Sang Tetuka Adiwira

Sang Tetuka Adiwira
Hikayat Negarakrtgama Ihwal Duapuluh Sembilan


__ADS_3

Berita yang beredar di media di kemudian hari menjelaskan bahwa ketiga orang Rwanda lainnya dilemparkan dari rumah tersebut tepat di depan moncong senjata regu polisi satuan khusus anti narkoba. Dalam beberapa detik pun beberapa anggota regu segera menyusul dua orang yang pingsan menghantam tanah di bukit tempat sang cameraman menempatkan posisi. Anggota polisi tersebut menahan dua orang pengedar itu dan langsung mengusir si jurnalis dan kameranya namun sudah dengan gambar terekam secara sempurna.


Berita juga menjelaskan bahwa senjata-senjata gembong tersebut berhasil dirampas, sedangkan gembong narkoba tersebut berhasil dilumpuhkan hanya dalam beberapa detik. Dan yang paling menggemparkan adalah bahkan sampai ketiga pengedar narkoba yang masih sadar tersebut ditahan polisi, dalam perjalanan mereka dari TKP ke mobil tahanan, belasan kamera pers merekam para penjahat yang telah terborgol dan ditempel oleh para anggota regu satuan khusus tersebut menangis, berteriak dan meracau mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris dan Prancis, “Il était un diable, devil ... devil, demon. Un démon!” .


Mereka meracau bahwa mereka tadi berhadapan dengan setan, iblis. Aku sedikit mampu berbahasa Prancis hingga sedikit banyak aku dapat menangkap apa yang mereka katakan.


Mereka juga mengatakan mereka ketakutan dan tidak mau mati, “Je ne veux pas mourir. Please, let me go ...” aku tidak mau mati, lepaskan aku.


Lucu rasanya mendengar mereka mengatakan tidak ingin mati, toh dengan ditangkap Kepolisian, kemungkinan hukuman berat sampai pada hukuman mati sudah menunggu mereka.


Ini sebenarnya adalah teriakan syok mereka karena berhadapan dengan orang seperti sang Tetuka. Aku bertaruh mereka memberondong Tetuka saat itu, tetapi tak dapat melukai kulitnya sedikitpun sebelum mereka dihajar habis olehnya. Itulah sebabnya mereka menganggap sosok Tetuka adalah setan atau iblis yang turun ke bumi, bukannya sekadar manusia biasa.


Dengan video dan beragam berita mengenai sepak terjang Tetuka membuat dukungan rakyat semakin menjadi. Mereka menganggap gerakan Tetuka sangat efektif, cepat dan tepat. Pengepungan Kepolisian di rumah-rumah atau daerah yang dianggap sebagai sarang gembong narkoba atau ******* yang biasanya memerlukan waktu yang cukup lama dapat segera dipersingkat dan tidak terlalu lama meresahkan dan mengganggu kegiatan masyarakat. Para netizen memberikan dukungan penuh melalui postingan di blog, fan page di media sosial maupun website.


Polisi melalui Kompol Janaka tidak malu-malu lagi mengucapkan terimakasih kepada Gatotkaca karena membantu Kepolisian dan mempersingkat waktu penggerebekan akan tidak memakan korban dan biaya tentunya. Meski tentu saja ia juga tetap menyampaikan bahwa alangkah lebih baik dan bijaksana bila sang Tetuka bekerja sama secara ‘resmi’ dengan aparat Kepolisian dan tidak main hakim sendiri atau sembunyi-sembunyi. Ini agar menghindari pelanggaran hukum dan ketidaknyamanan di masyarakat serta berbagai pihak yang terkait dalam aksi ini.


Saat itu Kompol Janaka terlihat sangat rapi dan elegan dengan kemeja lengan panjang tanpa seragam Kepolisiannya. Le Petit Café menjadi saksi pertemuan kami. Aku, Erika, Edo, Hermansyah dan Kompol Janaka duduk mengitari meja bundar dimana kami biasanya berkumpul. Walau sedikit bertambah banyak dan padat, suasana tidak menjadi sesak, masih tetap nyaman.

__ADS_1


Kompol Janaka berinisiatif untuk melakukan pertemuan denganku lagi dan anggota pers yang dianggapnya dapat dipercaya, yaitu stasiun televisi Erika yang sudah biasa menanyangkan berita mengenai Gatotkaca atau sang Tetuka. Apalagi aku dan Erika memiliki pengalaman langsung dengannya, malah Kepolisian dan beberapa pihak menganggap kami adalah orang kepercayaan sang Tetuka itu sendiri. Pertemuan ini untuk menindaklanjuti tawaran kerjasamanya tempo hari.


“Saya sudah mulai mendapatkan banyak kemajuan dalam kasus oknum Kepolisian yang bermain di belakang Balai,” Kompol Janaka berkata sembari menyesap kopi hitamnya.


Cangkir itu masih tertahan di udara. Barulah setelah tegukan yang dalam, ia letakkan cangkir itu di atas meja.


“Kepolisian membutuhkan kalian, para awak media dan Anda tentunya Pak Negara,” Kompol Janaka melanjutkan.


Aku sebenarnya masih belum paham arah pembicaraan ini. Beberapa waktu yang lalu, Kompol Janaka menghubungiku. Ia meminta bertemu untuk membahas sang Tetuka secara personal katanya.


Berkali-kali aku menjadi bulan-bulanan polisi. Bolak-balik dimintai keterangan mengenai beragam kasus yang terjadi beberapa saat yang lalu dan tentu saja hubungannya dengan sang Tetuka.


Entah rencana apa yang sedang dijalankan oleh Kepolisian lagi kali ini. Namun begitu, aku tak mungkin menolak ajakan Kompol Janaka. Karakter Kompol Janaka yang meneduhkan dan bersahabat cukup membuat aku, dan Erika tentunya, sedikit membuka diri. Melihat dari ‘jabatannya’, jarang-jarang seorang aparat polisi semacam dia melakukan pendekatan dengan cara seperti ini. Ia berjanji hanya ingin berdiskusi denganku tanpa membawa embel-embel Kepolisian dan ia juga tidak akan membawa serta bawahan atau aparat polisi manapun.


Itulah sebabnya, aku juga bernegosiasi bahwa Erika, Edo dan Hermansyah juga akan ikut serta. Mereka adalah bagian dari media. Ini kumaksudkan bila memang ada maksud terencana yang super jahat dari Kepolisian, aku tidak sendirian.


Syukurnya, Kompol Janaka sama sekali tidak keberatan. Bahkan ia mengatakan memang akan melibatkan media nantinya dalam hal ini.

__ADS_1


Ketika aku ceritakan ini pada Erika, Erika pun bertanya-tanya mengenai intensi Kepolisian atau bila memang benar, intensi kompol Janaka sendiri secara pribadi.


“Come on, Pak Negara, cops are cops. Mereka pasti tetap memiliki sebuah rencana terstruktur. Kita tidak tahu apa yang Janaka inginkan, tapi apakah Bapak nggak curiga sama sekali?”


“Saya tidak bilang ‘sama sekali’, Erika. Saya hanya merasa kita perlu memberikan Janaka kesempatan. Saya hanya ingin tahu bagaimana pola pikirnya,” aku mencoba membuat Erika mengerti.


Erika masih menunjukkan ketidaknyamanannya, namun kami perlu tahu apa sebenarnya maunya Kompol Janaka. Perdebatan yang cukup panjang ini akhirnya menghasilkan kesepakatan.


Maka, disinilah kami sekarang.


Edo dan Hermansyah duduk rapi namun sepertinya siap menangkap kondisi dengan telinga jurnalis mereka yang berdiri. Kami sepakat semua masih off the record. Tetapi seperti kata Kompol Janaka, media akan diikutsertakan nanti. Itu janjinya.


“Saya tahu Kepolisian sedang terpuruk karena beragam isu yang mendera. Institusi yang korup, oknum yang menyebar rasa taku dengan beragam kelicikan,” Kompol Janaka memandang kami semua.


“Tapi masih banyak orang-orang di dalam Kepolisian yang ingin memperbaiki kondisi. Suka atau tidak suka, percaya atau tidak, saya salah satunya. Usaha untuk memperbaiki institusi ini kemudian entah menjadi semakin rumit, atau malah semakin gampang dengan kemunculan orang yang kalian sebuat Gatokaca itu.”


“Tetuka, Pak Janaka. Namanya Tetuka sekarang,” ujarku.

__ADS_1


__ADS_2