Sang Tetuka Adiwira

Sang Tetuka Adiwira
Hikayat Negarakrtgama Ihwal Sepuluh


__ADS_3

Sesi wawancara tersebut masih berlangsung. Aku harus menjelaskan dengan sebaik-baiknya agar masyarakat mendapatkan maksud dari pernyataan-pernyataanku.


“Saya tekankan bahwa pernyataan saya ini bukan pernyataan yang melecehkan agama apapun. Saya tidak berpikiran bahwa ia adalah dewa. Ia juga bukan seorang nabi, bukan pula malaikat. Sama seperti legenda-legenda kepahlawan bangsa ini yang telah tercatat. Sebut saja Mahapatih Gajahmada dengan kesaktiannya berhasil menyatukan nusantara. Paling tidak itulah konsep kesatuan pertama yang kita kenal. Para pahlawan baik dengan kekuatan ataupun strateginya menghalau para penjajah. Dari zaman penjajahan Belanda maupun Jepang, para pahlawan bangsa dengan beragam kesaktian dan kekuatannya terus menggempur musuh, walau banyak yang gugur di perjalanan, namun keberadaan mereka menjadi penyeimbang dan perlawanan terhadap kegelapan. Zaman kemerdekaan, Soekarno dengan kesaktiannya dalam ide dan pemerintahan untuk membangun negara ini, meski tidak sedikit yang beranggapan bahwa Soekarno sendiri memiliki kesaktian yang membuatnya kerap lolos dari ancaman pembunuhan. Kesaktian ini pula yang dianggap membuatnya mampu menyatukan bangsa yang sang sangat luas dan berbeda-beda pola pikir dan budaya. Begitu juga Soeharto, presiden kedua bangsa ini yang selain berhasil memberikan sumbangsih pembangunan negara walau melalui beragam kontroversi, juga dianggap memiliki kesaktian tertentu sehingga ia dapat bertahan memerintah tanpa tumbang selama 32 tahun.


“Semua tokoh itu hadir di setiap lembaran zaman bangsa ini. Saat ini, ketika korupsi merajalela, kejahatan membabi-buta, moral bangsa jatuh terjerembab, uang menjadi Tuhan dan kesewenang-wenangan berkuasa, bukan tidak mungkin seorang pahlawan muncul, tidak dengan ide dan strategi, namun kembali dengan kekuatan fisik yang luar biasa. Kesaktian yang mumpuni seperti pada masa lalu, dimana mulut, ide dan negosiasi tidak lagi berjalan. Dimana kepal menjadi senjata yang mampu menundukkan kejahatan.”


Penjabaranku yang panjang tanpa kusadar ternyata berapi-api dan menggebu-gebu. Semua mata di studio bersinar karena ikut bersemangat, atau ragu, atau kecewa, atau penasaran. Semuanya menjadi satu.

__ADS_1


Tak lama, wawancara dihabiskan dengan penggambaran kejadian serta ciri-ciri fisik sang superhero. Seorang pemuda berusia duapuluh tahunan, dengan badan yang tidak terlalu besar, sedikit ramping namun terlihat berisi dan kokoh. Rambut hitam dengan panjang tanggung keluar acak-acakan dari hoodie-nya. Kulitnya coklat yang tidak terlalu gelap khas orang Indonesia. Entah mungkin ia dari suku Jawa, Sunda atau Melayu. Praktisnya semua ciri-ciri fisik nya yang dapat kurekam merujuk kepada seorang pemuda biasa. Ia tidak mengenakan topeng atau sejenisnya untuk menutupi identitasnya, mungkin hanya hoodie yang ia kenakan (walau aku berpikir jauh. Aku berpikir hoodie-nya ia kenakan untuk menahan terpaan angin ketika ia sedang melompat atau terbang).


Bila ia ada diantara masyarakat, orang mungkin hanya mengenalinya sebagai mahasiswa atau musisi karena rambut panjang tanggungnya yang sedikit acak-acakan dan gaya berpakaiannya yang kekinian.


Aku menjelaskan dengan sedetil mngkin semua kejadian dan ciri-ciri fisik atau remah-remah informasi apapun yang terekam di kepalaku. Tentu saja, 80% penjelasanku mirip dengan gambaran para jurnalis. Para skeptis sudah barang tentu berpikir aku hanya sekedar menyontek dan menghapal semua informasi yang telah aku dapatkan dari media tiga hari sebelumnya hanya untuk membuatnya terdengar mirip dan nyata adanya.


Akupun sebenarnya tidak berharap besar semua orang mempercayaiku, perlu perjuangan dan pernyataan resmi dariku dan semua orang yang mendukung fakta ini untuk memberikan informasi yang nyata kepada masyarakat. Jurnalis pun perlu makin berburu dan peka terhadap berita mengenai sang superhero agar tak melewatkannya lagi.

__ADS_1


Namun masih ada pertanyaan-pertanyaan Erika yang menyisakan jawaban. Meski ini juga telah menjadi bagian dari skenario kami, tak pelak ketika Erika menanyakannya kembali kalimatnya seperti mengambang di angkasa, “Tapi bagaimana Anda yakin bahwa tokoh misterius ini adalah seorang pahlawan, seorang superhero, gelar yang telah lama kita sematkan padanya? Bagaimana bila ia adalah karakter jahat, seorang villain, lawan dari para superhero yang tujuannya malah adalah untuk mengacaukan keamanan dan menciptakan chaos? Atau bagaimana bila hanya seseorang dengan kekuatan yang luar biasa namun tidak memiliki tujuan khusus? Terlepas dari catatan kasus yang diduga memang ia lakukan terhadap para pelaku kriminal, bukankah keraguan masih tersisa para perilaku semena-mena dan main hakim sendiri pada para tokoh yang masih belum nyata tindakan kriminalnya? Sebut saja politisi yang kita ketahui bersama kasus hebohnya ketika ia ‘diculik’ oleh sang superhero dan dipaksa mengakui semua kejahatannya. Kasus ini pun masih menjadi misteri. Apakah memang beliau adalah sang pelaku korupsi dan semua ceritanya adalah benar adanya, atau hanya karena paksaan dan ancaman luar biasa dari sang superhero? Bagaimana juga dengan kasus penculikan jendral polisi ini? Satu hal lagi Pak Negara, bukankah Kepolisian sendiri masih menyangkal keberadaan sosok ini sampai sekarang?”


“Mbak Erika, jujur saya tidak pernah bisa menjawab semua pertanyaan Anda dengan tepat dan yakin. Tapi satu hal, dan ini belum pernah saya lakukan apalagi sebagai seorang ilmuwan dan peneliti, yaitu bahwasanya saya hanya percaya bahwa ia hadir sebagai jawaban atas kekacauan dan ketidakpercayaan masyarakat dengan kehidupan serta pemimpin-pemimpin mereka.”


Saatnya untuk kembali menunggu aksi sang superhero beserta sang jendral yang telah ia culik. Keputusanku bukan tanpa resiko. Kepolisian akan melihat ini sebagai sebuah tindakan penghasutan atau meresahkan masyarakat. Aku bisa dijerat dengan beragam tuduhan dan bisa saja aku ditahan. Para politisi akan mencibir dan geram dengan perilakuku yang seakan berbalik menyerang mereka. Mungkin lebih jauh, para agamawan akan melihat pendapatku ini sebagai sesuatu yang memiliki potensi untuk menyesatkan umat. Pernyataanku terdengar seperti mendewakan seorang sosok yang bisa saja adalah iblis atau jin dengan fisik menyerupai manusia. Ada pula kemungkinan para ilmuwan, praktisi hukum dan sosial beranggapan bahwa tindakanku sudah diluar nalar dan tanpa mengindahkan pola analitis yang scientific.


Praktis hidupku akan tidak aman setelah wawancara ini.

__ADS_1


Kecuali sang superhero segera muncul untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang pahlawan seperti yang aku harapkan dan aku percaya sehingga memberikan jawaban yang sesuai dengan setiap pernyataanku.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak membutuhkan waktu lama bagi negeri ini mendapatkan apa yang mereka sudah tungguh-tunggu. Sosok sang superhero akhirnya menunjukkan keberadaannya.


__ADS_2