Sang Tetuka Adiwira

Sang Tetuka Adiwira
Hikayat Negarakrtgama Ihwal Tigapuluh


__ADS_3

Kompol Janaka mengernyit mendengar tentang perubahan code name atau julukan sosok fenomenal yang satu itu.


“Jadi, sekarang nama sosok itu adalah Tetuka?”


Tak lama, ia sendiri tersenyum seperti sadar akan sesuatu tanpa menunggu jawaban dari salah satu dari kamu.


“Ah, rupanya ia berpikir bahwa Gatotkaca belum pantas disematkan kepadanya, dan memilih menjadi sosok orok raksasa Gatotkaca yang masih liar dan belum dewasa. Tetuka!” ujarnya kemudian.


Aku dan Erika saling tatap dan sama-sama tersenyum. Kompok Janaka paham dengan cepat.


“Lalu, mengapa Anda mengatakan bahwa keadaan semakin rumit, Kompol Janaka?” Edo kali ini berinisiatif bertanya.


“Pembersihan dan perbaikan terstruktur institusi ini dari dalam yang dilakukan saya dan orang-orang kepercayaan saya terkagetkan oleh ‘kegiatan’ Gatotkaca, ehm … maksud saya Tetuka. Ia mengobrak-abrik kebusukan di dalam institusi ini.”


Erika angkat bicara, “Bukannya hal ini menguntungkan Anda, Pak Janaka? Tugas Anda jadi lebih mudah? Koreng-koreng Kepolisian sudah terkuak. Bila Anda memang ingin memperbaiki keadaan institusi, bukankah ini saat yang tepat?” Ini Erika sampaikan namun tanpa terdengar sinis.


Bagaimanapun, Erika harus sadar bahwa posisinya adalah sebagai seorang presenter acara berita dan talkshow yang masih merupakan bagian dari pers, media, dan jurnalisme yang harus bersikap netral tanpa menunjukkan kecenderungan untuk memihak salah satu sisi.


“Maaf Kompol Janaka,” Hermansyah yang pada dasarnya pendiam nampaknya ingin ikut serta dalam perbincangan ini.


Lucunya, ia mengangkat jari telunjuknya seperti anak sekolah yang meminta inzin untuk bertanya.


“Bagaimana, hmmm .. saya lupa nama kamu,” Kompol Janaka memicingkan mata mencoba mengingat nama Hermansyah.

__ADS_1


“Saya Hermansyah pak.”


“Ya, Hermansyah. Bagaimana, Hermansyah?”


“Hmm ... begini Kompol Janaka. Benar juga kata Erika, bukankah polisi juga sebenarnya terbantu dengan adanya Tetuka? Menangkap koruptor, perampok, bahkan dia meredakan chaos massa,” kata Hermansyah perlahan.


Tubuh jangkungnya menunduk-nunduk, mencoba terdengar sopan di hadapan pejabat Kepolisian ini.


“Oh, tentu saja, tentu saja Hermansyah! Kami sangat terbantu. Saya bahkan merasa positif bahwa Kepolisian akan menjadi institusi yang kembali dicintai masyarakat, dipercaya dan menjalankan kewajibannya melindungi dan mengayomi masyarakat,” Kompol Janaka mengangguk-angguk keras.


“Terimakasih kepada media karena telah menyampaikan rasa terimakasih kami kepada sang Tetuka. Bahkan saya ingin kalian terus menyampaikan kepada Tetuka melalui media bahwa Kepolisian masih berterimakasih terhadap semua jasa-jasanya dan kami ingin ia terus bekerja sama dengan kami.”


“Lho, bukannya Kepolisian, maaf Kompol Janaka ... ee ... memusuhi Tetuka?” Hermansyah melanjutkan.


“Itulah mengapa saya mengatakan entah semua ini menjadi lebih gampang atau merumit. Ada beberapa memang yang merasa terancam dengan kemunculan Tetuka yang tiba-tiba dan sangat ajaib ini. Bahkan mungkin baru pertama kali di dunia. Saya sendiri bahkan heran, mengapa dunia belum menyoroti fenomena Tetuka ini. Hanya saja, bila ada yang terancam, pasti ada pula yang bersorak, bukan? Saya di satu sisi merasa sangat terbantu, di sisi lain saya tidak bisa mengacuhkan posisi saya sebagai penegak hukum yang berdiri berlandaskan hukum dan berjalan berdasarkan hukum.”


“Alasan penegak hukum adalah alasan klise. Bagaimana setiap anggota Kepolisian bisa berkata seperti itu bila merekalah yang melanggarnya?” aku kembali menekankan argumentasiku.


Kompol Janaka menahan senyumnya.


“Lalu apakah salah bila saya sebagai seorang anggota polisi berusaha untuk berjalan di jalurnya yang benar, yaitu hukum?” respon Kompol Janaka.


Kami terhenyak. Bagaimanapun ucapan Kompol Janaka mengandung kebenaran. Bagaimana bila ia adalah salah satu orang yang memang ingin memperbaiki keadaan ini?

__ADS_1


“Tapi tentunya, Anda mengundang kami disini bukan sekedar untuk menitipkan kata-kata Anda kepada Tetuka, ‘kan?” Erika bertanya.


Kompol Janaka mengangguk.


“Saya pertama-tama ingin kalian mempercayai saya. Ini memang tidak mudah. Tapi saya punya alasan untuk itu.”


Akhirnya menyemburlah penjelasan Kompol Janaka. Ia ingin agar sang Tetuka dapat bekerja sama dengan Kepolisian untuk membongkar kejahatan di dalam institusi maupun negara. Hanya saja, masalahnya, sampai sekarang Tetuka masih dianggap berbahaya. Ia masih merupakan sosok yang misterius, kekuatannya tidak bisa diukur, dan yang lebih parah tidak ada komunikasi diantara mereka.


Sang Tetuka sendiri masih merupakan sosok fenomenal. Ia dicintai sekaligus ditakuti. Sedangkan, di sisi lain, aparat harus ikut alur hukum. Bila tidak, berarti apa gunanya apa yang telah dilakukan sang Tetuka selama ini? Bukankah ia menangkap oknum-oknum aparat yang melanggar hukum? Sedangkan aparat yang benar harus tetap berjalan di koridor hukum, atau semuanya akan menjadi paradoks atau ironis dan tak bermakna sama sekali karena para penegak hukum melanggar hukum itu sendiri.


Lebih jauh, Kompol Janaka meminta kami memfasilitasi pertemuan aparat dan sang Tetuka. Aparat ingin mengetahui siapa dan bagaimana sang Tetuka ini sebenarnya dengan tujuan untuk menghindari semua kesalahpahaman saat ini maupun di masa mendatang.


Erika menggeleng pelan, meremas tanganku dari bawah meja. Ia tidak yakin dengan hal ini. Matanya berbicara kepadaku. Sepasang mata bulatnya meredup, seakan mengatakan, “Jangan lakukan ini.”


Aku membalas remasan tangannya. Aku paham, ini terlalu riskan. Kami tidak bisa langsung percaya pada orang ini, seberapa teduh wajahnya, seberapa meyakinkanpun kata-katanya.


“Kalau cuma menyampaikan ‘pesan persahabatan’ antara aparat dan Kepolisian, saya rasa kami tidak akan ada masalah. Mengenai hubungan yang lebih jauh, tidak ada yang bisa menjamin sang Tetuka akan mau muncul di publik, apalagi secara khusus menjalin komunikasi dengan aparat. Lagipula, saya tidak cukup percaya diri mengatakan kalau saya memiliki hubungan dekat dengan Tetuka, yah .. walau memang dalam beberapa occasion Tetuka memang sungguh mendatangi saya,” kataku yang sepertinya membuat Erika menjadi sedikit lebih tenang.


Mana mau aku membuat kekasihku itu terbebani dengan kompleksitas permasalahan ini. Just one at a time.


Anehnya, Kompol Janaka bukan tipe penegak hukum yang selalu mengejar keinginannya. Ia tidak terus-terusan menekan aku dan Erika, atau mencoba meyakinkan Edo dan Hermansyah untuk mendukung keinginan dan rencananya. Sebaliknya, Kompol Janaka mengangguk-angguk pasti dan menjelaskan bahwa ia sangat paham dengan pemikiranku.


Atau mungkin perspektifku selama ini tentang para penegak hukum yang salah. Bahwa mereka adalah manusia-manusia yang dilatih dan dibekali dengan kekuatan kontrol, kuasa dan pemaksaan yang sudah mendarah daging.

__ADS_1


Kompol Janaka malah kembali menjelaskan tentang betapa keberadaan dan kemunculan sang Tetuka membawa angin segar dalam penindakan hukum serta perubahan besar-besaran institusi kepolisian. Tidak dipungkiri banyak yang kebakaran jenggot dan panik luar biasa. Di sisi lain, kemunculan sang Tetuka adalah harapan, yang mau tidak mau, sebagai penegak hukum yang merasa berjalan di jalan yang benar, Kompol Janaka mengatakan bahwa ia sangat membutuhkan hal itu, sama seperti yang lain.


Tegukan terakhir kopi sang Kompol akhirnya menutup pertemuan kami hari itu.


__ADS_2