
Media-media memberitakan sang superhero yang dianggap menganiaya seorang tokoh politik. Sosok politisi ini sebelumnya memang sudah sering terdengar di beragam media dimana beredar kabar miring mengenai keterlibatannya dalam beberapa tindak pidana korupsi tingkat kakap.
Semua orang tahu betapa kuatnya posisi si politisi. Hukum hampir pasti tak mungkin dapat menyentuhnya. Perlu bukti yang kuat dan bukan sekadar desas-desus, begitu ujar beliau suatu saat di depan media. Posisi tawar yang kuat karena ia dibekingi induk partai politik yang juga merupakan salah satu dari partai penguasa, tentu membuatnya nyaris tak tergapai.
Publik mengingatnya dengan rasa benci. Namun, toh masyarakat juga pelan-pelan sadar bahwa tak ada satu hal pun yang bisa mereka lakukan untuk membuat si politisi kena getahnya serta mendapatkan hukuman yang setimpal.
Sampai suatu saat ia mendadak mengakui semua dosa-dosanya.
Cara sang politisi mengakui semuanya saja tidak dengan cara yang biasa. Ia menghadirkan drama secara histeris. Dan walau histeris penceritaan dan penjelasan yang keluar dari mulutnya masuk akal dan tertata rapih
Di depan awak media, ia membeberkan tentang apa saja yang ia lakukan dalam kasus korupsi besar ini dan siapa saja yang terlibat di dalamnya.
Para rekan sejawatnya tentu menolak. Petugas hukum sudah barang tentu menahannya karena dianggap membuat onar, menyebarkan hoaks, memfitnah tanpa adanya bukti, dan tentunya pencemaran nama baik.
Bagai orang gila, sosok politisi tersebut mengatakan bahwa ia sama sekali tak gentar dengan penjara. Ia lebih takut dengan sosok yang datang dari langit itu, katanya. Mungkin orang yang disebut superhero tersebut adalah sosok malaikat yang datang ke bumi untuk memberikannya hukuman langsung dan harus dibayar tunai.
Itu semua meluncur dari mulutnya sendiri.
Aku mengangkat satu alis ketika menonton ini di televisi.
__ADS_1
Aku melihat si politisi adalah seorang oportunis. Dia mungkin sudah terlibat terlalu dalam di bidang politik. Isu mengenai kemunculan sosok superhero itu mungkin sekali digunakan sang politisi untuk mendongkrak namanya sendiri. Publik mungkin akan mendukungnya. Dengan begini, namanya malah akan muncul menjadi sosok penting sampai ke calon kepala negara mungkin.
Aku mengurut keningku.
Apa iya, ia nekad melakukan tindakan sebesar dan beresiko itu?
Telah sekitar tiga bulan sejak wawancara pertamaku oleh Erika dan stasiun televisinya dengan tema superhero, si orang misterius, media secara umum seakan sepakat mengakui keberadaan sosok ini.
Bahkan media lebih jauh sudah mencoba menggambarkan sosok superhero tersebut sebagai seorang laki-laki muda yang ditaksir berumur duapuluhan tahun. Ya, hanya seorang!
Bukuku sudah dicetak ulang, tapi akupun mendadak memikirkan hal lain. Teori dan pendapat baru aku ajukan untuk penyusunan buku berikutnya dengan tema, ‘masyarakat Indonesia yang sedang memerlukan seorang pahlawan’ sebagai lanjutan buku sebelumnya yang lebih mefokuskan pada pemujaan kekerasan pada bangsa ini.
Ada yang cenderung masa bodoh dengan isu superhero, tetapi percaya bahwa ara politisi itu sedang berbohong, ada yang percaya dengan perspektif teoriku, ada pula yang berpusat pada fenomena kemunculan sang superhero.
Sialnya, sifat para politisi ini sangat membuatku muak.
Bukannya sadar bahwa fenomena ini muncul karena ulah mereka, para politisi busuk dan pejabat-pejabat korup itu malah merasa aman dan tidak mengacuhkan isu yang seakan seperti iklan dimana sejenak menghentikan perilaku buruk mereka belaka. Padahal masyarakat sebegitu inginnya membentuk dan menciptakan sosok pahlawan, sampai-sampai mereka menciptakan tokoh fiktif.
Dengan respon para politisi itu, dibalik ketidakpercayaanku terhadap adanya sosok misterius yang telah disebut superhero oleh media ini, di dalam hati aku malah berharap ia benar-benar ada untuk menghajar dan menghukum politisi dan pejabat-pejabat angkuh dan tak acuh tersebut.
__ADS_1
Tak dinyana, harapanku yang satu itu tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Ada perubahan drastis terjadi ketika teoriku yang juga termaktub di dalam buku selanjutnya – yang tersusun hanya dalam dua bulan – serta penjelasanku di beragam interview terus diputar di setiap stasiun televisi di nusantara, membuat masyarakat terhenyak.
Entah mengapa, setelah itu untuk beberapa waktu tidak ada kejadian signifikan. Tidak ada kriminalitas besar yang terekam. Tidak ada peperangan geng dan gembong narkoba di ibu kota. Tidak ada masyarakat yang melaporkan tindakan main hakim sendiri – namun dipuja masyarakat – oleh si superhero. Tidak ada politisi lagi yang berteriak-teriak bagai orang kesetanan menjelaskan segala dosa-dosanya. Tidak ada lagi aksi brutal nan heroik. Tidak ada lagi laporan kejadian luar biasa seperti motor terpelanting jauh, orang-orang yang melambung ke angkasa dilempar dan dihajar si superhero, atau si *superhero *sendiri yang melompat-lompat dengan lihai dan lincah di udara.
Selama beberapa waktu tersebut, masyarakat seperti disadarkan betapa konyolnya berita-berita tersebut. Siapa yang tahan dengan berita fenomenal munculnya seorang *superhero *dengan kekuatan *superhuman *yang menghajar musuh dan membela kebenaran dan keadilan namun tanpa jejak bukti fisik sedikitpun selama kurang lebih tiga bulan? Siapa yang tahan terus bermimpi tanpa tahu apa yang sebenarnya mereka impikan?
Beberapa waktu terakhir ini hanya berita tentang dua orang politisi yang dijatuhi hukuman hanya dibawah lima tahun untuk korupsi bermilyar-milyar, dan seorang jendral polisi yang nyata-nyata telah melakukan banyak dosa namun tak tersentuh hukum.
Dalam beberapa waktu terakhir masyarakat seperti dihempaskan ke bumi untuk sadar bahwa sang politisi dan jendral polisi itulah yang nyata adanya, dan merekalah yang sedang berkuasa. Bukan si superhero. Masuk penjara hanya sebagai jeda dalam panggung politik mereka. Atau yang punya kuasa, tak tersentuh hukum sama sekali.
Namun tanpa tanda, tiba-tiba semuanya kembali berubah ketika kulihat dengan mata kepalaku sendiri dengan sadar dan dengan logika penuh, keadaan psikologis yang sempurna dan perut yang kenyang.
Aku melihatnya muncul entah darimana, menerobos satu regu pasukan kepolisian dengan mudahnya untuk kemudian mencengkram erat kerah dan baju sang jendral polisi di depan mataku. Setelah itu, ia kemudian melompat setinggi langit – aku masih tidak percaya apakah dia melompat atau terbang – bersama tubuh sang jendral dan menghilang diantara gedung-gedung kumuh ibukota dan pepohonan tak beraturan tepat di belakang Markas Besar Kepolisian di negara ini.
Sudah kukatakan, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Tidak hanya aku, melainkan bersama sekompi pasukan kepolisian, wartawan yang meliput dan beberapa orang masyarakat yang kebetulan lewat di depan Mabes Polri!
Namun faktanya, tak satupun jurnalis yang ada di sana yang berjumlah lebih dari dua puluh orang sempat berpikir untuk mengambil gambar atau video kemunculan si superhero yang berhasil ‘menculik’ sang jendral. Kejadiannya begitu cepat, dan kami terlalu terpana dan linglung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Tiba-tiba aku sadar dan mengerti, mengapa tak satupun foto dan bukti fisik si superhero itu ada. Mendadak aku ingin meminta maaf kepada semua saksi yang mengaku melihat si *superhero *dengan mata kepala mereka sendiri.
__ADS_1