Sang Tetuka Adiwira

Sang Tetuka Adiwira
Hikayat Negarakrtgama Ihwal Duabelas


__ADS_3

Rupa-rupanya, Edo dan Hermansyah memang sengaja mengajak aku dan Erika untuk mengadakan obrolan kecil tetapi serius ini. Kedua jurnalis yang bekerja di stasiun televisi yang sama dengan Erika dan cukup akrab dengannya, mengaku merasa perlu menyampaikan semuanya kepada kami berdua.


Maka, Erika kembali membawa kami ke Le Petit Café. Diluar perilaku terakhirku pada Edo dan Hermansyah tempo hari, dimana aku membentaknya untuk tidak mewawancaraiku, ternyata Edo sudah sama sekali melupakan kejadian itu. Aku yang sebenarnya merasa tak enak, tapi Edo dan Hermansyah nampaknya mewajarinya dan sudah melupakannya. Apalagi sekarang mereka menjadi pujaan pers dan tempat bekerja mereka di stasiun televisi.


Edo dan Hermansyah duduk di depan aku dan Erika yang sekarang duduk bersebelahan. Sesuai namanya, Le Petit Café memang merupakan café yang kecil namun cozy. Kami berempat merasa hangat berdempetan di sebuah meja persegi panjang kecil dengan empat bangku di sisi-sisinya. Kehangatan itu lebih kentara karena aku berada tepat di sisi Erika.


Aroma tubuhnya semerbak di hidungku. Berkali-kali lengannya menyentuh lenganku. Kerap pula bila percakapan semakin intens, wajahnya berada dekat sekali dengan wajahku. Kenyamanan café ini makin membuatku semakin tenggelam dalam keintiman diriku dan Erika.


Edo bercerita dengan semangat yang menyala-nyala dengan sesekali di timpali oleh Hermansyah yang memang nampaknya seorang yang lebih tenang dan pendiam bila dibandingkan dengan Edo. Namun Hermansyah pun kerap tertawa geli ketika Edo membahas bagian-bagian detil dari kejadian yang mereka alami tersebut. Ia tertawa karena seakan tak percaya dengan apa yang telah mereka alami. Erika, yang merupakan teman sejawat Edo dan Hermansyah juga adalah sahabat karib mereka, meski Erika adalah presenter di studio sedangkan Edo dan Hermansyah adalah reporter lapangan. Terutama Edo yang bahkan telah mengenal Erika sejak masa mereka duduk di bangku perkuliahan yang sama di Fakultas Komunikasi. Dari percakapan kami ini, sedikit banyak aku mengetahui bahwa mereka berdua dikenal sebagai sepasang sahabat kental.


Semakin lama megobrol, tanpa aku sangka, aku sadar bahwa ketiga orang ini sama-sama merasa percaya kepadaku. Mereka melihat sosokku sebagai sosok yang dapat dipercaya dan berkualitas, baik sebagai seorang narasumber dan tamu di stasiun televisi mereka, sebagai ilmuwan dan pendidik, serta tentunya sebagai pribadi. Oleh sebab itu, mereka sengaja mengajak Erika dan aku dalam obrolan mereka ini. Apalagi aku sendiri telah menjadi seorang tokoh yang – meminjam istilah Edo – significant dalam fenomena luar biasa ini.

__ADS_1


Kedua rekan jurnalis ini memiliki ciri-ciri fisik dan sifat yang bertolak belakang. Edo memiliki tubuh yang lebih kecil dibanding Hermansyah, walau tidak bisa dikatakan pendek. Wajah Edo cukup menarik dan photogenic, itu yang menyebabkan ia didaulat menjadi reporter acara untuk meliput begaram berita. Lain halnya dengan Hermansyah yang jangkung namun berisi. Bentuk tubuhnya memungkinkan Hermansyah menggotong kamera dengan mudahnya serta membuatnya tanpa banyak usaha untuk menyorotkan kameranya pada beragam kejadian yang sulit dishoot. Dengan gesit ia akan mengarahkan kameranya dalam berbagai posisi.


Tiba-tiba Edo terdiam, matanya menerawang, kemudian menatapku dengan tajam sembari mengatakan, “Pak Negara, sepertinya kita harus mengubah istilah superhero menjadi Gatotkaca.”


Alisku berkerut, dan tak lama aku tertawa.


“Kenapa begitu Edo? Karena ia terbang seperti sosok tokoh Gatotkaca dan berasal dari Indonesia? Kenapa tidak Superman saja? Superman Indonesia misalnya. Toh, kita belum benar-benar tahu siapa dia. Apakah ia berbicara bahasa Indonesia? Atau Jawa mungkin? Atau apakah ia memang orang Indonesia, atau malah ia adalah alien?” Aku tertawa lagi.


Edo mengubah kata ‘gue’ dengan ‘saya’ ketika ia berbicara mengalamatkannya langsung padaku. Ini berbeda ketika ia secara menggebu-gebu bercerita merujuk kepada kami semua. Mungkin ia sedang menunjukkan rasa hormat dan keseriusannya padaku. Lagipula, sebagai seorang reporter, tidak susah baginya untuk memiliki kemampuan berbahasa yang baik, men-switch dari satu aksen ke aksen lain, termasuk mengubah ke bahasa lain yang dikuasai bila diperlukan.


Sebagai seorang Sosiolog, pemerhati budaya serta pendidik, apalagi aku memang berdarah Jawa, pengetahuanku akan beragam legenda, mitos dan budaya sangatlah baik. Mengenai wayang, selain penikmat, aku juga beberapa kali menuliskannya dalam buku sebagai pembanding atau dasar pola pikir masyarakat Jawa dalam kehidupan mereka sehari-hari.

__ADS_1


“Baik, baik. Apa yang mau kamu tahu, Do? Soalnya kalau kita bahas soal Gatotkaca apalagi wayang secara mendetail, seharian tidak akan cukup.”


“Pak Negara, tolong ceritakan kemampuan terbangnya. Dan yang saya paling penasaran adalah di wayang kulit Jawa, Bali dan wayang golek, ada bagian di punggungnya yang mencuat keatas. Apa itu sebenarnya, Pak?” Edo semakin intens mempersiapkan dirinya untuk mendengar penjelasanku. Ia berubah menjadi serius.


“Begini Edo. Sebenarnya wayang kulit maupun golek yang sering kita lihat tersebut memiliki bentuk simbolis. Ukiran atau motif di wajah dan tubuh menggambarkan prilaku, sifat dan tabiat tokoh tersebut. Begitu pula pakaian yang mereka kenakan. Kapan-kapan akan saya ceritakan lebih mendetail mengenai hal ini. Namun yang pasti, pada tokoh Gatotkaca, ia memiliki kekuatan yang luar biasa karena dilahirkan oleh seorang ibu dari golongan raksasa bernama Dewi Arimbi. Ayahnya sendiri adalah seorang sakti berbadan besar seperti raksasa pula, putra kedua keluarga Pandawa yang dikenal sebagai Bima atau dalam bahasa Jawa, Werkudara atau Wrekudara. Begitu saktinya kedua orangtua Gatotkaca membuat ia menjadi idola para dewa yang ketika ia lahir, semua menyumbangkan kesaktian mereka. Salah satunya adalah seperangkat pakaian pusaka yang diberikan oleh Batara Guru sendiri, raja para dewa di kayangan. Pakaian tersebut adalah Caping Basunanda, Kotang Antrakusuma, dan Terompah Padakacarma. Caping Basunanda adalah semacam penutup kepala atau mahkota yang ia gunakan sehingga walau panas ia tidak akan kepanasan dan bila hujan ia takkan basah kehujanan. Itulah kesaktian Caping Basunanda.


Aku menyesap kopi, kemudian melanjutkan.


“Kotang Antrakusuma adalah pakaian serupa jubah, atau kain yang diikat di bahu kiri dan kanannya. Sedangkan Terompah Padakacarma adalah selop atau sandal yang ia gunakan agar dapat terbang. Bagian paling menarik adalah cara kerja Kotang Antrakusuma dan Terompah Padakacarma untuk membuatnya terbang ke angkasa. Ketika ia terbang, ia akan menepuk bahunya sendiri dan menolakkan kaki kebumi. Kain atau jubahnya akan berkibar di angkasa,” Aku enggan menarik nafas untuk terus melanjutkan cerita ini.


“Nah, kain atau jubah itulah yang dililitkan di bagian belakang tubuh Raden Gatotkaca. Ketika ia terbang, dalam wayang kulit dilambangkan kain tersebut mencuat keatas, menlambangkan ia sedang terbang dan mengambang di angkasa. Jadi pada dasarnya, apa yang kita lihat sebagai bagian punggung yang mencuat itulah jubah Raden Gatotkaca yang berkibar di udara, mungkin tak ubahnya seperti jubah merah dalam tokoh Superman.”

__ADS_1


__ADS_2