali dari arah gedung persatuan Alkemis.
"Hei Roju dasar murid tidak punya sopan santun bukannya menyapa aku yang merupakan master sektemu malah mengupil dan berpura-pura tidak melihatku." ucap Suti dengan kesal melihat tingkah Roju.
Sebelum Roju sempat membalas ucapan Master Sektenya tiba-tiba sebuah jitakan mengenai kepala Roju. ( PLETAK...)
"Hei Pak tua yang gila hormat kenapa kamu menjitaku?" tanya Roju kesal sambil mengelus-elus kepalanya yang benjol akibat jitakan master sektenya itu.
"Dasar anak tidak tau diri bukannya minta maaf malah mengataiku gila hormat, apakah jitakanku masih kurang untuk menyadarkanmu?" ucap Suti yang kesal dan hendak menjitak kepala Roju lagi.
Namun Roju yang Sudah menyadari sebuah ancama segera dia menghilang dan muncul di atas pohon.
Suti yang memiliki kecepatan tidak kalah cepat menyusul Roju dan memukul *4**4* Roju 5 kali. ( PLAK... PLAKKK. PLAK. PLAKK .... PLAKK. )
"Ampun master sekte yang terhormat tolong lepaskan aku" Teriak Roju.
"Sungguh memalukan pantatku dipukuli oleh orang tua ini, awas saja jika ada orang yang melihat kejadian ini akan aku buat orang tua ini malu seumur hidupnya." Batin Roju dengan kesal.
"Apakah kamu sudah sadar sekarang baj1n9an kecil?" tanya Suti.
"Iya iya aku minta maaf master sekte yang terhormat" ucap Roju meminta maaf.
"Bagus Bagus setelah berada diranah tingkat hijau tahap 2 sepertinya kamu tidak mengecewakan ku hahahahahahaha. Terlebih lagi kamu masih hidup. Kupikir kamu mati setelah diserang dua orang pembunuh bayaran itu. Hahahahahaha" ucap Suti sambil Tertawa terbahak bahak karena senang melihat Roju mengakui kekalahannya.
"Kau pikir aku akan mati oleh 2 ekor tikus, apakah kamu meremehkanku Master sekte yang terhormat." jawab Roju dengab ekspresi tidak senang mendengar ucapan Suti.
__ADS_1