
Walau berprofesi sebagai seorang jurnalis yang menjunjung tinggi etika jurnalisme, dimana salah satunya adalah harus bersikap netral dan tidak memihak, tak pelak perasaan terkejut dan kecewa membucah di hati Erika. Aku jelas melihatnya dongkol dan begitu kesal. Seharian ini, ketika kami bertemu, ia susah sekali diajak berbicara. Mood-nya dalam keadaan yang sangat ektrim. Padahal, bukan saja dia yang kecewa akan bebasnya Balai Sigalagala. Selain aku, Edo serta Hermansyah, entah berapa banyak lagi orang yang membenci akan berita ini.
Polisi sepertinya berani mempertaruhkan nama baik mereka di wajah rakyat. Mereka seakan tidak peduli bahwa alasan mereka membebaskan tokoh itu sudah pasti menciptakan pertentangan besar di masyarakat.
Sejak kejadian penyerangan para preman suruhan Balai, aku semakin dekat dengan Erika. Belum ada kata-kata yang meresmikan dan mendefinisikan seperti apa hubungan kami ini. Namun, yang jelas, waktu memberikan kami kesempatan besar untuk saling menimang rasa dan memahami. Aku dengan pongah merasa bahwa aku pelan-pelan tahu sifat Erika.
Ternyata, walau jujur aku suka hampir seluruh sifat dan perangai Erika, ada satu sifat yang tidak dapat dihilangkan dari kaum wanita dan menjadi ciri khas mereka. Para wanita adalah mahluk kahyangan yang luar biasa indah, akan tetapi di saat yang sama kerap sulit ditangkap dan dipahami. Edo yang telah bertahun-tahun mengenal Erika bahkan jauh sebelum gadis itu mengenalku, mengatakan bahwa Erika jarang mengalami ‘serangan’ emosi semacam ini.
Namun bila terjadi, sebaiknya jangan tanyakan atau coba perbaiki situasi ini. Ikuti saja apapun mau Erika, penuhi saja syarat-syaratnya agar keadaan tidak menjadi semakin runyam.
Mendengar hal ini, tiba-tiba aku merasa seperti Jaka Tarub yang sedang kebingungan menuruti syarat salah satu dari tujuh bidadari, yaitu Nawangwulan yang menjadi calon istrinya untuk tidak sekali-kali menanyakan rahasia kebiasaan hidupnya nanti dikala mereka hidup bersama. Bila Jaka Tarub berani menanyakan, akan ada kejutan yang tidak akan siap untuk dihadapinya.
Walau bingung, akupun merasa geli sendiri karena aku adalah Jaka Tarub saat ini. Mana berani aku menanyakan segala sikap anehnya walau pada dasarnya aku paham ini semua karena dipengaruhi kabar kebebasan Balai Sigalagala.
“Aku harap Gatotkaca datang dan meremukkan badannya yang tambun itu,” katanya saat itu dengan gemas.
__ADS_1
Sejak Erika datang ke rumah sakit untuk menjenguk dan menjagaku, kami semakin membina hubungan yang lebih intim. Erika sudah mengganti ‘saya’ dengan ‘aku’. Ini membuat komunikasi kami menjadi semakin santai. Ia hanya menggantikannya kembali menjadi ‘saya’ ketika menjadi presenter, melaksanakan tugasnya ketika mewawancaraiku.
“Kalau aku ingat-ingat ketika tangan-tangan kotor para berandalan itu memukuli Bapak di parkiran waktu itu, aku benar-benar terbakar. Andai aku punya kekuatan seperti Gatotkaca, sudah pasti kulumat habis tubuh mereka,” Nawangwulan dalam Erika muncul.
Jangan tanya sikap anehnya, walau dalam keadaan yang super sensitif dan sedang marah-marah, rupanya Erika memikirkan dan memperhatikanku dengan sungguh-sungguh. Dadaku bergemuruh. Aku begitu tinggi rasa.
Apakah sungguh itu yang Erika rasakan? Ia tidak rela melihatku diperlakukan dengan buruk oleh para preman dan ingin membelaku?
Aku ingin sekali berkomentar bahwa aku juga berpikir dan merasakan yang sama. Sebenarnya aku lah yang seharus menjadi sosok Gatotkaca dan melumatkan para preman sialan itu, sekaligus Balai Sigalagala, walau Gatotkaca sendiri sudah sungguh pernah melakukannya.
Ia awalnya sengaja menjemputku karena mengatakan ingin berbicara mengenai berita bebasnya Balai Sigalaga. Namun, tepat ketika aku masuh ke dalam mobil, alih-alih bercerita dan mengajakku untuk membahas berita itu, Erika malah menunjukkan kemarahan dan perubahan mood tersebut.
“Biar saya saja yang menyetir, Erika. Kamu bisa sambil bercerita,” kataku tadi.
Ketika memberikan kuliah, pikiranku masih tak tenang. Padahal yang sedang kacaubalau hatinya adalah Erika. Aku terbang melayang-layang untuk kesekian kalinya ketika Erika dalam kekesalan dan kejengkelannya dengan jujur menunjukkan perhatiannya kepadaku. Namun, di sisi lain, aku ikut prihatin dengan kondisinya. Ia sama kesalnya denganku, tetapi memiliki output yang lebih ekstrem.
__ADS_1
Sehari kemudian, berita buruk datang berkali lipat.
Ternyata keadaan stasiun televisi Erika kemarin malam juga tak membuat semuanya lebih baik. Hanya beberapa saat setelah Balai dibebaskan, ia sudah tidak mampu menjaga keangkuhannya. Dengan percaya diri ia segera mengadakan konferensi pers yang dihadiri oleh hampir semua media di negara ini.
Sebagai pelengkap kesombongannya, ia menggunakan rumah megahnya yang menjadi ajang berita panas yang tentu saja diburu oleh media. Para awak berita datang berkumpul di depan rumah Balai Sigalagala bak semut-semut yang mengerubungi tumpahan teh manis.
“Saya katakan kepada segenap masyarakat bangsa dan negara ini bahwasanya sudah terpampang dengan nyata bahwa saya tidak bersalah! Kepolisian telah dengan bijak telah membuktikan kepada kita semua kalau kebenaran akan menang,” ujar Balai Sigalagala membuka konferensi pers.
“Teman-teman bisa lihat saya sesungguhnya adalah korban dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh seseorang yang disebut Gatotkaca oleh teman-teman sekalian, yaitu para awak media. Satu-satunya yang saya setujui dari pembahasan yang berseliweran di televisi dan internet, adalah bahwa saya mengakui bahwa sosok yang disebut Gatotkaca itu memiliki kemampuan luar biasa yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Ornag itu mempunyai kekuatan fisik diatas rata-rata manusia biasa. Sekali lagi saya akui itu. Saya justifikasi kebenarannya,” ujar laki-laki bertubuh tambun tersebut.
Wajahnya mendongak menantang. Sepasang mata di balik kacamata berlensa perseginya itu memastikan semua kamera merekam mimik wajahnya.
“Bahkan perlahan, beberapa media menceritakan banyak sisi kepahlawanannya. Ini wajar, karena, sosok dengan kekuatan luar bias seperti itu tidak sering, atau mungkin tidak pernah terlihat ada di kehidupan kita sehari-hari. Maka, kemunculannya seperti memberikan banyak harapan bagi banyak orang juga. Namun saya ingin menjelaskan kepada khalayak ramai mengenai sebuah tanggung jawab. Orang dengan kemampuan luar biasa yang dianugerahkan kepadanya ternyata tidak disertai tanggung jawab. Saya tidak ingin merusak mimpi teman-teman dan saudara-saudaraku sebangsa sekalian. Tapi, inilah faktanya. Dengan seenak hati, Gatotkaca melakukan tindak kekerasan dimana-mana. Dengan kekuatannya ia tak ubah seperti rezim otoriter yang mempergunakan kekerasan untuk menindas masyarakat. Masyarakat kita sekarang diteror oleh kesewenang-wenangan dan kelaliman yang nyata, bukan lagi teori. Saya disini berdiri sebagai korban! Bayangkan apa yang bisa dilakukan orang dengan kekuatan semacam itu. Bukankah ia adalah ancaman sesungguhnya?” suara Balai keluar dengan sempurna dari mulutnya yang masih menunjukkan lebam sisa kejadian waktu itu. Mata Balai menyala-nyala di hadapan kamera.
__ADS_1